TRENGGALEK NJENGGELEK – Asal usul Trenggalek menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, strategi, dan keberanian seorang tokoh legendaris bernama Ki Ageng Menak Sopal. Cerita ini dipercaya menjadi fondasi terbentuknya wilayah Trenggalek di Jawa Timur, jauh sebelum daerah tersebut dikenal seperti sekarang.
Asal usul Trenggalek bermula ketika wilayah ini masih berupa hutan belantara dengan pepohonan raksasa, rawa-rawa luas, serta sungai berarus deras. Tanahnya subur namun belum tersentuh peradaban. Di masa itu, kekuasaan kerajaan besar di tanah Jawa mulai melirik wilayah-wilayah potensial, termasuk kawasan yang kelak bernama Trenggalek.
Ki Ageng Menak Sopal menjadi sosok sentral dalam membuka dan membangun wilayah tersebut. Dengan kebijaksanaan dan keteguhan hati, ia mulai membuka lahan pertanian, mengajarkan teknik bercocok tanam yang lebih efisien, serta membangun sistem irigasi yang menghubungkan sungai dengan sawah-sawah warga. Perlahan, daerah yang semula liar berubah menjadi kawasan pertanian yang subur dan menjanjikan.
Dari Hutan Belantara Menjadi Wilayah Makmur
Tak hanya fokus pada pertanian, Ki Ageng Menak Sopal juga menyadari pentingnya keamanan wilayah. Ancaman datang dari kelompok perampok yang kerap menjarah hasil panen warga. Untuk melindungi rakyatnya, ia membentuk pasukan penjaga desa yang terdiri dari para pemuda setempat. Mereka dilatih bela diri dan strategi pertahanan agar mampu menjaga tanah mereka sendiri.
Dalam proses membangun wilayah, muncul pula pembahasan mengenai penamaan daerah. Seorang pemuda bernama Jaka Trenggana mengusulkan nama yang terinspirasi dari kondisi geografis wilayah tersebut di masa lalu yang berupa rawa dan genangan air. Dari pemikiran inilah nama Trenggalek lahir dan diterima sebagai identitas bersama.
Perang Strategi Melawan Kerajaan Daha
Ancaman besar datang ketika pasukan Kerajaan Daha mencoba menguasai Trenggalek. Menyadari kekuatan musuh yang lebih besar, Ki Ageng Menak Sopal tidak memilih perang terbuka. Ia menyusun strategi cerdik dengan memanfaatkan kondisi alam Trenggalek yang dipenuhi hutan lebat, jalan curam, dan sungai deras.
Pasukan Trenggalek berpura-pura mundur, memancing pasukan Daha masuk lebih dalam ke wilayah yang telah disiapkan sebagai jebakan. Saat musuh lengah, pasukan Trenggalek menyerang secara gerilya dari balik pepohonan dan bukit. Strategi ini berhasil memukul mundur pasukan Daha tanpa harus menghancurkan desa dan rakyat.
Kemenangan ini menjadi titik balik penting dalam asal usul Trenggalek. Ki Ageng Menak Sopal kemudian mengajak seluruh pemimpin desa untuk bersatu, mengakhiri konflik internal terkait batas lahan dan sumber air. Ia menyadari bahwa persatuan adalah kunci utama mempertahankan wilayah dari ancaman luar.
Ancaman Blambangan dan Kecerdikan Diplomasi
Beberapa tahun kemudian, ancaman datang dari Kerajaan Blambangan. Mata-mata dikirim untuk memantau kekuatan Trenggalek. Dengan kecerdikannya, Ki Ageng Menak Sopal justru menyebarkan informasi palsu bahwa wilayahnya dalam kondisi lemah. Strategi ini berhasil menipu musuh.
Saat pasukan Blambangan menyerang, mereka kembali terjebak dalam medan sulit yang telah dipersiapkan. Pasukan Trenggalek menyerang secara tiba-tiba hingga Blambangan terpaksa mundur dengan kerugian besar. Sejak saat itu, Trenggalek semakin diperhitungkan di Jawa Timur.
Penolakan Tegas terhadap Kerajaan Mataram
Puncak dari asal usul Trenggalek terjadi ketika Kerajaan Mataram mengirim utusan untuk menawarkan agar Trenggalek menjadi wilayah kekuasaan mereka. Tawaran itu menjanjikan perlindungan dan kekuatan militer, namun juga berarti kehilangan kedaulatan.
Setelah musyawarah panjang, Ki Ageng Menak Sopal dengan tegas menolak tawaran tersebut. Ia memilih mempertahankan kemerdekaan Trenggalek dan hanya menjalin hubungan sebagai mitra dagang, bukan bawahan. Keputusan berani ini sempat menimbulkan ketegangan, namun akhirnya Sultan Mataram menghormati sikap tersebut.
Di bawah kepemimpinan Ki Ageng Menak Sopal, Trenggalek tumbuh menjadi wilayah mandiri, makmur, dan disegani. Kisah ini menjadi bagian penting dari asal usul Trenggalek, warisan nilai keberanian, strategi, dan cinta tanah leluhur yang terus dikenang hingga kini.
Editor : Findika Pratama