Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Tradisi Memanggil Hujan di Trenggalek, Warisan Kearifan Lokal Saat Kemarau

Zaki Jazai • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 23:05 WIB

Ilustrasi musim hujan yang berpotensi mendatangkan penyakit menular.
Ilustrasi musim hujan yang berpotensi mendatangkan penyakit menular.

Trenggaleknjenggelek – Ketika kemarau panjang melanda, sawah mengering, sungai mulai surut, dan debu beterbangan di jalan desa, sebagian warga Trenggalek masih memiliki cara khas untuk memohon datangnya hujan. Bukan sekadar menunggu ramalan cuaca atau menatap langit yang memutih, mereka tetap menjaga sebuah ritual turun-temurun: tradisi memanggil hujan.

Ritual ini biasanya dipimpin oleh sesepuh desa bersama warga. Bentuknya beragam, ada yang memilih menggelar doa bersama di masjid atau mushola, ada pula yang melaksanakan prosesi khusus di lokasi tertentu seperti mata air, tepi sungai, hingga halaman balai desa.

Dalam beberapa kesempatan, warga turut membawa tumpeng dan sesajen sederhana berisi hasil bumi sebagai simbol rasa syukur sekaligus permohonan kepada Tuhan agar hujan kembali turun.

Baca Juga: 7 Tradisi Unik dari Berbagai Daerah untuk Merayakan Hari Kemerdekaan RI

Keunikan tradisi ini semakin terasa ketika anak-anak desa ikut serta. Mereka berjalan keliling kampung sambil membawa mainan dari daun pisang atau tempurung kelapa, menabuh kentongan, bahkan menyiramkan air sedikit demi sedikit ke jalan sebagai lambang “mengundang” hujan.

Suasana berubah riuh oleh suara tawa dan nyanyian khas, seakan melupakan panas terik yang membakar kulit.

Baca Juga: Kejawen, Aliran Kepercayaan Asli Suku Jawa Sebelum Keberadaan Agama di Nusantara, Ini Inti Ajarannya

Bagi warga yang masih melestarikannya, tradisi memanggil hujan bukanlah sekadar mitos atau kepercayaan lama. Lebih dari itu, ia menjadi sarana kebersamaan dan gotong royong. Saat seluruh warga berkumpul dan berdoa, tumbuh semangat kolektif untuk menghadapi kesulitan bersama.

Dan ketika hujan akhirnya turun, entah karena doa atau kebetulan alam, masyarakat akan menyambutnya dengan sorak sorai, berlarian di bawah rintik air sambil membiarkan pakaian basah kuyup.

Baca Juga: 5 Tradisi Asal Trenggalek Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda, Ini Daftarnya

Di tengah arus modernisasi, ritual semacam ini memang semakin jarang dilakukan. Namun di sejumlah desa di Trenggalek, tradisi memanggil hujan tetap bertahan sebagai pengingat bahwa manusia dan alam memiliki hubungan erat—sebuah ikatan yang perlu dijaga, dirawat, dan dirayakan.(jaz)

KARYA BERNILAI: Salah satu hasil pemanfaatan sampah plastik menjadi karya bernilai ekonomi di Kura-Kura Bali Desa Serangan Bali
KARYA BERNILAI: Salah satu hasil pemanfaatan sampah plastik menjadi karya bernilai ekonomi di Kura-Kura Bali Desa Serangan Bali
Editor : Zaki Jazai
#kemarau panjang #hujan #trenggalek