Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Trenggalek di Balik Mitos Santet: Jejak Sejarah, Tradisi, dan Identitas yang Terus Bertumbuh

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 20 Januari 2026 | 18:00 WIB

Trenggalek di Balik Mitos Santet: Jejak Sejarah, Tradisi, dan Identitas yang Terus Bertumbuh
Trenggalek di Balik Mitos Santet: Jejak Sejarah, Tradisi, dan Identitas yang Terus Bertumbuh

TRENGGALEK NJENGGELEK-selama bertahun-tahun kerap dilekatkan dengan stigma sebagai daerah “santet”. Julukan itu hidup dalam cerita tutur, bisik-bisik malam, hingga perbandingan dengan wilayah lain di Jawa Timur bagian selatan. Namun di balik bayang-bayang mitos tersebut, Trenggalek menyimpan sejarah panjang, struktur sosial yang kuat, serta proses modernisasi yang perlahan mengubah cara masyarakat memandang dirinya sendiri.

Sejarah awal Trenggalek tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari rangkaian kecil pertemuan manusia dengan alam. Wilayah ini tumbuh dari permukiman sederhana yang dibangun oleh para petani di lembah subur, diapit pegunungan dan dialiri sungai-sungai kecil. Tanah yang subur dan air yang melimpah menjadi alasan utama orang menetap, membuka ladang, lalu membangun komunitas yang perlahan berkembang menjadi desa-desa.

Dalam catatan resmi kerajaan Jawa kuno, Trenggalek mungkin tidak selalu disebut secara gamblang. Namun tradisi lisan menyimpan fragmen tentang jalur selatan Majapahit, para pedagang yang singgah, serta pertapa yang mencari ketenangan di hutan-hutan lereng. Jalur ini bukan hanya rute ekonomi, tetapi juga ruang pertemuan budaya, bahasa, dan kepercayaan yang membentuk karakter masyarakat lokal.

Seiring waktu, pengaruh agama dan struktur sosial baru mulai menguat. Kedatangan para ulama dan tokoh spiritual mengubah pola kehidupan warga, tidak hanya dalam praktik ibadah, tetapi juga dalam cara mengelola desa. Surau dan langgar menjadi pusat diskusi, penyelesaian konflik, sekaligus perencanaan musim tanam. Dari sinilah lahir keseimbangan khas: rasional dalam bekerja, namun tetap memberi ruang pada nilai spiritual dan harmoni dengan alam.

Hubungan masyarakat Trenggalek dengan alam tidak pernah bersifat dominatif. Hutan diperlakukan sebagai penjaga sumber air, gunung sebagai benteng alami, dan sungai sebagai pemberi kehidupan. Aturan adat mengatur kapan menebang pohon, bagaimana membagi air irigasi, serta pentingnya gotong royong. Kesadaran kolektif ini menjadi fondasi sosial yang jauh lebih kokoh daripada sekadar struktur administratif.

Memasuki masa kolonial, Trenggalek mengalami perubahan besar. Pemetaan wilayah, sistem pajak, dan tanam paksa memperkenalkan konsep kepemilikan formal yang asing bagi masyarakat desa. Di balik pembangunan jalan dan jembatan, tersimpan eksploitasi hasil bumi. Namun tekanan itu juga melahirkan bentuk perlawanan sunyi—menunda setoran, menyembunyikan hasil panen, hingga penguatan solidaritas melalui pengajian dan musyawarah desa.

Di tengah dinamika itulah muncul cerita-cerita mistis, termasuk santet. Dalam perspektif budaya lokal, santet bukan semata praktik gaib, melainkan cermin ketegangan sosial—kecemburuan, konflik warisan, atau luka batin yang tidak terselesaikan. Tokoh agama dan adat kerap menempatkannya sebagai peringatan moral agar hubungan sosial dijaga, bukan sebagai identitas yang dibanggakan.

Memasuki era modern, Trenggalek perlahan berubah. Infrastruktur membaik, akses internet meluas, dan generasi muda memiliki pilihan hidup yang lebih beragam. Pariwisata alam mulai dikembangkan dengan pendekatan berkelanjutan, sementara UMKM tumbuh dari potensi lokal. Di sisi lain, tradisi tidak ditinggalkan. Upacara bersih desa, selamatan, dan nilai gotong royong tetap hidup, meski kini berdampingan dengan ponsel dan media sosial.

Hari ini, Trenggalek berada di persimpangan antara masa lalu dan masa depan. Mitos tidak dihapus, tetapi ditempatkan secara proporsional sebagai bagian dari memori kolektif. Sejarah, tradisi, dan modernisasi berjalan berdampingan, membentuk identitas baru yang lebih utuh.

Trenggalek bukan sekadar cerita tentang santet. Ia adalah kisah tentang manusia yang bekerja, menjaga alam, merawat kebersamaan, dan perlahan menulis ulang takdirnya sendiri—melampaui stereotip, tanpa memutus akar sejarahnya.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#sejarah trenggalek #budaya trenggalek #mitos jawa #Santet Trenggalek #trenggalek