Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Jaranan Breng: Pondasi Terbentuknya Jaranan Pegon Trenggalek, Punya Dua Tarian

Dharaka R. Perdana • Jumat, 1 Agustus 2025 | 05:10 WIB

Salah satu pertunjukan Jaranan Breng di Desa Salamwates, Kecamatan Dongko, Trenggalek. (FACEBOOK NURUL HIDAYAH)
Salah satu pertunjukan Jaranan Breng di Desa Salamwates, Kecamatan Dongko, Trenggalek. (FACEBOOK NURUL HIDAYAH)

TRENGGALEKJENGGELEK - Jaranan Breng merupakan salah satu unsur penting yang membentuk karakter khas dalam pertunjukan Jaranan Pegon Trenggalek.

Sebagai kesenian tradisional yang berasal dari wilayah Dongko, Trenggalek, Jaranan Breng dikenal memiliki nilai simbolis yang kuat serta akar tradisi rakyat yang dalam.

Baca Juga: Wayang Orang Gaya Mangkunegaran, Unsur Estetis yang Membentuk Ciri Khas Jaranan Pegon Trenggalek

Kehadirannya menjadi elemen utama dalam proses akulturasi budaya yang melahirkan bentuk pertunjukan baru, yakni Jaranan Pegon Trenggalek perpaduan antara gaya Pura Mangkunegaran dan seni rakyat Jawa Timur.

Pertunjukan Jaranan Breng menggambarkan kisah simbolik perjuangan prajurit berkuda melawan ancaman hama dan sifat angkara murka.

Baca Juga: Jaranan Pegon Trenggalek: Akulturasi Wayang Orang dan Jaranan Breng, Ini Maknanya

Binatang seperti celeng (babi hutan) mewakili gangguan terhadap masyarakat agraris, sedangkan tokoh barongan atau caplokan menggambarkan kekuatan jahat dan bengis yang harus dilawan.

Dalam struktur penyajiannya, Jaranan Breng ditampilkan oleh enam orang penari inti, satu pemain celeng, dua pembarong (pemain barongan), satu pengangon barongan (pemegang ekor), dan dua prentul (penjaga prajurit).

Baca Juga: Jaranan Pegon, Seni Tradisional Tertua yang Masih Lestari di Trenggalek, Ini Ciri Khasnya

Format ini menciptakan pola pertunjukan yang komunikatif antara karakter protagonis dan antagonis dalam bentuk tari dan teater rakyat.

Tradisi Jaranan Breng di masa lalu dipentaskan setiap tanggal 1 Suro dalam rangka peringatan adat "Ngetung Batih", yakni refleksi spiritual masyarakat Dongko terhadap keluarga, leluhur, dan keselamatan hidup.

Baca Juga: Mengenal Kesenian Jaranan Asli Trenggalek Turonggo Yakso Simbol Keperkasaan dan budaya lokal

Jenis Tarian Jaranan Breng

Jaranan Breng sendiri memiliki dua jenis tarian dalam setiap pementasan, satu yang mengikuti pakem asli Jaranan Breng, dan satu lagi dalam bentuk kreasi modern yang disesuaikan dengan perkembangan selera penonton.

Perbedaan paling mencolok antara Jaranan Breng pakem dan Jaranan Breng kreasi terletak pada iringan musik yang digunakan.

Dalam versi pakem, iringan terbatas pada instrumen tradisional seperti kendang, selompret, angklung, kenong, dan gong—menghadirkan suasana yang mistis dan sakral.

Baca Juga: Bentuknya Mirip, Tapi Hal Berikut yang Membedakan Slenthem dan Gender dalam Gamelan Jawa

Sementara itu, dalam versi kreasi, Jaranan Breng menggunakan perangkat gamelan lengkap seperti bonang, demung, saron, kempul, dan bahkan memasukkan unsur musik campursari dan lagu-lagu modern.

Meski begitu, struktur koreografi dan makna simbolis dari masing-masing tokoh tetap dijaga ketat untuk mempertahankan identitas asli pertunjukan.

Baca Juga: 6 Jenis Kendang dalam Gamelan Jawa, Nomor 2 Sering Mengiringi Campursari

Makna simbolis dari Jaranan Breng menjadi elemen penting dalam proses terbentuknya Jaranan Pegon Trenggalek.

Dalam Jaranan Pegon, semangat perlawanan terhadap angkara murka dan kekuatan spiritual rakyat tetap diwariskan dari Jaranan Breng, kemudian dipadukan dengan nilai-nilai estetika, busana, dan gerak dari Wayang orang gaya Mangkunegaran.

Inilah bentuk akulturasi budaya yang tidak menghilangkan jati diri masing-masing, tetapi justru memperkaya kesenian daerah dengan identitas yang lebih kompleks dan beragam.

Baca Juga: Beda dengan Gamelan Jawa, Ini Ciri Khas Gamelan Bali yang Mencolok dan Unik

Jaranan Breng berperan sebagai fondasi “kerakyatan” dari Jaranan Pegon Trenggalek. Dia mewakili kekuatan spiritual dan energi lokal yang lahir dari keseharian masyarakat desa, terutama dalam menghadapi ancaman nyata seperti gagal panen, hama pertanian, dan ketidakseimbangan alam.

Sedangkan Jaranan Pegon hadir sebagai ekspresi seni yang lebih halus dan simbolis, dengan tambahan unsur naratif, tata busana keraton, dan struktur gerak tari klasik.

Keduanya berpadu membentuk bentuk seni yang unik—sebuah representasi nyata dari sinkretisme budaya di Trenggalek.

DARI PAKAR: Pakar akuntansi Unair, Zaenal Fanani menjadi ahli dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
DARI PAKAR: Pakar akuntansi Unair, Zaenal Fanani menjadi ahli dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
BIKIN TERANG: Hadi Subhan, ahli kepailitan dari Unair Surabaya menjelaskan tentang definisi utang dan dividen dalam dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
BIKIN TERANG: Hadi Subhan, ahli kepailitan dari Unair Surabaya menjelaskan tentang definisi utang dan dividen dalam dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
DARI PAKAR: E.L. Sajogo, pengacara Jawa Pos bertanya ke Hadi Subhan, ahli kepailitan yang dihadirkan dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
DARI PAKAR: E.L. Sajogo, pengacara Jawa Pos bertanya ke Hadi Subhan, ahli kepailitan yang dihadirkan dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
Pakar akuntansi Unair, Zaenal Fanani menjadi ahli dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
Pakar akuntansi Unair, Zaenal Fanani menjadi ahli dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
Hadi Subhan, ahli kepailitan dari Unair Surabaya menjelaskan tentang definisi utang dan dividen dalam dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
Hadi Subhan, ahli kepailitan dari Unair Surabaya menjelaskan tentang definisi utang dan dividen dalam dalam sidang di Pengadilan Niaga Surabaya kemarin (31/7).
Editor : Dharaka R. Perdana
#Simbolik #Jaranan Pegon #trenggalek #jaranan breng