Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

‎Tak Hanya Kebo Bule, Burung Perkutut Juga Hewan Sakral dalam Budaya Jawa

Akhmad Nur Khoiri • Minggu, 29 Juni 2025 | 02:14 WIB

Tak hanya kebo bule, burung perkutut juga menjadi hewan sakral di kepercayaan orang Jawa.
Tak hanya kebo bule, burung perkutut juga menjadi hewan sakral di kepercayaan orang Jawa.

Trenggaleknjenggelek – Dalam kebudayaan Jawa, hewan tak hanya dilihat dari sisi biologis atau nilai ekonominya.

Banyak hewan justru ditempatkan dalam posisi sakral, spiritual, bahkan dianggap memiliki kekuatan gaib yang mempengaruhi kehidupan manusia.

Salah satu hewan yang sejak dahulu dipandang istimewa adalah burung perkutut.

Hewan mungil ini dipercaya memiliki keterkaitan dengan dunia spiritual, menjadi simbol status sosial, dan sekaligus perantara antara alam kasat mata dan dimensi gaib.

‎Memelihara perkutut bukan sekadar soal kegemaran. Di kalangan masyarakat Jawa, perkutut telah menjadi simbol keberuntungan, ketenteraman, dan kewibawaan.

Tak heran bila burung ini kerap ditemui di rumah-rumah para tokoh, abdi dalem, atau bahkan petinggi keraton.

Bagi pemiliknya, suara kicauan perkutut bukan hanya penghibur, melainkan dipercaya sebagai pertanda—baik atau buruk—tergantung jenis dan waktu kicauannya.

Lebih jauh, kepercayaan terhadap katuranggan atau ciri fisik perkutut, seperti warna bulu dan bentuk tubuh, dianggap menentukan nasib pemiliknya.

Ada perkutut yang diyakini mendatangkan rezeki, ketenangan batin, hingga perlindungan dari gangguan gaib.

‎Namun, perkutut bukan satu-satunya hewan yang dipandang sakral dalam tradisi Jawa.

Kebo bule atau kerbau putih yang terkenal dari tradisi Keraton Surakarta juga menempati posisi khusus.

Dalam konteks upacara Sekaten atau Grebeg Mulud, kebo bule bahkan dikawal dan diperlakukan bak pusaka keraton.

Diyakini sebagai titisan dari leluhur atau hewan penjaga tanah Jawa, keberadaan kebo bule menjadi simbol kekuatan spiritual sekaligus perlambang kesuburan dan ketenteraman alam.

‎Selain perkutut dan kebo bule, dalam tradisi lokal juga dikenal beberapa hewan yang dianggap sakral di komunitas tertentu.

Misalnya, macan tutul sebagai simbol penjaga hutan keramat, ular besar yang dipercaya sebagai penunggu sungai atau gua, hingga ayam cemani yang digunakan dalam ritual spiritual tertentu karena diyakini mampu menjadi media komunikasi dengan leluhur.

‎Kesakralan hewan-hewan ini lahir dari nilai-nilai filosofis dan spiritual masyarakat Jawa yang kaya akan simbol dan makna.

Di balik kepercayaan itu tersimpan pandangan hidup yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia gaib.

Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa, merawat dan menghormati hewan sakral bukan hanya soal budaya, melainkan bagian dari menjaga harmoni semesta.

‎Dengan demikian, burung perkutut bukan sekadar peliharaan, melainkan bagian dari warisan spiritual dan kebudayaan yang terus lestari.

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan ini tetap hidup, meski ditantang oleh modernitas dan rasionalitas zaman.

Dan di balik kepakan sayapnya yang mungil, perkutut terus membawa pesan-pesan tak kasat mata yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menjunjung tinggi kearifan lokal. (kho)

Gubernur Khofifah Indar Parawansa
Gubernur Khofifah Indar Parawansa
Ketua KONI Jatim Muhammad Nabil
Ketua KONI Jatim Muhammad Nabil
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#kebo bule #perkutut #jawa