Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Wayang Suluh, Seni Pertunjukan yang Jadi Obor Semangat Proklamasi 1945

Bagus Setiawan • Selasa, 19 Agustus 2025 | 00:00 WIB
Tokoh rakyat dalam Wayang Suluh (Gambar: X/@muspenerangan)
Tokoh rakyat dalam Wayang Suluh (Gambar: X/@muspenerangan)

TRENGGALEKNJENGGELEK - Wayang Suluh adalah seni pertunjukan unik yang lahir pasca Proklamasi 1945.

Wayang ini digunakan pemerintah sebagai media propaganda sekaligus penerangan rakyat di masa awal kemerdekaan.

Pertunjukan Wayang Suluh pertama kali digelar di Madiun pada tahun 1947 dan menjadi simbol semangat Proklamasi yang terus menyala.

Baca Juga: Wayang Orang Gaya Mangkunegaran, Unsur Estetis yang Membentuk Ciri Khas Jaranan Pegon Trenggalek

Wayang ini hadir bukan sekadar tontonan, melainkan sarana komunikasi rakyat di tengah keterbatasan informasi setelah Proklamasi.

Dengan cara itu, pesan perjuangan bisa menjangkau masyarakat luas, termasuk mereka yang tidak bisa membaca atau tidak punya akses media modern.

Penasaran bagaimana sejarah dan ciri khas Wayang Suluh?

Baca Juga: Jaranan Pegon Trenggalek: Akulturasi Wayang Orang dan Jaranan Breng, Ini Maknanya

Simak ulasannya berikut ini.

1. Sejarah Lahirnya Wayang Suluh

Lahirnya Wayang Suluh tidak bisa dipisahkan dari situasi Indonesia pasca Proklamasi 1945.

Meski kemerdekaan telah diproklamasikan, bangsa Indonesia masih harus berhadapan dengan agresi militer Belanda dan situasi politik yang tidak stabil.

Di sisi lain, rakyat kecil hidup dalam kondisi serba terbatas, baik secara ekonomi maupun pendidikan.

Baca Juga: Padhang Ati, Semangat Baru Dalang Muda Trenggalek Menjaga Api Wayang Kulit

Banyak masyarakat yang buta huruf, sementara radio dan surat kabar hanya bisa diakses kalangan tertentu.

Untuk menjawab persoalan itu, Departemen Penerangan mulai menggagas sebuah media penerangan baru pada tahun 1946.

Tujuannya sederhana, agar pesan Proklamasi bisa menjangkau seluruh rakyat dengan cara yang mudah dipahami.

Wayang kemudian dipilih karena sudah akrab dengan masyarakat Jawa, tetapi bentuknya sengaja dibuat berbeda dari wayang tradisional pada umumnya.

Baca Juga: Trenggalek Punya 157 Dalang Wayang Kulit, Siapa Saja Mereka?

Setahun kemudian, pada 1947, gagasan itu terwujud di Balai Rakyat Madiun.

Sukemi, seorang pegawai Jawatan Penerangan, menjadi sosok yang menggagas pertunjukan perdana Wayang Suluh.

Cerita yang dibawakan tidak lagi tentang Mahabharata atau Ramayana, melainkan peristiwa nyata perjuangan bangsa.

Baca Juga: Daftar 58 Sinden Wayang Kulit Asal Trenggalek, Kamu Kenal Mereka?

Mulai dari Proklamasi, Sumpah Pemuda, Perang Surabaya, hingga berbagai perjanjian politik, semuanya diangkat menjadi lakon yang bisa dicerna rakyat.

Dengan cara ini, semangat Proklamasi bisa terus dijaga meski dalam kondisi perang dan krisis.

2. Ciri Khas Wayang Suluh 

Wayang Suluh memiliki ciri khas yang membedakannya dari jenis wayang lain.

Bentuk tokohnya tidak dibuat simbolis, melainkan menyerupai wajah asli manusia.

Tokoh-tokohnya pun berasal dari figur nyata, baik dari pahlawan nasional maupun rakyat biasa.

Penonton bisa melihat figur tokoh nasional seperti Sukarno, Moh. Hatta, Bung Tomo, atau Amir Syarifuddin dalam panggung pertunjukan.

Selain itu, ada juga tokoh petani, pedagang, pejabat desa, hingga santri yang mewakili kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kehadiran tokoh-tokoh ini membuat rakyat merasa dekat dengan pesan yang disampaikan.

Cerita yang dibawakan Wayang Suluh pun bukan hanya untuk hiburan.

Pementasan wayang ini juga berfungsi sebagai corong pemerintah, alat penyuluhan, dan sarana untuk menumbuhkan nasionalisme masyarakat.

Dalang Wayang Suluh pun dipilih dengan cermat, biasanya berasal dari Departemen Penerangan atau dalang tradisional yang mendapat pelatihan tambahan.

Pertunjukan selalu diiringi gamelan dan lagu yang sesuai dengan tema cerita, sehingga pesan lebih mudah diterima.

Semua itu menjadikan Wayang Suluh bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan juga media perjuangan.

3. Jejak Wayang Suluh Hari Ini

Kini, Wayang Suluh mungkin jarang terdengar di tengah masyarakat.

Namun, jejaknya menyimpan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia.

Wayang ini membuktikan bahwa seni budaya bisa menjadi alat komunikasi dan perjuangan yang sangat efektif.

Proklamasi bukan hanya teks yang dibacakan di Jakarta, tetapi juga hidup di panggung-panggung rakyat melalui Wayang Suluh.

Melestarikan ingatan tentang Wayang Suluh berarti merawat semangat Proklamasi yang pernah membakar hati bangsa.

Seperti obor, ia pernah menerangi jalan rakyat Indonesia di masa awal kemerdekaan.

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#proklamasi 1945 #seni budaya #wayang suluh #indonesia #Wayang kulit #seni pertunjukan