TRENGGALEKNJENGGELEK - Peringatan Maulid Nabi selalu menjadi momen penting bagi umat Islam di berbagai penjuru Nusantara.
Setiap daerah memiliki cara unik dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui tradisi yang sudah dijaga secara turun-temurun.
Keberagaman itu menjadikan Maulid Nabi bukan hanya sebagai ajang peringatan sejarah lahirnya Rasulullah, melainkan juga cermin kekayaan budaya Nusantara.
Baca Juga: Rebo Wekasan: Sejarah, Makna, dan Amalan dalam Tradisi Islam Nusantara
Tidak heran, tradisi Maulid Nabi di Indonesia terus dilestarikan karena mengandung nilai spiritual, kebersamaan, sekaligus identitas lokal.
Apa sajakah tradisi itu? Mari simak penjelasannya berikut ini.
1. Seuramoe Maulod di Aceh
Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, sehingga wajar bila perayaan Maulid Nabi di daerah ini berlangsung meriah.
Masyarakat Aceh biasanya menggelar tradisi Seuramoe Maulod.
Baca Juga: 7 Pantangan Saat Rebo Wekasan, Masyarakat Percaya Bisa Datangkan Musibah
Seuramoe Maulod diambil dari kata seuramoe yang artinya serambi atau pelataran, dan maulod yang merujuk pada Maulid Nabi.
Seuramoe Maulod biasanya ditandai dengan adanya hajat atau kenduri besar di meunasah atau masjid.
Setiap keluarga membawa hidangan khas berupa nasi, gulai kambing, dan aneka lauk yang disusun di atas dulang untuk disantap bersama.
Baca Juga: Larangan Menikah di Bulan Suro, Antara Tradisi dan Ajaran Agama
Selain makan bersama, ada pula pembacaan kitab barzanji dan zikir yang menegaskan makna cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Bagi masyarakat Aceh, tradisi ini bukan hanya bentuk syukur, melainkan juga sarana mempererat tali silaturahmi antar warga.
2. Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta
Di Pulau Jawa, tradisi Sekaten menjadi salah satu peringatan Maulid Nabi paling populer.
Tradisi ini bermula sejak masa Kesultanan Demak dan hingga kini tetap dilestarikan di Keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Di Yogyakarta, ciri khasnya adalah tabuhan gamelan pusaka Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu yang dimainkan di halaman Masjid Gedhe Kauman.
Sedangkan di Surakarta, ciri khasnya adalah tabuhan gamelan pusaka Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari.
Keduanya dipercaya memiliki sejarah panjang sejak era Kesultanan Demak, lalu diwariskan sebagai bagian penting dari tradisi Sekaten di dua keraton.
Selain itu, masyarakat dapat menikmati pasar malam Sekaten yang ramai dengan berbagai hiburan dan kuliner khas.
Baca Juga: Ragam Tradisi Sakral di Malam Satu Suro yang Masih Dilestarikan
Puncak acaranya adalah Grebeg Maulud, ketika gunungan hasil bumi diarak dari keraton menuju masjid untuk diperebutkan warga.
3. Roah Maulid di Lombok
Di Lombok, peringatan Maulid Nabi dikenal dengan sebutan Roah Maulid.
Tradisi ini berlangsung meriah hampir di setiap desa, tidak hanya di masjid atau rumah warga, tetapi juga di lapangan terbuka agar semua masyarakat bisa ikut serta.
Selain kenduri dengan aneka hidangan khas seperti roti jala, nasi, dan kue tradisional, Roah Maulid juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan rakyat.
Baca Juga: Idul Adha 2025: Makna, Tradisi, dan Perayaan Unik di Indonesia
Pentas seni, musik tradisional, hingga permainan khas daerah menjadikan suasana perayaan semakin hidup dan dekat dengan masyarakat.
Bagi warga Lombok, Roah Maulid bukan hanya ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga momen kebersamaan dan pesta budaya yang mempererat ikatan sosial.
4. Baayun Maulid di Kalimantan Selatan
Di Kalimantan Selatan, tradisi Maulid Nabi dinamakan dengan Baayun Maulid.
Tradisi ini melibatkan bayi dan anak-anak yang didudukkan di ayunan berhias kain indah di dalam masjid.
Tujuannya agar anak yang diayun mendapatkan berkah dan kelak tumbuh sehat, berbakti, serta dekat dengan ajaran Islam.
Acara ini disertai dengan pembacaan shalawat dan doa, yang membuat suasana semakin khidmat.
Baayun Maulid tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga melestarikan kearifan lokal Banjar yang penuh makna.
5. Maudu Lompoa di Gowa, Sulawesi Selatan
Di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, peringatan Maulid Nabi dikenal dengan nama Maudu Lompoa.
Tradisi ini berlangsung meriah karena melibatkan perahu besar yang dihiasi aneka makanan, hasil bumi, dan sesaji.
Perahu tersebut kemudian ditarik ramai-ramai ke sungai atau laut, lalu makanan dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Selain itu, ada pula dzikir dan doa bersama yang menambah kekhidmatan acara.
Maudu Lompoa menjadi wujud syukur sekaligus simbol persatuan masyarakat Gowa dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Lima tradisi di atas hanyalah sebagian kecil dari kekayaan budaya peringatan Maulid Nabi di Nusantara.
Setiap daerah memiliki cara khas untuk mengekspresikan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga harmoni sosial.
Tradisi-tradisi ini membuktikan bahwa Maulid Nabi di Indonesia tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memperkuat identitas budaya bangsa.
Editor : Akhmad Nur Khoiri