TRENGGALEKJENGGELEK - Wayang orang gaya Mangkunegaran menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter artistik Jaranan Pegon Trenggalek.
Pengaruh wayang orang gaya Mangkunegaran tidak hanya hadir sebagai inspirasi estetika, tetapi juga melekat kuat dalam struktur gerak, busana, dan nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan Jaranan Pegon.
Baca Juga: Jaranan Pegon Trenggalek: Akulturasi Wayang Orang dan Jaranan Breng, Ini Maknanya
Sejak awal kemunculannya, wayang orang gaya Mangkunegaran dikenal sebagai seni pertunjukan istana yang menggabungkan harmoni antara tari, teater, dan musik dalam satu kesatuan puitis. Unsur-unsur yang kemudian diadaptasi ke dalam pertunjukan Jaranan Pegon Trenggalek ini.
Jaranan Pegon bukan sekadar varian dari kesenian jaranan biasa, tetapi merupakan hasil dari proses akulturasi budaya antara seni keraton dan kesenian rakyat.
Unsur gerak dalam Jaranan Pegon secara langsung terinspirasi dari ukel gerak wayang orang yang lemah gemulai namun tetap penuh makna simbolis.
Gerakan ini mencerminkan watak karakter dalam cerita yang dibawakan, sebagaimana dalam tradisi ringgit tiyang (wayang orang), di mana postur tubuh dan tarian mencerminkan suasana batin dan posisi sosial tokoh.
Baca Juga: Mengenal Kesenian Jaranan Asli Trenggalek Turonggo Yakso Simbol Keperkasaan dan budaya lokal
Hal ini menjadikan setiap gerak dalam Jaranan Pegon bukan hanya pertunjukan fisik, tetapi juga simbol dari kedalaman karakter.
Dari segi busana, penari Jaranan Pegon mengenakan kostum yang sangat mirip dengan busana wayang orang gaya Mangkunegaran.
Baca Juga: Suaranya Menggetarkan Jiwa, Ternyata Ini Fungsi Gong dalam Gamelan Jawa
Properti seperti makutha, sumping, praba, dan kelat bahu menjadi elemen yang khas, menunjukkan kedekatan visual dengan estetika keraton.
Busana tersebut merupakan hasil pengembangan dari pakaian wayang kulit purwa yang kemudian diwujudkan dalam bentuk nyata oleh KGPAA Mangkoenagoro V, terinspirasi oleh relief dan patung dari Candi Sukuh.
Dalam pertunjukan Jaranan Pegon, keberadaan busana ini memberikan dimensi elegan dan membedakan secara visual antara tokoh kesatria, punakawan, hingga raja.
Namun yang tak kalah penting, Jaranan Pegon juga menyerap nilai-nilai filosofis dari wayang orang.
Lakon-lakon yang dibawakan dalam pertunjukan sering kali berkaitan dengan kisah moral dan ajaran kebijaksanaan, sama seperti dalam cerita Mahabarata dan Ramayana yang menjadi dasar lakon Wayang Orang.
Meski tidak disajikan secara lengkap, potongan adegan atau pethilan dalam bentuk “budhalan”—yaitu ketika para kesatria bersiap menuju medan laga—menjadi bagian penting dari narasi simbolik dalam Jaranan Pegon.
Hal ini menunjukkan bahwa pertunjukan tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral kepada penonton, sebagaimana disampaikan oleh Samodro & Sarwanto (2019).
Hingga kini, Jaranan Pegon masih dipentaskan secara tradisional oleh berbagai grup seni di Trenggalek.
Mereka tidak hanya melestarikan bentuk pertunjukannya, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap gerak dan cerita.
Pertunjukan ini menjadi cerminan bagaimana masyarakat Trenggalek mampu merawat warisan budaya dengan sentuhan lokal yang khas.
Menjadikan Jaranan Pegon bukan sekadar pertunjukan hiburan, tetapi juga simbol identitas budaya yang berakar kuat dan terus hidup dalam denyut masyarakatnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana