TRENGGALEK - Trenggalek sebuah kabupaten yang terletak di pesisir selatan Jawa Timur, tidak hanya dikenal dengan keindahan pantai dan goanya, tetapi juga dengan warisan budayanya yang unik.
Salah satu tarian yang paling menonjol di Trenggalek adalah Tarian Turonggo Yakso.
Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol perjuangan, persatuan, dan identitas masyarakat Trenggalek yang diwariskan turun-temurun.
Asal Usul Turonggo Yakso
Nama Turonggo Yakso berasal dari dua kata:
- Turonggo berarti kuda, yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan semangat.
- Yakso berarti raksasa, sosok jahat yang digambarkan sebagai ancaman bagi masyarakat.
Menurut cerita rakyat, tarian ini lahir dari kisah perjuangan masyarakat Trenggalek dalam melawan gangguan raksasa atau makhluk jahat yang mengusik kehidupan mereka.
Dengan bantuan kuda sebagai simbol ketangguhan, rakyat berhasil mengalahkan yakso.
Sejak saat itu, tarian ini menjadi wujud syukur sekaligus simbol kemenangan atas kejahatan.
Ciri Khas Pertunjukan Turonggo Yakso
1. Penari dan Kostum
Penari biasanya mengenakan kostum kuda lumping (jaran kepang) lengkap dengan hiasan warna-warni.
Ada pula penari yang memakai kostum raksasa berwajah menyeramkan, melambangkan yakso.
Gerakan penari penuh energi, dengan loncatan, hentakan, dan atraksi yang menggambarkan pertarungan sengit.
2. Musik Pengiring
Gamelan tradisional mengiringi tarian dengan tempo cepat dan hentakan kuat.
Kadang dipadukan dengan teriakan khas untuk menambah semangat dan menghadirkan nuansa magis.
Suasana pertunjukan terasa hidup, penuh semangat juang, dan menggetarkan hati penonton.
3. Makna Simbolis
Pertarungan antara penari berkuda dan raksasa adalah gambaran perjuangan masyarakat melawan segala bentuk kejahatan.
Kemenangan penari melawan yakso menjadi lambang bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan keburukan.
Dari Ritual Adat ke Pertunjukan Seni
Pada awalnya, Turonggo Yakso dipentaskan dalam upacara bersih desa, yaitu tradisi tahunan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan keselamatan.
Tarian ini dipercaya membawa keberkahan dan menolak bala.
Namun, seiring berjalannya waktu, tarian ini berkembang menjadi seni pertunjukan yang lebih luas.
Kini, Turonggo Yakso tidak hanya dipentaskan dalam upacara adat, tetapi juga di berbagai acara resmi, festival budaya, hingga penyambutan tamu penting.
Pemerintah daerah Trenggalek bahkan menjadikannya sebagai ikon budaya dan pariwisata.
Identitas dan Kebanggaan Masyarakat
Turonggo Yakso bukan sekadar tari hiburan. Ia adalah representasi jati diri masyarakat Trenggalek yang penuh semangat, berani, dan kompak.
Lewat tarian ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan keberanian diwariskan kepada generasi muda.
Bagi masyarakat, melestarikan Turonggo Yakso berarti menjaga warisan leluhur.
Oleh karena itu, banyak sekolah, sanggar seni, hingga komunitas pemuda yang aktif mempelajari dan menampilkan tarian ini.
Festival budaya tahunan juga kerap menjadikan Turonggo Yakso sebagai pertunjukan utama yang selalu berhasil memukau penonton, baik dari dalam maupun luar daerah.
Turonggo Yakso di Mata Wisatawan
Keunikan tarian ini menjadikannya daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Pertunjukan Turonggo Yakso yang penuh warna, energi, dan semangat juang sering kali menjadi magnet utama dalam acara budaya di Trenggalek.
Wisatawan tidak hanya menyaksikan keindahan seni tari, tetapi juga merasakan atmosfer kebersamaan dan semangat masyarakat lokal.
Bahkan, tarian ini dianggap mampu merepresentasikan semangat Trenggalek sebagai daerah yang terus berkembang, tetapi tetap berpegang pada nilai tradisi dan budaya. (*)