MALANG, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Gunung Kawi Malang kembali menjadi sorotan setelah muncul pengakuan seorang kreator konten yang mengaku tidak diizinkan merekam aktivitas di area Keraton Gunung Kawi. Ia menyebut kebijakan tersebut diberlakukan setelah ramainya video yang dikaitkan dengan Pesulap Merah dan memicu polemik mengenai kawasan wisata religi tersebut.
Dalam perjalanan menuju Gunung Kawi Malang, kreator itu mendokumentasikan rute menuju kawasan lereng gunung yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi sekaligus cagar budaya di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit dari jalan provinsi itu diwarnai jalan menanjak, area hutan, hingga sempat tersesat karena mengikuti petunjuk navigasi.
Sejak awal perjalanan, ia menegaskan tujuan kedatangannya bukan untuk melakukan ritual tertentu, melainkan ingin memahami sejarah, tradisi, budaya, serta akulturasi yang berkembang di kawasan Gunung Kawi Malang. Ia juga berulang kali mengingatkan penonton agar tetap menghormati keyakinan masing-masing dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat.
Perjalanan Menuju Keraton Gunung Kawi
Selama perjalanan, kreator tersebut menggambarkan suasana lereng Gunung Kawi yang dipenuhi pepohonan rindang, hamparan kebun tebu, serta sejumlah perkampungan. Ia juga menyebut banyak masjid berdiri di sepanjang jalur menuju kawasan wisata tersebut.
Sempat mengikuti rute yang salah, ia akhirnya bertanya kepada warga setempat. Dari penjelasan warga, diketahui bahwa jalan yang dilalui sebelumnya merupakan akses petani, bukan jalur utama menuju Keraton Gunung Kawi. Setelah kembali ke jalan raya, perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya tiba di kawasan wisata religi tersebut.
Menurut penuturannya, kawasan Gunung Kawi memiliki beberapa lokasi berbeda, seperti pasarean atau kompleks makam yang kerap dikunjungi peziarah serta area Keraton Gunung Kawi yang berada di lereng gunung.
Dikenal sebagai Wisata Religi dan Cagar Budaya
Setibanya di lokasi, terlihat gerbang bertuliskan kawasan wisata religi Keraton Gunung Kawi. Kreator itu juga memperlihatkan keberadaan musala, gereja, dan bangunan lain yang berada dalam satu kawasan. Hal tersebut menurutnya menjadi gambaran adanya keberagaman aktivitas keagamaan yang berlangsung di lokasi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Gunung Kawi selama ini lebih dikenal masyarakat sebagai destinasi wisata religi yang memiliki sejarah panjang. Selain itu, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari cagar budaya yang dilindungi sehingga terdapat aturan tertentu bagi setiap pengunjung.
Menurutnya, masyarakat datang dengan berbagai tujuan, mulai dari berziarah, mengenang leluhur, hingga mempelajari sejarah dan budaya yang berkembang di kawasan tersebut.
Klaim Dampak Viral Video Pesulap Merah
Dalam video tersebut, kreator mengaku hanya diperbolehkan melakukan pengambilan gambar di area luar gerbang. Ia menyebut pihak pengelola tidak lagi memberikan keleluasaan kepada kreator konten untuk masuk ke area tertentu.
Menurut pengakuannya, kebijakan tersebut muncul setelah viralnya konten yang dikaitkan dengan Pesulap Merah. Ia mengklaim sejumlah pengurus dan juru kunci merasa trauma karena kawasan Gunung Kawi menjadi sorotan publik dan memunculkan berbagai persepsi di media sosial.
Kreator itu juga menyebut juru kunci disebut tidak lagi bersedia diwawancarai oleh sembarang pihak. Bahkan, untuk melakukan dokumentasi di area tertentu diperlukan izin resmi dari pengelola.
Baca Juga: Gowok dan Kawin Kontrak: Perbedaan Dua Praktik yang Sering Dikaitkan dengan Perempuan?
Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan penjelasan dari kreator dalam video dan belum disertai keterangan resmi dari pengelola kawasan maupun pihak terkait mengenai perubahan aturan tersebut.
Ajakan Menghormati Budaya dan Tradisi
Di akhir perjalanan, kreator mengajak masyarakat untuk menghormati budaya, tradisi, serta aktivitas peribadatan yang berlangsung di Gunung Kawi. Ia menilai setiap pengunjung sebaiknya menjaga sikap dan menghargai aturan yang berlaku di kawasan wisata religi tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan Gunung Kawi bukan semata-mata identik dengan berbagai cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki nilai sejarah, budaya, dan akulturasi yang layak dipelajari sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya Indonesia.
Video itu pun ditutup dengan harapan agar masyarakat tetap saling menghormati perbedaan keyakinan serta tidak menjadikan konten di media sosial sebagai pemicu kesalahpahaman terhadap situs budaya maupun tempat ibadah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari