TRENGGALEKJENGGELEK - Trenggalek boleh menasbihkan Turangga Yaksa sebagai ikon budaya. Namun kesenian ini kalah tua dengan Jaranan Pegon.
Jaranan Pegon merupakan bentuk jaranan tertua yang berkembang di Trenggalek dan telah dikenal sejak zaman dahulu.
Baca Juga: Hidupkan Kembali Tarian Klasik Niatan Putri Kusumawardani Buka Sanggar Tari
Keberadaan Jaranan Pegon menjadi bukti kekayaan budaya masyarakat Trenggalek yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Meski kini nama Turangga Yaksa lebih mencuat di kalangan masyarakat luas, Jaranan Pegon tetap menjadi akar dari seluruh perkembangan seni pertunjukan jaranan di wilayah ini.
Baca Juga: Mengenal Kesenian Jaranan Asli Trenggalek Turonggo Yakso Simbol Keperkasaan dan budaya lokal
Dikutip dari Jurnal Seni Tari Akulturasi Pertunjukan Jaranan Pegon di Trenggalek karya MOS Sugiarto dan Setyo Yanuartuti, Jaranan Pegon memiliki kekhasan dalam struktur pertunjukannya.
Gerakan tari (ukel), tabuhan gending, dan busana penari mengacu pada gaya Wayang Wong Keraton Surakarta.
Cerita yang diangkat pun bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari narasi klasik berupa “pethilan” adegan budhalan.
Yaitu adegan keberangkatan para kesatria berkuda menuju medan laga yang melambangkan semangat, keberanian, dan nilai-nilai keprajuritan.
Baca Juga: Jatuh Cinta pada Tarian Jawa Kini , jadi pelopor seni Trenggalek
Hal ini berkaitan erat dengan sejarah Patih Singoyudho dari Trenggalek yang tercatat pernah menjabat sebagai patih yang diangkat Keraton Surakarta Hadiningrat di Brang Wetan.
Seni Jaranan Pegon tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga sarana ritual masyarakat dalam berbagai upacara adat maupun hajatan penting.
Seperti diungkapkan oleh Soedarsono (2002), seni pertunjukan tradisional memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai sarana ritual, hiburan pribadi, dan presentasi estetis—fungsi yang semuanya terpenuhi dalam pertunjukan jaranan pegon.
Di tengah arus modernisasi, sejumlah komunitas dan grup seni di Trenggalek masih konsisten menjaga tradisi ini.
Beberapa di antaranya adalah Manggolo Yudho, Kridha Budhaya, Nogo Daruno, Surya Putra Kencana, Wahyu Seto Kumitir, dan Madyo Budoyo.
Kini sebagian besar pelaku seni dari grup-grup tersebut tergabung dalam Sanggar Tari Pawon yang aktif dalam pentas budaya maupun pelatihan seni.
Mereka tetap mempertahankan pakem Jaranan Pegon dari segi gerak, gending, hingga kostum, sebagai bentuk dedikasi terhadap pelestarian budaya leluhur.
Dengan nilai sejarah yang kuat, kekayaan estetika yang mendalam, serta dukungan komunitas yang solid, Jaranan Pegon tidak hanya menjadi warisan seni pertunjukan tertua di Trenggalek.
Tetapi juga simbol jati diri dan kebanggaan daerah yang layak untuk terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda.
Editor : Dharaka R. Perdana