TULUNGAGUNG - Sebanyak 10 pelaku budaya di bidang perkerisan di Kabupaten Tulungagung resmi menerima sertifikat kompetensi keahlian dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Perkerisan Indonesia.
Sertifikat yang dimiliki pelaku budaya bidang perkerisan di Tulungagung tersebut diakui secara nasional maupun internasional, khususnya di kawasan Asia Pasifik melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Sertifikasi tersebut secara simbolis diserahkan oleh Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, kepada Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro.
Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Tulungagung melalui dinas kebudayaan dan pariwisata yang telah memfasilitasi pelaku budaya untuk mengikuti uji kompetensi.
“Yang kami serahkan hari ini ada 10 sertifikat kompetensi, terdiri dari 6 edukator keris, 3 pangkrukti keris atau perawat pusaka, dan 1 panjak keris. Semua diakui secara nasional dan internasional,” jelas Agung, Kamis (9/10/2025) lalu.
Dia menjelaskan, profesi di bidang perkerisan kini memiliki jenjang karier yang jelas.
Contoh, seorang edukator keris dapat berkembang menjadi kurator, pangkrukti keris menuju posisi konservator, sedangkan panjak merupakan tahap awal menuju umpu keris.
Menurut Agung, pengakuan kompetensi ini penting agar para pelaku budaya mendapat tempat layak di dunia profesional.
“Seperti pekerja di luar negeri yang wajib memiliki sertifikat keahlian, tenaga di bidang perkerisan juga harus tersertifikasi agar diakui negara,” ujarnya.
Baca Juga: Seni Budaya yang Melekat di Trenggalek, Warisan Leluhur yang Terjaga
Selain 10 peserta yang dibiayai oleh APBD Tulungagung, kegiatan uji kompetensi juga diikuti 17 peserta mandiri dari berbagai daerah. Total 27 orang diuji kompetensinya dalam kegiatan yang turut dihadiri wakil menteri kebudayaan.
Agung berharap pemerintah daerah dan masyarakat dapat memanfaatkan para tenaga ahli bersertifikat internasional ini.
“Mereka sudah diakui secara nasional maupun internasional. Sudah saatnya SDM perkerisan lokal diberdayakan, baik untuk museum, kegiatan budaya, maupun pengembangan wisata pusaka di Tulungagung,” katanya. (sri/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah