TRENGGALEK NJENGGELEK – Sejarah Trenggalek membentang sangat panjang, jauh sebelum lahirnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, telah menjadi tempat hunian manusia sejak zaman prasejarah, menjadikannya salah satu kawasan tua dalam sejarah peradaban di pesisir selatan Pulau Jawa.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia purba telah hidup di wilayah Trenggalek secara nomaden dengan berburu dan meramu. Penemuan alat-alat batu seperti kapak genggam dan serpih di kawasan Watulimo dan Dongko menguatkan dugaan tersebut. Kehidupan prasejarah ini umumnya berlangsung di sekitar sungai dan lembah yang subur, memudahkan manusia purba memperoleh air dan sumber makanan.
Seiring waktu, masyarakat prasejarah mulai mengenal bercocok tanam sederhana. Peralihan dari pola hidup nomaden menuju kehidupan menetap inilah yang menjadi fondasi awal terbentuknya peradaban di Trenggalek.
Baca Juga: Guru PAUD Nonformal di Trenggalek Luruk DPRD dan Sampaikan Empat Tuntutan
Jejak Megalitikum dan Awal Struktur Sosial
Memasuki masa megalitikum, Trenggalek menunjukkan perkembangan budaya yang signifikan. Di sejumlah wilayah seperti Kampak dan Munjungan ditemukan peninggalan berupa dolmen, menhir, batu kubur, dan tugu batu. Situs-situs ini menandakan adanya sistem kepercayaan, ritual pemujaan leluhur, serta struktur sosial yang mulai terorganisir.
Masyarakat saat itu tidak hanya menetap, tetapi juga mengenal pertanian dan peternakan sederhana. Tokoh-tokoh pemimpin ritual atau kepala suku mulai berperan penting dalam kehidupan sosial, menandai lahirnya kepemimpinan lokal.
Pengaruh Hindu-Buddha hingga Masa Majapahit
Pada masa berkembangnya kerajaan Hindu-Buddha seperti Kanjuruhan, Kediri, dan Singhasari, wilayah Trenggalek mulai menerima pengaruh budaya dan agama Hindu-Buddha. Hal ini dibuktikan dengan temuan arca, relief, dan cerita epik Ramayana serta Mahabharata yang berkembang di masyarakat.
Puncaknya terjadi pada abad ke-13 hingga ke-15 ketika Trenggalek menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Sebagai wilayah strategis di pesisir selatan Jawa Timur, Trenggalek berperan sebagai daerah penyangga dan pemasok sumber daya alam, terutama hasil pertanian dan kayu.
Pada masa ini, sistem pemerintahan lokal mulai tertata dengan dipimpin oleh para adipati yang menjalankan administrasi berdasarkan hukum dan adat kerajaan.
Legenda Menak Sopal dan Bendungan Bagong
Legenda Menak Sopal sangat melekat dalam sejarah asal-usul Trenggalek. Tokoh ini diyakini sebagai bangsawan sakti yang pertama kali membuka wilayah Trenggalek dari hutan lebat. Menak Sopal dikenal karena keberhasilannya membangun Bendungan Bagong untuk membendung aliran Sungai Kalingasinan.
Bendungan ini menjadi tonggak penting karena memungkinkan pengendalian banjir dan pengairan sawah, membuka jalan bagi masyarakat untuk menetap dan bercocok tanam secara teratur. Kisah pembangunan bendungan yang melibatkan unsur spiritual dan kepercayaan lokal menunjukkan kuatnya harmoni antara manusia, alam, dan nilai leluhur.
Kadipaten Mataram, Islamisasi, dan Kolonialisme
Pada akhir abad ke-16, Trenggalek resmi berdiri sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Mataram Islam. Islam berkembang pesat melalui peran ulama dan pesantren yang menjadi pusat pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.
Memasuki abad ke-17 hingga ke-19, Trenggalek berada di bawah kekuasaan VOC dan kemudian Hindia Belanda. Eksploitasi hasil bumi, sistem tanam paksa, serta pembangunan infrastruktur kolonial menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Meski demikian, perlawanan rakyat Trenggalek terus terjadi dalam berbagai bentuk, dipimpin oleh tokoh adat dan ulama.
Pendudukan Jepang hingga Kemerdekaan
Pada masa pendudukan Jepang ,(1942-1945), rakyat Trenggalek mengalami penderitaan akibat kerja paksa romusha. Namun, periode ini juga membangkitkan semangat nasionalisme yang menguat menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Dalam masa revolusi fisik, masyarakat Trenggalek ikut mempertahankan kemerdekaan meski tidak menjadi medan pertempuran besar. Hingga akhirnya, pada tahun 1950, Trenggalek resmi ditetapkan sebagai kabupaten dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Trenggalek di Era Modern
Kini, Trenggalek berkembang sebagai kabupaten yang kaya potensi alam dan budaya. Pantai Prigi, Pantai Pelang, seni Turonggo Yakso, serta upacara Larung Sembonyo menjadi identitas daerah yang terus dijaga. Sejarah panjang Trenggalek menjadi bukti ketangguhan masyarakatnya dalam menjaga jati diri, dari masa prasejarah hingga era modern.
Editor : Findika Pratama