Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Jaranan Pegon Trenggalek: Akulturasi Wayang Orang dan Jaranan Breng, Ini Maknanya

Dharaka R. Perdana • Rabu, 30 Juli 2025 | 19:01 WIB

Pertunjukan Jaranan Pegon di sebuah desa di Provinsi Bengkulu.  (FACEBOOK MARGO JATI MULYO)
Pertunjukan Jaranan Pegon di sebuah desa di Provinsi Bengkulu. (FACEBOOK MARGO JATI MULYO)

TRENGGALEKJENGGELEK - Jaranan Pegon Trenggalek adalah bentuk kesenian tradisional yang hidup dan berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat Trenggalek.

Pertunjukan Jaranan Pegon Trenggalek menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan keunikan yang berbeda dari bentuk jaranan lainnya.

Baca Juga: Jaranan Pegon, Seni Tradisional Tertua yang Masih Lestari di Trenggalek, Ini Ciri Khasnya

Salah satu kekhasan Jaranan Pegon Trenggalek terletak pada busananya yang mengadopsi kostum Wayang Wong serta gerakan tari yang gemulai namun tegas, mencerminkan perpaduan budaya yang harmonis.

Pertunjukan ini merupakan hasil dari proses akulturasi budaya antara wayang orang gaya Mangkunegaran Surakarta dan Jaranan Breng, bentuk awal jaranan rakyat di wilayah Mataram termasuk Trenggalek.

Baca Juga: Mengenal Kesenian Jaranan Asli Trenggalek Turonggo Yakso Simbol Keperkasaan dan budaya lokal

Wayang Wong, yang diciptakan oleh Raden Mas Said (Mangkunegara I), bukan sekadar pertunjukan estetis tetapi juga media perjuangan dan penyampaian pesan moral.

Sementara itu, Jaranan Breng berasal dari tradisi Seton atau latihan prajurit berkuda yang mempertontonkan ketangkasan dan kekuatan.

Baca Juga: Bentuknya Mirip, Tapi Hal Berikut yang Membedakan Slenthem dan Gender dalam Gamelan Jawa

Akulturasi terjadi saat nilai-nilai estetis dan simbolik dari Wayang Wong bertemu dengan semangat rakyat dalam tradisi Jaranan Breng, membentuk seni pertunjukan baru yang disebut Jaranan Pegon.

Dalam pertunjukannya, Jaranan Pegon mempertahankan bentuk busana Wayang Wong seperti irah-irahan dan praba, namun dibawakan oleh penari yang menunggang kuda kepang berbahan bambu (pegon).

Baca Juga: 6 Jenis Kendang dalam Gamelan Jawa, Nomor 2 Sering Mengiringi Campursari

Gerakannya pun bukan hanya meniru, tetapi memadukan gaya tari keraton yang halus dengan pola dinamis khas jaranan rakyat.

Proses ini disebut sinkretisme, yaitu akulturasi budaya yang tidak menghilangkan ciri khas masing-masing unsur, tetapi justru menciptakan bentuk baru yang kuat dan otentik.

Keberadaan Jaranan Pegon menjadi bukti bahwa masyarakat Trenggalek terbuka terhadap budaya luar namun tetap berakar pada tradisi lokal.

Seni ini menjadi simbol identitas daerah, memperlihatkan bahwa akulturasi bukan bentuk kehilangan budaya, tetapi strategi kreatif untuk memperkaya warisan tradisional.

Hingga kini, Jaranan Pegon masih aktif dipentaskan oleh berbagai grup kesenian di Trenggalek, menjadikannya bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan budaya yang hidup dan relevan dalam perkembangan zaman.

 

ASN PNS PPPK Berpakaian Korpri
ASN PNS PPPK Berpakaian Korpri
Editor : Dharaka R. Perdana
#Jaranan Pegon #mangkunegaran #trenggalek #wayang orang #jaranan breng