TRENGGALEKJENGGELEK – Di tengah derasnya arus modernisasi yang menggerus tradisi, seni budaya wayang kulit di Trenggalek justru menunjukkan denyut kehidupan yang kuat.
Hal ini tercermin dalam pergelaran wayang kulit dalam agenda Suroan di Sanggar Seni Tresna Asih, Desa Sugihan, Kecamatan Kampak, Jumat malam (18/7), yang menandai kebangkitan generasi baru dalang muda.
Tiga dalang muda berbakat, yakni Ki Aldi Hamid, Ki Syamsul Gondo Prasetyo, dan Ki Yudha Setyawan, tampil memukau membawakan lakon wayang kulit Pandhawa Ngalang Dharma.
Tidak hanya menyajikan pertunjukan penuh makna, penampilan mereka juga menjadi simbol lahirnya era baru dalam dunia pedalangan Trenggalek.
Dalam kesempatan tersebut, mereka bersama sejumlah dalang muda lainnya dikukuhkan sebagai anggota Padhang Ati atau Paguyuban Dhalang Anom Trenggalek Nyawiji.
Paguyuban ini menjadi wadah pembinaan dan pelestarian seni pedalangan Trenggalek, khususnya di kalangan generasi muda.
Ketua Sanggar Seni Tresna Asih, Ki Marsudi, menyampaikan bahwa keberadaan Padhang Ati adalah langkah konkret dalam pengaderan dalang muda.
Ia menegaskan bahwa pelestarian seni tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan semata, tetapi harus disertai regenerasi dan pendampingan berkelanjutan.
“Melalui pengaderan ini, kami ingin memastikan bahwa seni wayang kulit tetap hidup di Trenggalek. Generasi muda harus diberi ruang dan kesempatan untuk tampil serta berkembang,” ujar Ki Marsudi.
Ia juga menyebut, Padhang Ati menjadi angin segar bagi dunia seni tradisi, menjembatani kecintaan generasi muda terhadap seni warisan leluhur.
Keberadaan dalang-dalang muda ini menjadi penyegar sekaligus harapan untuk mempertahankan eksistensi wayang kulit di Bumi Menak Sopal.
Pergelaran Suroan di Trenggalek ini tidak hanya menampilkan wayang kulit, tetapi juga sejumlah kesenian lokal lain dari murid sanggar seni yang memperkaya acara.
Hal ini menunjukkan bahwa semangat pelestarian budaya tidak berhenti pada satu cabang seni, melainkan menyentuh berbagai lini kesenian daerah.
Dengan langkah konkret seperti ini, harapan agar seni tradisi di Trenggalek tetap hidup dan tumbuh di hati masyarakat tampaknya bukan sekadar angan-angan.
“Wayang kulit bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan. Dan kami ingin terus merawatnya,” pungkas Ki Marsudi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana