TRENGGALEK, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Gunung Kemukus di Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, selama bertahun-tahun dikenal sebagai lokasi yang dikaitkan dengan ritual pesugihan. Namun, kondisi terkini kawasan tersebut justru menunjukkan perubahan besar setelah pemerintah melakukan penataan dan pengembangan sebagai destinasi wisata religi.
Stigma mengenai Gunung Kemukus sebagai tempat ritual pesugihan masih melekat di masyarakat. Bahkan, banyak orang datang karena penasaran dengan cerita yang menyebut pengunjung harus melakukan ritual tertentu demi memperoleh kekayaan. Namun, juru kunci makam Pangeran Samudro menegaskan anggapan tersebut merupakan kesalahpahaman yang terus berkembang.
Kini, kawasan Gunung Kemukus tampil lebih tertata dengan hadirnya Taman New Kemukus, fasilitas wisata keluarga, hingga akses yang semakin mudah berkat Jembatan Samudro yang membentang di atas genangan Waduk Kedung Ombo.
Juru Kunci Bantah Ritual Menyimpang
Dalam penelusuran di kawasan makam Pangeran Samudro, juru kunci menyampaikan bahwa ritual yang selama ini dikaitkan dengan hubungan badan bersama pasangan yang bukan suami atau istri bukanlah ajaran Pangeran Samudro.
Menurutnya, praktik tersebut muncul akibat ulah oknum yang menyalahartikan sejarah dan memanfaatkan nama Gunung Kemukus untuk kepentingan tertentu.
"Ziarah di makam Pangeran Samudro tidak pernah mengajarkan perbuatan asusila. Datanglah untuk berdoa dan memohon keberkahan sebagaimana berziarah ke makam para wali," jelas juru kunci.
Ia berharap masyarakat tidak lagi mempercayai informasi yang menyimpang dan menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat ibadah serta wisata religi.
Akses Lebih Mudah dan Fasilitas Semakin Lengkap
Perjalanan menuju Gunung Kemukus kini semakin nyaman. Pengunjung akan melewati Jembatan Samudro sepanjang sekitar 432 meter yang dibangun untuk menghubungkan kawasan yang sebelumnya kerap terisolasi ketika debit air Waduk Kedung Ombo meningkat.
Di pintu masuk, wisatawan hanya dikenakan tiket dengan harga terjangkau sebelum memasuki kawasan wisata.
Tak jauh dari gerbang, pengunjung akan menemukan Taman New Kemukus yang menjadi ikon baru. Taman tersebut dipenuhi lampu dekoratif, area duduk, spot foto Instagramable, hingga pemandangan langsung ke arah Waduk Kedung Ombo yang membuat suasana semakin menarik, terutama saat sore hingga malam hari.
Selain itu tersedia pula area parkir, musala, warung makan, kios oleh-oleh, serta sejumlah fasilitas pendukung lain yang membuat kawasan ini lebih ramah bagi wisata keluarga.
Makam Pangeran Samudro Tetap Jadi Daya Tarik
Meski citra kawasan mulai berubah, makam Pangeran Samudro tetap menjadi tujuan utama para peziarah.
Pangeran Samudro dipercaya sebagai keturunan Prabu Brawijaya yang diutus menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut. Hingga kini, makamnya masih ramai dikunjungi rombongan peziarah dari berbagai daerah, terutama pada malam Jumat Pon dan Jumat Kliwon.
Di sekitar kompleks makam juga terdapat Sendang Ontrowulan yang dikenal masyarakat sebagai salah satu lokasi bersejarah sekaligus menjadi bagian dari cerita yang berkembang di Gunung Kemukus.
Pemerintah Ubah Citra Gunung Kemukus
Pengembangan kawasan wisata menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada Gunung Kemukus.
Melalui pembangunan Taman New Kemukus dan berbagai fasilitas wisata, kawasan tersebut kini diarahkan menjadi destinasi wisata religi, wisata keluarga, sekaligus wisata sejarah.
Meski cerita mengenai ritual pesugihan masih menjadi bagian dari sejarah yang dikenal masyarakat, pengelola berharap pengunjung lebih mengenal sosok Pangeran Samudro sebagai tokoh penyebar agama Islam dibanding mempercayai cerita-cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Transformasi ini perlahan mengubah wajah Gunung Kemukus menjadi destinasi yang lebih nyaman, asri, dan edukatif. Kehadiran wisata religi yang dipadukan dengan panorama Waduk Kedung Ombo diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus menghapus citra negatif yang selama bertahun-tahun melekat pada kawasan tersebut.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari