Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal Usul Pesugihan Gunung Kawi Terungkap, Ternyata Berawal dari Ziarah Bukan Ritual Kekayaan Instan

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Senin, 6 Juli 2026 | 18:10 WIB
Pesugihan Gunung Kawi ternyata berawal dari tradisi ziarah. Simak sejarah, mitos, dan fakta yang membuat kawasan ini identik dengan pencari kekayaan. (Youtube. com)
Pesugihan Gunung Kawi ternyata berawal dari tradisi ziarah. Simak sejarah, mitos, dan fakta yang membuat kawasan ini identik dengan pencari kekayaan. (Youtube. com)

TRENGGALEK, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Pesugihan Gunung Kawi selama bertahun-tahun menjadi salah satu topik paling banyak diperbincangkan masyarakat Indonesia. Gunung yang berada di Kabupaten Malang, Jawa Timur, ini kerap dikaitkan dengan praktik mencari kekayaan instan melalui cara-cara mistis. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, sejarah Pesugihan Gunung Kawi ternyata tidak sesederhana cerita yang berkembang di masyarakat.

Berbagai kisah yang beredar menyebut Gunung Kawi sebagai tempat untuk memperoleh rezeki melalui ritual tertentu. Padahal, berdasarkan sejarah dan tradisi yang berkembang, kawasan tersebut sejak awal lebih dikenal sebagai pusat ziarah dan laku spiritual dibandingkan tempat menjalankan ritual pesugihan.

Seiring berjalannya waktu, berbagai cerita lisan, pengalaman para peziarah, hingga berkembangnya mitos membuat citra Pesugihan Gunung Kawi semakin melekat di benak masyarakat. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan beragam persepsi, mulai dari keyakinan spiritual hingga kisah-kisah mistis yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Baca Juga: Pesona Hidden Gem Bali: Rahasia Air Terjun Wana Ayu dan Ritual Melukat Suci di Pura Gunung Kawi Sebatu yang Bikin Tenang

Berawal dari Makam Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Sujono

Secara geografis, Gunung Kawi berada di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dalam budaya Jawa, kawasan pegunungan sejak lama dipercaya sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual tinggi sekaligus menjadi penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta.

Popularitas Gunung Kawi bermula dari keberadaan makam Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Sujono. Kedua tokoh tersebut dikenal sebagai sosok yang dihormati karena kebijaksanaan, ajaran spiritual, serta pengaruhnya di tengah masyarakat.

Masyarakat yang datang ke makam keduanya pada awalnya bukan untuk mencari kekayaan secara instan. Mereka menjalani ziarah, berdoa, bertirakat, serta memohon keselamatan, ketenteraman hidup, dan kelancaran usaha.

Baca Juga: Waduk Selorejo Ngantang Malang Jadi Surga Healing, View Gunung Kawi dan Kelud Bikin Wisatawan Enggan Pulang

Mitos Pesugihan Mulai Berkembang

Perubahan persepsi mulai muncul ketika sejumlah peziarah mengaku mengalami perubahan nasib setelah rutin berziarah ke Gunung Kawi. Ada yang usahanya berkembang, hasil panennya meningkat, hingga memperoleh keberhasilan dalam perdagangan.

Cerita-cerita tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan perlahan membentuk keyakinan baru di masyarakat. Gunung Kawi kemudian tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah dan refleksi spiritual, tetapi juga dikaitkan dengan harapan memperoleh rezeki yang melimpah.

Dari sinilah istilah pesugihan Gunung Kawi mulai dikenal luas, meski tidak pernah didukung bukti sejarah yang menunjukkan adanya praktik resmi mencari kekayaan melalui ritual gaib.

Baca Juga: Lembah Indah Malang, Sensasi Glamping di Kaki Gunung Kawi dengan View Alam, Playground Anak, hingga Mini Peternakan

Pohon Dewandaru Ikut Menjadi Simbol Keberuntungan

Salah satu ikon yang turut memperkuat mitos tersebut adalah Pohon Dewandaru yang berada di kawasan makam.

Banyak masyarakat percaya daun atau buah yang jatuh dari pohon tersebut merupakan pertanda datangnya keberuntungan. Tak sedikit peziarah yang berharap memperoleh daun atau buah Dewandaru sebagai simbol rezeki.

Namun, menurut pengelola kawasan dan para juru kunci, Pohon Dewandaru lebih dimaknai sebagai lambang keberkahan bagi mereka yang sabar, tekun, dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan, bukan sebagai benda yang memiliki kekuatan gaib.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali, Status Naik Jadi Level III Siaga, Warga Dilarang Dekati Radius 3 Kilometer

Pesugihan dalam Budaya Jawa Memiliki Makna Berbeda

Dalam tradisi Jawa, istilah pesugihan sebenarnya tidak selalu identik dengan perjanjian gaib atau tumbal.

Makna awal pesugihan lebih mengarah pada proses tirakat, puasa, semedi, pengendalian hawa nafsu, serta latihan spiritual yang dilakukan secara disiplin demi memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Namun seiring berkembangnya cerita mistis, makna tersebut mengalami pergeseran. Muncullah berbagai kisah mengenai tumbal, perjanjian dengan makhluk gaib, hingga kekayaan instan yang kemudian melekat pada citra Gunung Kawi.

Baca Juga: Pendakian Gunung Arjuno via Sumber Brantas Berakhir Tanpa Summit, Ini Cerita Seru Bang IQ TV di Lembah Lengkehan

Salah satu cerita yang paling populer adalah ritual menggunakan wedus gendit atau kambing dengan garis melingkar di bagian perut sebagai syarat ritual tertentu. Meski demikian, masyarakat sekitar menegaskan tidak ada bukti sejarah maupun catatan resmi yang membenarkan kisah tersebut.

Gunung Kawi Tetap Menjadi Destinasi Spiritual

Hingga sekarang, warga sekitar tetap memandang Gunung Kawi sebagai tempat ziarah, wisata religi, serta kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.

Banyak akademisi juga menilai mitos pesugihan yang berkembang merupakan konstruksi sosial yang lahir dari perpaduan tradisi, kondisi ekonomi masyarakat, cerita rakyat, dan pengaruh media populer.

Baca Juga: Pendakian Gunung Sindoro via Kledung Viral, Ternyata Turunnya Lebih Sulit daripada Naik

Pada akhirnya, Gunung Kawi menjadi simbol perjalanan spiritual sekaligus cerminan harapan manusia untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Di balik berbagai kisah mistis yang terus berkembang, tidak ada bukti bahwa Gunung Kawi mampu memberikan kekayaan tanpa usaha. Yang tetap bertahan hingga kini adalah nilai spiritual, tradisi ziarah, serta pelajaran bahwa keberhasilan membutuhkan doa, ikhtiar, dan kerja keras.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
#pesugihan Gunung Kawi #Ziarah Gunung Kawi #Mitos Gunung Kawi #Eyang Jugo #gunung kawi