TRENGGALEK NJENGGELEK - Nogo Dino Jawa masih menjadi salah satu perhitungan tradisional yang dipercaya sebagian masyarakat untuk menentukan arah yang dianggap baik atau kurang baik dalam mencari rezeki. Nogo Dino Jawa dikaitkan dengan hari dan pasaran tertentu yang diyakini memengaruhi keberuntungan saat berdagang, bepergian, hingga melamar calon pasangan.
Nogo Dino Jawa merupakan bagian dari tradisi perhitungan dalam budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Kepercayaan ini digunakan sebagai pedoman untuk menentukan arah yang sebaiknya dihindari pada hari tertentu.
Dalam praktiknya, Nogo Dino Jawa tidak hanya dikaitkan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga digunakan dalam berbagai keperluan lain seperti pindah rumah, mencari hari baik, hingga urusan lamaran
.Baca Juga: Nubia Neo 5 5G Segera Rilis di Indonesia, HP Gaming Rp3 Jutaan Ini Punya Trigger Button dan Baterai 6050 mAh
Mengenal Posisi Nogo Dino Jawa Berdasarkan Hari dan Pasaran
Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa, posisi Nogo Dino dipercaya berpindah-pindah sesuai hari tertentu.
Nogo Dino berada di arah timur pada Kamis, Jumat, dan Minggu. Sementara itu, pada Sabtu posisinya berada di selatan.
Adapun Senin, Selasa, dan Rabu dikaitkan dengan arah barat. Terdapat pula perhitungan khusus yang menyebut Senin berada di arah utara barat atau ngalor ngulon, sedangkan Jumat berada di arah utara timur.
Selain berdasarkan hari, terdapat pula hubungan antara pasaran Jawa dengan arah mata angin. Kliwon ditempatkan di tengah, Pahing di selatan, Pon di barat, Wage di utara, dan Legi di timur.
Pasaran Wage memiliki posisi khusus karena dianggap menempati arah utara. Dalam penjelasan tradisi tersebut, Wage sering disebut sebagai hari kosong sehingga jarang digunakan dalam perhitungan mencari hari baik.
Kepercayaan ini menjadi salah satu dasar mengapa sebagian masyarakat menghindari penggunaan hari Wage untuk acara tertentu seperti pesta pernikahan maupun pindah rumah.
Nogo Dino Jawa Kerap Dijadikan Pedoman Pedagang Keliling
Salah satu penerapan Nogo Dino Jawa yang paling sering dibahas adalah dalam aktivitas perdagangan.
Pedagang keliling diyakini dapat memanfaatkan perhitungan ini untuk menentukan arah perjalanan saat mencari pelanggan. Tujuannya agar terhindar dari kerugian atau kesialan yang dipercaya dapat muncul apabila bergerak menuju arah yang ditempati Nogo Dino.
Sebagai contoh, apabila pada Jumat Legi Nogo Dino berada di timur, maka pedagang disarankan menghindari perjalanan ke arah tersebut.
Menurut kepercayaan yang berkembang, perjalanan menuju arah Nogo Dino dapat menyebabkan dagangan sepi, transaksi tidak menguntungkan, hingga muncul risiko kehilangan barang.
Sebaliknya, bergerak ke arah yang berlawanan dipercaya mampu meningkatkan peluang memperoleh rezeki yang lebih baik.
Kepercayaan tersebut telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa, khususnya di kalangan pedagang yang masih memegang teguh perhitungan adat.
.Baca Juga: Nubia Neo 5 5G Segera Rilis di Indonesia, HP Gaming Rp3 Jutaan Ini Punya Trigger Button dan Baterai 6050 mAh
Digunakan untuk Lamaran hingga Aktivitas Sehari-hari
Tidak hanya berkaitan dengan usaha dan perdagangan, Nogo Dino Jawa juga digunakan dalam berbagai aktivitas sosial.
Salah satunya adalah menentukan waktu dan arah saat melamar calon pasangan. Sebagian masyarakat meyakini bahwa arah perjalanan menuju rumah calon mempelai perlu disesuaikan dengan posisi Nogo Dino agar prosesi berjalan lancar.
Misalnya, jika arah rumah calon pasangan berada di barat, maka pemilihan hari keberangkatan akan disesuaikan agar tidak bertepatan dengan posisi Nogo Dino di arah tersebut.
Tujuannya adalah menghindari hambatan, penolakan, atau situasi yang dianggap kurang menguntungkan selama proses lamaran.
Tradisi ini juga digunakan sebagai pedoman saat bepergian, membeli barang, maupun melakukan kegiatan penting lainnya.
Meski demikian, Nogo Dino Jawa merupakan bagian dari adat dan kepercayaan tradisional yang hidup di tengah masyarakat. Setiap individu memiliki pandangan berbeda mengenai penerapan dan keyakinan terhadap perhitungan tersebut.
Hingga kini, keberadaan Nogo Dino Jawa masih menjadi salah satu warisan budaya yang terus dipelajari karena mencerminkan cara masyarakat Jawa masa lalu dalam memaknai arah, waktu, dan keberuntungan dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula