JAKARTA - Istilah Nogodino masih menjadi salah satu bagian dari tradisi Primbon Jawa yang dipercaya sebagian masyarakat hingga saat ini. Konsep yang berkaitan dengan hari kelahiran dan weton tersebut diyakini dapat memberikan gambaran mengenai karakter seseorang, arah rumah yang baik, hingga berbagai pantangan yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sebuah penjelasan yang disampaikan melalui kanal YouTube Balek Kambang TV, Nogodino dijelaskan sebagai gabungan dari kata "nogo" yang berarti naga dan "dino" yang berarti hari. Secara umum, Nogodino dipahami sebagai posisi naga gaib yang menempati arah mata angin tertentu, yakni timur, selatan, barat, dan utara.
Menurut penjelasan tersebut, posisi Nogodino tidak bersifat tetap. Letaknya selalu bergeser mengikuti perhitungan hari dan pasaran dalam kalender Jawa. Oleh karena itu, seseorang perlu mengetahui nilai neptu hari dan pasaran terlebih dahulu untuk menentukan posisi Nogodino miliknya.
Cara Menghitung Nogodino Berdasarkan Neptu
Perhitungan Nogodino dilakukan dengan menjumlahkan nilai neptu hari dan pasaran Jawa. Setelah mendapatkan hasil penjumlahan, angka tersebut kemudian dihitung berdasarkan urutan arah mata angin yang dimulai dari timur, selatan, barat, lalu utara.
Dalam tradisi Jawa, nilai neptu hari terdiri dari Minggu bernilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara itu, pasaran Legi bernilai 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.
Hasil penjumlahan neptu tersebut akan menentukan arah Nogodino seseorang. Dari arah tersebut kemudian dipercaya dapat diketahui karakter dasar, keberuntungan, serta beberapa anjuran terkait pembangunan rumah dan kehidupan sehari-hari.
Karakter Orang dengan Nogodino Timur
Mereka yang memiliki nilai weton 9, 13, dan 17 dipercaya memiliki Nogodino di arah timur. Dalam pandangan Primbon Jawa, kelompok ini memiliki karakter yang dipengaruhi unsur angin.
Orang dengan Nogodino timur disebut mudah bergaul, dapat diterima berbagai kalangan, dan tidak membedakan status sosial dalam pertemanan. Mereka juga dianggap memiliki kemampuan beradaptasi yang baik di berbagai lingkungan.
Untuk urusan tempat tinggal, pemilik Nogodino timur disarankan tidak membangun rumah yang menghadap ke timur. Jika rumah sudah terlanjur menghadap ke arah tersebut, salah satu cara yang dipercaya sebagai penolak bala adalah memasang cermin kecil di dekat pintu utama.
Nogodino Selatan dan Sifat Penuh Kasih Sayang
Sementara itu, pemilik nilai weton 10, 14, dan 18 dipercaya memiliki Nogodino di selatan. Karakternya diibaratkan seperti air yang menjadi sumber kehidupan.
Mereka disebut memiliki rasa kasih sayang tinggi, berpikiran jernih, dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain. Dalam hal arah rumah, kelompok ini dianjurkan menghindari rumah yang menghadap ke selatan.
Apabila rumah sudah terlanjur menghadap selatan, tradisi Jawa menyarankan menanam tebu hitam di halaman atau memelihara ikan sebagai simbol penyeimbang energi.
Nogodino Barat dan Utara
Orang yang memiliki weton bernilai 7, 11, dan 15 termasuk kelompok Nogodino barat. Unsur yang melekat pada mereka adalah api. Karakter yang muncul antara lain disiplin, tegas, dan disegani lingkungan sekitar.
Bagi kelompok ini, rumah yang menghadap ke barat dianggap kurang baik. Selain itu terdapat pantangan berupa larangan tidur menjelang matahari terbenam serta tidak dianjurkan menanam cabai di halaman rumah.
Adapun mereka yang memiliki weton 8, 12, dan 16 dipercaya mempunyai Nogodino di utara dengan unsur bumi. Karakternya dikenal sabar, murah hati, tulus, dan ikhlas dalam membantu sesama.
Pemilik Nogodino utara juga dianjurkan menghindari rumah yang menghadap ke utara. Jika kondisi tersebut tidak dapat dihindari, sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa menanam bambu kuning dan pohon kelor dapat menjadi simbol penolak bala.
Meski demikian, berbagai penjelasan mengenai Nogodino merupakan bagian dari warisan budaya dan kepercayaan tradisional masyarakat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Kepercayaan terhadap konsep ini kembali kepada keyakinan masing-masing individu dalam memaknai nilai-nilai budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Editor : Novica Satya Nadianti