TRENGGALEK - Fenomena gerhana bulan total atau blood moon yang terjadi pada Minggu, 7 September hingga Senin, 8 September dini hari kembali menyita perhatian masyarakat di berbagai daerah.
Dalam sejarah budaya Jawa, fenomena langit seperti gerhana bulan kerap dikaitkan dengan kepercayaan spiritual dan melahirkan beragam tradisi unik.
Salah satu yang paling dikenal adalah kothekan lesung, sebuah tradisi Jawa yang erat kaitannya dengan mitos gerhana bulan.
Baca Juga: Malam Ini, Fenomena Mugen Tsukuyomi Diprediksi Akan Hiasi Langit Indonesia
Kothekan lesung merujuk pada aktivitas menabuh lesung, alat kayu besar untuk menumbuk padi, dengan irama tertentu menggunakan alu.
Kata kothekan dalam bahasa Jawa sendiri berarti membuat bunyi-bunyian dari kayu, sehingga aktivitas ini bukan sekadar menumbuk, melainkan menciptakan dentuman ritmis yang khas.
Tradisi ini dipercaya sebagai cara masyarakat Jawa dulu untuk mengusir Bathara Kala, sosok mitologis yang dianggap sedang menelan bulan hingga mengakibatkan gerhana.
Baca Juga: Tradisi Memanggil Hujan di Trenggalek, Warisan Kearifan Lokal Saat Kemarau
Dentuman ritmis dari alu yang menghantam lesung menciptakan bunyi keras yang diyakini mampu menghalau bala.
Selain sebagai pengusir bahaya, kothekan lesung juga berfungsi memperkuat kebersamaan.
Warga desa biasanya berkumpul di halaman, ikut serta menabuh atau menyaksikan bersama-sama, sehingga tercipta suasana guyub penuh makna.
Baca Juga: 5 Tradisi Asal Trenggalek Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda, Ini Daftarnya
Meski berakar pada mitologi, tradisi ini mencerminkan cara masyarakat Jawa memberi penjelasan terhadap fenomena alam yang sulit dipahami pada masanya.
Namun, seiring perkembangan zaman dan pengetahuan sains, kepercayaan tentang Batara Kala kian memudar.
Masyarakat kini lebih memahami bahwa gerhana bulan merupakan fenomena astronomi alami, bukan pertanda ancaman gaib.
Hal itu membuat kothekan lesung tidak lagi dilakukan secara spontan setiap kali gerhana bulan terjadi.
Sebaliknya, tradisi ini kini lebih sering tampil dalam festival budaya, pertunjukan seni, atau agenda pelestarian kearifan lokal di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Fungsinya pun bergeser, dari praktik ritual penolak bala menjadi simbol identitas budaya Jawa yang diwariskan lintas generasi.
Meski begitu, kothekan lesung tetap sarat akan nilai dan moral, seperti solidaritas, kebersamaan, dan rasa hormat pada warisan leluhur.
Gerhana bulan mungkin kini hanya dinikmati sebagai tontonan astronomi, namun gema kothekan lesung selalu mengingatkan bahwa fenomena langit juga bisa dimaknai sebagai ruang kebudayaan. (*)