Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Hari Jadi ke-831 Trenggalek, Pusaka Baru dan Gamelan Ikut Dijamas

Akhmad Nur Khoiri • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 02:30 WIB
Jamasan Pusaka menjelang peringatan Hari Jadi Trenggalek
Jamasan Pusaka menjelang peringatan Hari Jadi Trenggalek

TRENGGALEKNJENGGELEK – Prosesi jamasan pusaka dalam rangka Hari Jadi ke-831 Kabupaten Trenggalek tahun ini menghadirkan suasana berbeda dibanding tahun sebelumnya.

Selain tetap memegang tradisi penyucian benda pusaka, terdapat penambahan koleksi baru yang ikut dijamas, termasuk gamelan.

Penjamas pusaka, dr. Sarjono Baskoro, menjelaskan bahwa jumlah pusaka yang dijamas tahun ini lebih banyak dibanding tahun 2024.

Jika tahun lalu hanya dua pusaka, kali ini bertambah lima tombak serta satu perangkat gamelan.

“Tahun ini ada perbedaan dengan jamasan pada tahun lalu. Kalau tahun lalu ada dua, tahun ini sekarang tombaknya bertambah lima. Dari lima itu, satunya adalah hadiah dari Yogyakarta, yang empat adalah tombak Kyai Korowelang lalu Songsong Hayom Sih,” ungkap Sarjono, Selasa (26/8/2025).

Salah satu pusaka baru yang ikut dijamas ialah Tombak Kyai Wignyo Murti, hadiah dari Kraton Yogyakarta yang diserahkan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Tambahan koleksi ini disebut menandai semakin lengkapnya pusaka yang dimiliki Kabupaten Trenggalek.

“Yang dari Yogyakarta adalah hadiah dari Kraton Yogyakarta dari Sinuwun, yaitu Tombak Kyai Wignyo Murti. Ini menandakan pusaka Trenggalek semakin lengkap walaupun belum begitu lengkap, saya kira itu yang penting,” lanjutnya.

Selain tombak, tahun ini gamelan juga ikut menjalani prosesi jamasan setelah tahun sebelumnya tidak dilakukan.

Menurut Sarjono, jamasan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan juga bentuk perawatan pusaka agar tetap terjaga.

“Tujuan jamasan adalah untuk memperbaiki termasuk juga membersihkan pusaka,” tegasnya.
Dengan adanya prosesi ini, pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya.

Di sisi lain, bupati juga meresmikan nama gamelan pendopo, yakni Nyai Sakanti, yang dipandang sebagai pendamping Kyai Korowelang.

“Harapannya Nyai Sakanti melengkapi dalam sisi harmonis. Kalau kami punya Kyai Korowelang, maka Nyai Sakanti adalah pendampingnya. Semoga setiap langkah yang diiringi gamelan ini bisa selaras dan membawa kebaikan,” jelasnya.

Beberapa pusaka penting yang ikut dijamas di antaranya Tombak Kyai Wignyo Murti dan Songsong Hayom Sih, keduanya merupakan pemberian Sultan Hamengkubuwono X.

Empat Tombak Kyai Korowelang juga masuk rangkaian kirab: dua tombak berwarna merah dan putih akan dibawa ke Karangrejo, sedangkan dua lainnya berwarna cokelat akan diarak ke Kamulan.

Selain itu, pusaka rutin yang selalu dijamas setiap tahun juga turut serta, antara lain sepasang Tombak Biring Kamulan, Songsong Tunggul Naga, Songsong Tunggul Praja, Pataka Parasamya Praja Nugraha, Pataka Jwalita Praja Karana, Pataka Prasasti Kamulan, serta ageman dan pusaka bupati. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#Jamasan Pusaka #trenggalek #hari jadi trenggalek