Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Jejak Sejarah Islam Ponorogo Terbuka di Makam Setono Tegalsari, Dari Nisan Polos hingga Kisah Mbah Ageng Sumende

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 20 Januari 2026 | 17:15 WIB

Jejak Sejarah Islam Ponorogo Terbuka di Makam Setono Tegalsari, Dari Nisan Polos hingga Kisah Mbah Ageng Sumende
Jejak Sejarah Islam Ponorogo Terbuka di Makam Setono Tegalsari, Dari Nisan Polos hingga Kisah Mbah Ageng Sumende

TRENGGALEK NJENGGELEK-Kompleks Makam Setono Tegalsari di Desa Tegalsari, Kabupaten Ponorogo, menyimpan jejak panjang sejarah dan perkembangan Islam di wilayah Jawa Timur bagian barat. Situs ini bukan sekadar pemakaman kuno, melainkan ruang sejarah berlapis yang merekam peralihan zaman, keyakinan, serta tradisi masyarakat Ponorogo dari masa ke masa.

Keberadaan Makam Setono Tegalsari ditandai dengan ragam bentuk nisan yang sangat beragam. Mulai dari batu patok polos tanpa tulisan, batu bata sederhana, hingga nisan pipih berornamen sulur dengan puncak menyerupai gunungan. Variasi tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini digunakan sebagai pemakaman lintas generasi dan lintas lapisan sosial.

Nisan Polos Penanda Masa Peralihan

Salah satu nisan paling menarik perhatian di Makam Setono Tegalsari adalah batu patok polos tanpa nama dan tanpa hiasan. Bentuk nisan semacam ini diyakini berasal dari masa ketika masyarakat belum mengenal tradisi penulisan pada nisan makam. Model tersebut banyak ditemukan di wilayah Ponorogo, khususnya pada makam komunitas non-elit.

Sejumlah pemerhati sejarah menduga batu patok polos ini merupakan penanda makam pada masa peralihan, baik dari era Majapahit menuju Islam, maupun dari sistem kepercayaan lama menuju Islamisasi awal. Kesederhanaan bentuk nisan mencerminkan fase transisi budaya dan religi yang berlangsung secara bertahap di wilayah Ponorogo.

Nisan Pipih Berornamen, Jejak Islam Awal

Selain batu patok polos, di kompleks Makam Setono Tegalsari juga ditemukan nisan pipih lebar dengan ujung membulat menyerupai gunungan dan dihiasi ornamen sulur flora. Menariknya, nisan ini tidak menampilkan motif dewa Hindu-Buddha, namun juga belum memuat kaligrafi Arab.

Nisan semacam ini banyak ditemukan di serambi gedong makam Pangeran Sumendi. Para peneliti menduga bentuk tersebut berasal dari periode awal Islam, sekitar abad ke-15 hingga abad ke-16. Ciri ini menunjukkan fase awal Islamisasi yang masih berakulturasi dengan tradisi lokal tanpa simbol keagamaan yang eksplisit.

Makam Setono Tegalsari Digunakan Berlapis Zaman

Keberagaman bentuk nisan di Makam Setono Tegalsari menegaskan bahwa situs ini digunakan secara berlapis dari masa ke masa. Dari makam tanpa identitas hingga makam tokoh-tokoh penting yang kemudian dikenal namanya, seluruhnya membentuk narasi panjang sejarah Ponorogo.

Kawasan Setono Tegalsari tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh penyebar Islam lokal. Di area ini juga berdiri masjid tua yang diyakini menjadi pusat awal penyebaran Islam di wilayah Tegalsari dan sekitarnya.

Peran Pangeran Sumendi dan Ki Donopuro

Dalam tradisi lisan masyarakat, Islam di Tegalsari disebarkan oleh Kiai atau Pangeran Sumendi beserta keturunannya, salah satunya Ki Donopuro. Dari Setono Tegalsari inilah ajaran Islam berkembang dan kemudian melahirkan jaringan keilmuan serta pesantren di Ponorogo.

Bahkan, nama besar Kiai Ageng Muhammad Besari—pendiri Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari—juga memiliki keterkaitan erat dengan situs ini. Sebelum mendirikan masjid jami dan pesantren, Kiai Ageng Muhammad Besari disebut pernah menimba ilmu sebagai santri di Setono Tegalsari kepada Ki Donopuro.

Pusat Sejarah Islam Ponorogo

Keberadaan Makam Setono Tegalsari menjadikannya salah satu titik penting dalam sejarah Islam Ponorogo. Dari situs inilah benang merah perkembangan pesantren dan dakwah Islam di Ponorogo hingga Jawa Timur dapat ditelusuri. Situs ini bukan hanya menyimpan nilai religi, tetapi juga nilai budaya dan sejarah yang kuat.

Hingga kini, Makam Setono Tegalsari masih diziarahi masyarakat. Bukan semata untuk berdoa, tetapi juga untuk mengenang jejak leluhur dan memahami perjalanan panjang Islam di tanah Ponorogo. Situs ini menjadi pengingat bahwa penyebaran agama dan budaya berlangsung melalui proses damai, bertahap, dan berakar pada kearifan lokal.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Makam Setono Tegalsari #sejarah Islam Ponorogo #situs sejarah Tegalsari #Pangeran Sumendi #nisan kuno Ponorogo