TRENGGALEKNJENGGELEK - Rebo Wekasan adalah tradisi masyarakat Islam di Nusantara yang jatuh pada hari Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Rebo berarti Rabu, sementara Wekasan berasal dari bahasa Jawa yang berarti akhir atau pungkasan.
Karena itu, Rebo Wekasan dimaknai sebagai Rabu penutup bulan Safar yang diyakini sebagai hari turunnya berbagai musibah.
Tradisi ini masih bertahan di berbagai daerah, terutama di Jawa, Sunda, dan Madura.
Masyarakat biasanya memandang Rebo Wekasan sebagai momentum untuk berdoa, bersedekah, dan mendekatkan diri kepada Tuhan demi keselamatan bersama.
Bagaimana sejarah, makna, dan amalan yang ada di dalamnya? Simak penjelasannya berikut ini:
Baca Juga: Larangan Menikah di Bulan Suro, Antara Tradisi dan Ajaran Agama
1. Sejarah Rebo Wekasan
Sejarah Rebo Wekasan berakar pada keyakinan bahwa di hari itu Allah menurunkan bala ke bumi.
Keyakinan ini salah satunya disebut dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur karya ulama KH Abdul Hamid Quds, yang menyebut ada ratusan ribu bala diturunkan pada Rabu terakhir Safar.
Dari situlah muncul tradisi umat Islam di Nusantara untuk mengisi hari tersebut dengan doa dan amalan sebagai bentuk ikhtiar perlindungan.
Baca Juga: Ragam Tradisi Sakral di Malam Satu Suro yang Masih Dilestarikan
Sebagian sumber juga menautkan tradisi ini dengan peran para Wali Songo yang mendorong masyarakat menjaga spiritualitas di bulan Safar.
Meskipun begitu, dalam hadis Nabi disebutkan tidak ada kesialan dalam bulan Safar, sehingga ulama menekankan pentingnya memahami Rebo Wekasan sebagai ikhtiar spiritual, bukan keyakinan mutlak soal nasib buruk.
2. Makna Tradisi
Makna Rebo Wekasan bagi masyarakat tidak hanya soal tolak bala.
Di balik doa-doa yang dibacakan, ada nilai kebersamaan dan solidaritas yang dijunjung tinggi.
Warga kerap berkumpul di masjid, mushola, atau rumah tokoh masyarakat untuk menggelar doa bersama dan selamatan.
Hidangan berupa tumpeng, jajanan pasar, hingga gunungan kadang disiapkan lalu dibagikan kepada tetangga sebagai wujud syukur.
Makna yang lebih dalam dari tradisi ini adalah pengingat bagi umat untuk tidak lengah, memperbanyak amal, dan merefleksikan diri di tengah kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Rebo Wekasan bukan sekadar ritual, melainkan ruang untuk meneguhkan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.
3. Amalan yang Dianjurkan
Ada beberapa amalan dianjurkan saat Rebo Wekasan.
Pertama, shalat sunnah yang dikenal dengan istilah salat li daf‘il bala, meski ulama mengingatkan niatnya sebaiknya bukan karena takut hari sial, melainkan untuk memohon perlindungan Allah.
Kedua, membaca doa-doa khusus atau ayat-ayat Al-Qur’an yang dipandang memberi keselamatan, seperti ayat salamun dalam Surah Hud.
Ketiga, berpuasa sunnah yang dimaksudkan sebagai bentuk penyucian diri sekaligus melatih keikhlasan.
Keempat, sedekah atau berbagi makanan lewat tradisi selamatan yang masih dijalankan di banyak daerah.
Semua amalan ini bukan diwajibkan, tetapi diyakini sebagai jalan mendekatkan diri pada Tuhan sekaligus memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada tanggal 20 Agustus 2025.
Sesuai kalender Kementerian Agama RI, bulan Safar 1447 H dimulai pada Sabtu, 26 Juli 2025 (1 Safar) dan berakhir pada Minggu, 24 Agustus 2025 (30 Safar).
Momentum ini sekaligus mengingatkan bahwa perayaan Rebo Wekasan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana memperkuat doa dan harapan agar terhindar dari marabahaya
Editor : Akhmad Nur Khoiri