Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Balap Kelereng 17 Agustus: Lomba Klasik yang Bikin Deg-degan

Amalia Rizky Indah Permadani • Senin, 18 Agustus 2025 | 21:37 WIB

Keseruan balap kelereng ada pada momen menegangkan ketika peserta berusaha menjaga keseimbangan.
Keseruan balap kelereng ada pada momen menegangkan ketika peserta berusaha menjaga keseimbangan.
 

Trenggaleknjenggelek - Di antara berbagai lomba 17 Agustusan, balap kelereng adalah salah satu yang paling klasik.

Meski sederhana, lomba ini selalu seru dan tak pernah absen dari perayaan HUT RI.

 

Cara bermainnya cukup unik. Peserta harus membawa kelereng yang diletakkan di atas sendok, lalu berjalan atau berlari menuju garis finis.

Tantangannya adalah menjaga keseimbangan agar kelereng tidak jatuh. Jika jatuh, peserta harus kembali ke titik awal atau kehilangan kesempatan menang, tergantung aturan panitia.

 Baca Juga: Lomba Makan Kerupuk 17 Agustus: Simbol Kesederhanaan yang Penuh Tawa

Keseruan balap kelereng ada pada momen menegangkan ketika peserta berusaha menjaga keseimbangan.

Penonton pun ikut dibuat deg-degan, apalagi jika peserta sudah hampir mencapai garis finis tapi kelereng jatuh begitu saja.

 

Balap kelereng biasanya diikuti anak-anak, tetapi orang dewasa juga sering ikut untuk menambah keceriaan.

Dengan begitu, suasana lomba jadi semakin meriah karena semua generasi bisa berpartisipasi.

 

Di balik kesederhanaannya, balap kelereng mengajarkan nilai penting: fokus, kesabaran, dan konsentrasi.

Peserta harus tenang dan hati-hati, karena tergesa-gesa justru membuat kelereng jatuh.

 

Lomba ini juga menjadi momen kebersamaan warga.

Penonton bersorak memberi semangat, sementara peserta saling berlomba dengan penuh sportivitas.

 

Dengan segala keseruannya, balap kelereng tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi lomba 17 Agustus.

Ia adalah simbol bahwa kegembiraan bisa lahir dari permainan sederhana, asal dimainkan dengan kebersamaan.

Editor : Amalia Rizky Indah Permadani