TRENGGALEK - Fenomena gerhana bulan total atau blood moon yang terjadi pada 7–8 September 2025 sempat menjadi sorotan publik.
Di balik penjelasan sains mengenai posisi bumi, bulan, dan matahari, masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam memahami peristiwa gerhana bulan.
Dalam kepercayaan Jawa, gerhana bulan erat dikaitkan dengan sosok Batara Kala, tokoh mitologis yang lekat dengan beragam mitos turun-temurun.
Baca Juga: Malam Ini, Fenomena Mugen Tsukuyomi Diprediksi Akan Hiasi Langit Indonesia
Batara Kala dalam mitologi Jawa digambarkan sebagai raksasa besar yang lahir dari peristiwa di luar kebiasaan para dewa.
Ia sering dianggap sebagai penguasa waktu sekaligus pembawa malapetaka bagi manusia yang tidak menjaga harmoni dengan alam semesta.
Masyarakat Jawa tradisional memandang Bathara Kala bukan sekadar tokoh imajiner, melainkan simbol kekuatan kosmis yang mempengaruhi kehidupan.
Baca Juga: Tradisi Memanggil Hujan di Trenggalek, Warisan Kearifan Lokal Saat Kemarau
Siapakah sebenarnya Batara Kala dan bagaimana mitos yang berkembang di sekitarnya?
Berikut penjelasan mengenai asal usul hingga kisah yang melekat pada sosok raksasa ini.
Asal Usul Batara Kala
Asal usul Batara Kala dalam mitos Jawa banyak dikaitkan dengan kisah Batara Guru.
Dikisahkan, bahwa suatu waktu Batara Guru bersama dengan istrinya, Dewi Uma, tengah melalang buana dengan menaiki lembu tunggangan Batara Guru, yaitu Lembu Andini.
Baca Juga: 5 Tradisi Asal Trenggalek Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda, Ini Daftarnya
Ketika perjalanan itu berlangsung, Batara Guru diliputi hasrat yang tak terkendali terhadap Dewi Uma, permaisurinya.
Di atas punggung lembu tersebut, ia kemudian melakukan perbuatan yang dianggap tidak pantas dan menyimpang dari tatanan kosmis.
Dari perbuatan itulah lahir kama salah, benih salah yang jatuh ke samudra raya dan kemudian berubah wujud menjadi sosok raksasa menyeramkan bernama Batara Kala.
Baca Juga: Wayang Suluh, Seni Pertunjukan yang Jadi Obor Semangat Proklamasi 1945
Sejak awal kelahirannya, Batara Kala dianggap membawa energi gelap dan menjadi ancaman bagi keseimbangan semesta.
Ia digambarkan berwujud besar, bermata melotot, berambut gimbal, dengan taring panjang yang siap memangsa siapa pun.
Sebagai anak dari Batara Guru, Batara Kala tidak sepenuhnya diterima di kalangan para dewa.
Baca Juga: Wayang Orang Gaya Mangkunegaran, Unsur Estetis yang Membentuk Ciri Khas Jaranan Pegon Trenggalek
Ia justru ditempatkan sebagai penguasa waktu, pengingat bahwa setiap makhluk hidup tidak bisa lepas dari takdir dan kematian.
Dari mitos inilah kemudian lahir kepercayaan bahwa Batara Kala selalu mengintai manusia yang dianggap “sukerta” atau memiliki kelemahan kosmis tertentu.
Mitos tentang Batara Kala
Salah satu mitos yang paling populer adalah kaitan Batara Kala dengan fenomena gerhana bulan.
Masyarakat Jawa percaya ketika bulan tertutup bayangan bumi, hal itu terjadi karena Batara Kala sedang menelan bulan.
Untuk mencegah bulan benar-benar lenyap, warga desa menabuh lesung dengan alu hingga menghasilkan bunyi-bunyian yang keras.
Baca Juga: Jaranan Pegon Trenggalek: Akulturasi Wayang Orang dan Jaranan Breng, Ini Maknanya
Inilah yang kemudian dikenal sebagai kothekan lesung.
Ritual tersebut diyakini mampu mengusir Batara Kala agar melepaskan bulan kembali ke langit.
Pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama sehingga sekaligus menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas warga.
Selain mitos gerhana bulan, Batara Kala juga erat kaitannya dengan tradisi ruwatan sukerta.
Dalam kepercayaan Jawa, ada kelompok orang yang disebut “anak sukerta”, misalnya anak tunggal, anak kembar, atau anak lahir sungsang.
Mereka diyakini rawan menjadi mangsa Batara Kala karena dianggap melanggar keseimbangan kosmis.
Baca Juga: Rela Begadang demi Gerhana Bulan Total, Momen Langka yang Pantang Dilewatkan
Untuk melindungi anak-anak sukerta, masyarakat melakukan ritual ruwatan murwokolo dengan pertunjukan wayang.
Dalam pertunjukan itu, Batara Kala digambarkan hendak memangsa manusia, namun akhirnya dikalahkan dan diredam kekuatannya.
Ritual ruwatan menjadi bentuk negosiasi budaya untuk melindungi manusia dari ancaman mitologis Bathara Kala.
Hingga kini, mitos tentang Batara Kala masih bertahan dalam kesenian, ritual, dan cerita rakyat di berbagai daerah Jawa.
Meskipun masyarakat modern sudah memahami gerhana bulan secara ilmiah, kisah Batara Kala tetap memiliki daya tarik kultural.
Ia menjadi simbol bagaimana leluhur Jawa memberi makna pada fenomena alam yang sulit dijelaskan pada masanya.