TRENGGALEK – Kisah Legenda Menak Sopal kembali menarik perhatian masyarakat, terutama karena erat kaitannya dengan asal-usul Dam Bagong serta cerita rakyat yang dipercaya menjadi bagian dari sejarah lisan di Trenggalek, Jawa Timur. Cerita ini menggambarkan perjuangan seorang pemuda yang berani berkorban demi kepentingan banyak orang, sekaligus menjadi simbol keberanian dan pengabdian.
Dikisahkan, pada suatu masa di sebuah desa yang damai, lahirlah seorang bayi bernama Menak Sopal. Ia dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Ki Ageng Sinawang dan Raden Ayu Saraswati di padepokan mereka. Keistimewaan Menak Sopal sudah tampak sejak kecil. Pada suatu malam yang sunyi, ketika bayi itu tertidur, tubuhnya memancarkan sinar yang mempesona seperti kunang-kunang yang berkelip di tengah kegelapan. Melihat fenomena tersebut, Ki Ageng Sinawang dan Raden Ayu Saraswati meyakini bahwa Menak Sopal kelak ditakdirkan menjadi sosok yang luar biasa.
Seiring waktu, Menak Sopal tumbuh menjadi pemuda yang gagah, bijaksana, dan berhati lembut. Ia dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama dan selalu siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Selain itu, ia juga menunjukkan kecerdasan luar biasa. Dengan cepat ia menguasai berbagai ilmu yang diajarkan oleh Ki Ageng Sinawang. Salah satu ilmu yang berhasil ia kuasai adalah ilmu malih rupa, sebuah ajian yang disebut sebagai peninggalan “Kisabra”, yang memungkinkan dirinya berubah wujud menjadi seekor harimau yang perkasa.
Pada suatu hari, desa-desa di sekitar padepokan Sinawang mengalami masalah serius. Warga sering bertengkar karena berebut air dari belik atau sumur kecil yang berada di tepi Sungai Bagong. Konflik itu terus terjadi karena pasokan air terbatas, sementara kebutuhan masyarakat semakin besar, terutama untuk keperluan rumah tangga dan pertanian.
Melihat kondisi tersebut, Menak Sopal merasa terpanggil untuk mencari solusi. Ia menelusuri Sungai Bagong dan mencari sumber permasalahan. Setelah beberapa hari melakukan pengamatan, ia mengumpulkan para pemuda desa serta murid-murid padepokan untuk bekerja sama membangun bendungan. Berkat kekompakan dan semangat gotong royong, bendungan itu berhasil didirikan dalam waktu singkat. Bendungan tersebut kemudian dikenal sebagai Dam Bagong.
Namun, masalah tidak berhenti di situ. Tak lama setelah Dam Bagong selesai dibangun, bendungan itu tiba-tiba runtuh. Menak Sopal dan para pemuda segera memperbaikinya. Anehnya, setiap kali diperbaiki, bendungan itu selalu runtuh kembali. Peristiwa ini membuat mereka kebingungan dan kelelahan.
Menak Sopal kemudian menggunakan kemampuan batinnya untuk mencari tahu penyebab kerusakan. Dalam penglihatannya, ia melihat seekor buaya putih besar yang merusak Dam Bagong menggunakan ekornya. Dengan kekuatan batin, Menak Sopal mencoba berkomunikasi dengan buaya putih tersebut. Buaya putih akhirnya menyampaikan bahwa ia akan berhenti merusak bendungan jika diberi kepala gajah putih.
Permintaan itu membuat Menak Sopal dan para pemuda terkejut. Mereka tahu bahwa gajah putih adalah hewan langka. Setelah mencari informasi, mereka menyadari bahwa hanya Embok Randa di Desa Krandon yang memiliki gajah putih. Menak Sopal pun yakin ia bisa meyakinkan Embok Randa untuk meminjam gajah tersebut.
Menak Sopal berangkat ke Desa Krandon ditemani seorang pemuda yang mengetahui lokasi rumah Embok Randa. Ia menyampaikan maksudnya untuk meminjam gajah putih selama tiga hari, lalu mengembalikannya. Embok Randa sempat khawatir dan bertanya siapa yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Menak Sopal menegaskan bahwa padepokan Sinawang dan dirinya sebagai murid Ki Ageng Sinawang siap bertanggung jawab. Akhirnya, Embok Randa setuju.
Gajah putih itu dibawa ke lokasi pembangunan Dam Bagong. Namun, gajah tersebut kemudian disembelih, dan kepalanya dilemparkan ke dalam Sungai Bagong. Setelah itu, Dam Bagong dibangun kembali, dan kali ini bendungan tersebut tidak runtuh lagi. Air segera memenuhi dam, dan belik-belik di sepanjang sungai kembali terisi.
Masalah baru muncul ketika waktu pengembalian gajah putih telah lewat. Hingga lebih dari sebulan, gajah itu tak kunjung kembali. Embok Randa marah dan mengumpulkan warga Desa Krandon untuk menyerang padepokan. Menak Sopal berusaha menjelaskan bahwa gajah putih digunakan demi kepentingan bersama, tetapi warga tidak percaya. Menak Sopal memilih tidak melawan dan berlari menyelamatkan diri. Saat terpojok, ia menggunakan ilmu malih rupa dan terjun ke Dam Bagong.
Di sisi lain, Embok Randa mendatangi padepokan. Ki Ageng Sinawang menjelaskan bahwa gajah putih memang disembelih untuk memenuhi syarat buaya putih agar bendungan tidak lagi dirusak, demi kemakmuran warga. Mendengar penjelasan itu, Embok Randa akhirnya memahami dan merelakan gajah putihnya.
Dalam cerita tersebut, Ki Ageng Sinawang juga menyebut bahwa kelak jika daerah itu semakin ramai, tempat tersebut akan dinamai “Terang In Galih”, yang kemudian dipercaya menjadi cikal bakal penyebutan Trenggalek.
Legenda Menak Sopal pun terus diceritakan dari generasi ke generasi, sebagai kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan tanggung jawab untuk kebaikan bersama.
Editor : Natasha Eka Safrina