JAKARTA - Video yang menyebut keberadaan “istana adat” di Kampung Gelar Alam Sukabumi viral di media sosial. Dalam tayangan itu, seorang pengunjung memperlihatkan bangunan megah bernama Imah Gede yang berdiri di kawasan Gunung Halimun, dengan ketinggian sekitar 1.214 meter di atas permukaan laut.
Meski disebut istana, suasana di dalamnya justru terasa sangat egaliter. Semua tamu diperlakukan sama, tanpa melihat jabatan, status sosial, maupun kekayaan. Bahkan, dalam dokumentasi foto yang dipajang di dalam ruangan utama, tampak Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur duduk bersila bersama warga.
“Rumah ini memperlakukan semua orang sama, tidak dipandang setinggi apa jabatannya,” ujar narator video.
Menariknya, tamu yang datang bukan hanya disambut, tapi juga bisa bermalam. Narator mengaku dirinya dan rombongan tidur di dalam Imah Gede pada malam sebelumnya. Di ruangan besar itu tersedia karpet, termos minuman, serta suguhan makanan yang terus datang.
Baca Juga: UPT Pengujian Kendaraaan Bermotor Targetkan 8000 Kali Pengujian di Tahun 2026
Imah Gede Gelar Alam: Teras untuk Tamu, Ruang Dalam Penuh Foto Sejarah
Di bagian depan, terdapat teras yang menjadi tempat menunggu bagi para tamu sebelum dipanggil masuk. Narator menyebut bagian teras tersebut baru dibangun sekitar delapan bulan.
Memasuki ruang utama, pengunjung dibuat takjub karena ruangan luas itu dipenuhi dokumentasi. Narator menghitung ada sekitar 80 foto dan gambar yang menempel di dinding. Salah satu yang paling menarik adalah foto warga adat memikul padi untuk dibawa ke lumbung saat upacara adat besar Seren Taun.
Selain itu, ada pula foto Abah Ugi bersama keluarga. Meski Abah Ugi tidak tinggal di Imah Gede, bangunan ini menjadi pusat penerimaan tamu, termasuk tamu penting.
Disebut Punya 123 Kamar, Lebih Modern dari yang Banyak Orang Bayangkan
Hal lain yang bikin publik tercengang adalah klaim jumlah kamar di Imah Gede. Narator menyebut bangunan ini memiliki 123 kamar, baik di bagian depan maupun belakang.
Ia juga menunjukkan salah satu kamar tempatnya menginap. Menurutnya, kondisi di dalam rumah adat ini tergolong modern jika dibandingkan dengan pengalaman melihat komunitas adat lain seperti Baduy dan Kajang.
Walau begitu, material bangunan tetap memegang unsur tradisional. Tiang-tiang penyangga terbuat dari kayu, dindingnya dari anyaman bambu yang dicat, dan plafon juga menggunakan anyaman bambu yang disangga kayu.
Baca Juga: Atasi Genangan Air, Disperkimhub Revitalisasi dan Lakukan Perawatan Drainase
Dapur Raksasa, Masak Terus karena Tamu Datang Silih Berganti
Bagian yang paling menyita perhatian adalah dapur. Narator menyebut aktivitas “pegawai” di Imah Gede lebih banyak berkutat pada urusan memasak, karena tamu datang hampir tanpa putus.
Dapur tersebut tampak luas, dengan tungku besar yang apinya menyala terus. Narator mengaku pada malam hari suhu dingin bisa mencapai 16 derajat, sehingga ia memilih duduk dekat tungku untuk menghangatkan badan.
Di dapur juga terlihat perlengkapan modern seperti kompor gas, televisi, hingga area cuci piring. Di bagian atas, terdapat ruang penyimpanan stok pangan seperti pisang, kacang, dan bahan makanan lain yang akan dimasak saat diperlukan, terutama ketika ada upacara adat.
Dalam video, narator sempat bertemu Mama Dede, istri Abah Ugi, yang disebut aktif mengurus dapur dan menjamu tamu.
Leuit Si Jimat dan Ketahanan Pangan 10 Tahun, Ini Rahasianya
Selain Imah Gede, narator juga menunjukkan pusat kekuatan pangan masyarakat adat: Leuit Si Jimat. Leuit ini disebut sebagai “induk lumbung” yang menjadi penopang ratusan bahkan ribuan lumbung lain di wilayah kasepuhan.
Menurut narator, masyarakat adat di Kasepuhan Cipta Gelar memiliki sistem ketahanan pangan yang kuat, bahkan disebut mampu mencukupi kebutuhan hingga lebih dari 10 tahun.
Ada aturan adat yang mengatur kontribusi padi setiap kampung saat panen. Padi tersebut disimpan di lumbung adat sebagai cadangan bersama. Sistem ini menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat adat mampu menjaga kemandirian pangan dalam jangka panjang.
Di sekitar Imah Gede, tampak deretan lumbung-lumbung yang tertata rapi. Narator menyebut lumbung tersebut dipindahkan dari Cipta Gelar dengan cara dipikul beramai-ramai. Satu lumbung bahkan bisa dipikul puluhan orang.
Tradisi Menumbuk Padi dan MCK Modern dari Bantuan Kapolres
Dalam bagian lain, video memperlihatkan proses menumbuk padi menggunakan lesung. Padi diikat dalam bentuk “pocong”, lalu dirontokkan dalam dua tahap hingga menjadi beras organik.
Tak hanya soal pangan dan budaya, fasilitas umum juga diperhatikan. Narator menunjukkan adanya MCK modern yang disebut merupakan sumbangan dari Kapolres Sukabumi.
Viralnya Imah Gede di Kampung Gelar Alam Sukabumi menjadi bukti bahwa tradisi adat bisa berjalan berdampingan dengan fasilitas modern. Di tengah arus zaman, masyarakat adat tetap menjaga nilai kesetaraan, gotong royong, hingga ketahanan pangan yang mengagumkan.
Editor : Natasha Eka Safrina