JAKARTA - Nogo Dino dan Pati Dino merupakan salah satu konsep penting dalam Primbon Jawa yang hingga kini masih dikenal dan dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Jawa. Ilmu warisan leluhur ini dipercaya sebagai pedoman untuk menentukan arah, hari, maupun pertimbangan tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sebuah perbincangan budaya Jawa yang membahas perhitungan weton dan kearifan leluhur, dijelaskan bahwa Nogo Dino bukan sekadar mitos atau kepercayaan tanpa dasar. Bagi masyarakat Jawa tempo dulu, konsep ini merupakan bagian dari ilmu titen atau pengamatan yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Meski perkembangan zaman terus berjalan, pengetahuan mengenai Nogo Dino dan Pati Dino masih dianggap sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dikenali dan dipahami, terutama oleh generasi muda yang ingin mempelajari tradisi Jawa.
Apa Itu Nogo Dino?
Menurut penjelasan dalam tradisi Primbon Jawa, Nogo Dino dapat diartikan sebagai posisi atau arah kekuatan suatu hari. Kata "nogo" atau naga digunakan sebagai simbol kekuatan besar yang harus dihormati dan diperhatikan.
Leluhur Jawa menggambarkan naga sebagai makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa. Karena itu, posisi Nogo Dino dipercaya menjadi penanda arah tertentu yang perlu diperhatikan dalam berbagai aktivitas.
Nogo Dino tidak dimaknai sebagai keberadaan naga secara fisik, melainkan simbol energi atau kekuatan yang menjadi bagian dari sistem penanggalan Jawa.
Cara Menghitung Nogo Dino
Perhitungan Nogo Dino dilakukan menggunakan neptu weton yang berasal dari penjumlahan nilai hari dan pasaran seseorang.
Sebagai contoh, Kamis Kliwon memiliki jumlah neptu 16, yang berasal dari nilai Kamis 8 dan Kliwon 8. Setelah memperoleh jumlah neptu, angka tersebut digunakan untuk menentukan posisi Nogo Dino berdasarkan arah mata angin yang telah ditetapkan dalam Primbon Jawa.
Dalam praktiknya, arah yang muncul dapat berada di utara, selatan, timur, atau barat sesuai hasil perhitungan yang dilakukan.
Masyarakat Jawa kuno biasanya menggunakan hasil tersebut sebagai bahan pertimbangan ketika hendak melakukan aktivitas penting, seperti membangun rumah, pindah tempat tinggal, membuka usaha, hingga menentukan arah tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenal Pati Dino
Selain Nogo Dino, terdapat pula istilah Pati Dino yang memiliki makna berbeda. Jika Nogo Dino berkaitan dengan arah kekuatan hari, maka Pati Dino diartikan sebagai arah atau posisi yang sebaiknya dihindari pada hari tertentu.
Dalam perhitungan Primbon Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki Pati Dino masing-masing. Posisi tersebut diperoleh melalui metode hitungan yang berbeda dari Nogo Dino.
Sebagai contoh yang dijelaskan dalam pembahasan tersebut, Kamis Kliwon memiliki arah Pati Dino tertentu yang dipercaya kurang baik apabila dijadikan tujuan utama untuk melakukan aktivitas penting.
Namun demikian, para pelaku budaya Jawa menegaskan bahwa hasil perhitungan ini bukanlah ketentuan mutlak yang menentukan nasib seseorang.
Sebagai Kearifan Lokal dan Warisan Budaya
Para pemerhati budaya Jawa menilai bahwa Nogo Dino dan Pati Dino merupakan bagian dari kekayaan intelektual leluhur yang lahir dari proses pengamatan panjang terhadap alam dan kehidupan masyarakat.
Konsep tersebut berkembang pada masa ketika masyarakat sangat bergantung pada tanda-tanda alam dalam menentukan waktu tanam, aktivitas perdagangan, perjalanan, hingga pembangunan rumah.
Karena itu, keberadaan Primbon Jawa tidak hanya berisi ramalan semata, tetapi juga mengandung nilai budaya, filosofi hidup, serta cara pandang masyarakat Jawa terhadap hubungan manusia dengan alam semesta.
Pentingnya Melestarikan Pengetahuan Leluhur
Dalam diskusi tersebut juga disampaikan bahwa generasi muda perlu mengenal budaya Jawa sebagai bagian dari identitas dan sejarah bangsa. Meskipun tidak semua orang harus mempercayainya secara penuh, memahami warisan budaya dianggap penting agar pengetahuan leluhur tidak hilang ditelan zaman.
Para narasumber menekankan bahwa ilmu titen, weton, Nogo Dino, maupun Pati Dino sebaiknya dipahami sebagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Nilai utamanya bukan pada kepercayaan mutlak terhadap hasil hitungan, melainkan pada upaya menjaga dan melestarikan budaya Jawa yang telah hidup selama ratusan tahun.
Dengan demikian, Nogo Dino dan Pati Dino tetap menjadi salah satu bagian menarik dalam Primbon Jawa yang hingga kini masih dipelajari oleh masyarakat sebagai warisan budaya sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Editor : Novica Satya Nadianti