MALANG, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Gunung Kawi kembali menjadi perbincangan setelah sebuah video YouTube mengulas langsung aktivitas di kawasan yang selama ini identik dengan ritual spiritual dan mitos pesugihan. Penelusuran tersebut memperlihatkan berbagai sudut lokasi, mulai dari keraton, tempat pertapaan, hingga buku permohonan yang diisi para pengunjung.
Selama bertahun-tahun, Gunung Kawi dikenal sebagai salah satu destinasi wisata spiritual di Kabupaten Malang. Tak sedikit orang datang dengan berbagai tujuan, mulai dari ziarah, mempelajari sejarah, hingga menjalankan ritual sesuai keyakinan masing-masing.
Dalam video tersebut, kreator konten menyusuri hampir seluruh area Keraton Gunung Kawi bersama juru kunci. Berbagai benda ritual seperti dupa, bunga, kopi, hingga daftar permohonan pengunjung menjadi perhatian karena selama ini sering dikaitkan dengan praktik ngalap berkah.\
Keraton Gunung Kawi Dipenuhi Perlengkapan Ritual
Sesaat memasuki kawasan keraton, terlihat sejumlah perlengkapan yang biasa digunakan dalam ritual, seperti dupa yang masih menyala, bunga tabur, sesaji, kopi, hingga lilin yang terus menyala di dalam ruangan.
Kreator konten menjelaskan bahwa menurut penjelasan yang pernah diterimanya mengenai tradisi Kejawen, dupa digunakan sebagai simbol doa yang dipercaya naik bersama asap menuju langit. Namun, ia juga menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan yang dianut sebagian masyarakat.
Di dalam ruangan utama, aroma dupa sangat terasa. Beberapa meja dipenuhi sesaji berupa kopi, bunga, hingga bahan lain yang telah mengering karena telah lama diletakkan di lokasi tersebut.
Buku Permohonan Berisi Beragam Harapan Pengunjung
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah keberadaan buku tamu atau buku permohonan yang dapat diisi pengunjung.
Di dalamnya tertulis berbagai harapan, mulai dari kelancaran usaha, pelunasan utang, kesehatan keluarga, hingga permintaan agar memperoleh rezeki yang lebih baik.
Beberapa pengunjung bahkan menuliskan nama lengkap, alamat, jenis usaha, serta tujuan kedatangannya ke Gunung Kawi. Ada pula yang berharap usahanya berkembang, mendapatkan jodoh, hingga memperoleh keberuntungan dalam kehidupan.
Baca Juga: Pendakian Gunung Sindoro Bersama Pendaki Singapura, Kisah Pak Zulka Cari Jati Diri Jadi Sorotan
Juru kunci menjelaskan bahwa buku tersebut menjadi salah satu media penyampaian hajat para tamu yang datang ke kawasan tersebut.
Juru Kunci Jelaskan Tradisi yang Berlaku
Dalam kesempatan itu, juru kunci menjelaskan terdapat tata cara tertentu bagi tamu yang ingin menjalankan ritual.
Ia menyebut sesaji biasanya terdiri atas dua gelas kopi pahit, teh manis, nasi putih, bunga, serta dupa atau menyan yang dibakar pada waktu tertentu, khususnya malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon.
Menurutnya, permohonan tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sedangkan tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut dipandang sebagai perantara dalam tradisi spiritual yang berkembang di kawasan Gunung Kawi.
Selain itu, bunga yang telah digunakan dalam ritual kemudian dikeringkan dan dikenal sebagai "bunga layon". Sebagian pengunjung membawanya pulang untuk disimpan di dompet atau tempat penyimpanan uang karena dipercaya membawa keberuntungan menurut keyakinan tertentu.
Foto Pengunjung Juga Dipasang
Hal lain yang cukup unik adalah banyaknya foto pengunjung yang dipasang di area keraton.
Juru kunci mengatakan foto-foto tersebut berasal dari tamu yang datang dan menjadi bagian dari syarat ritual sesuai kepercayaan masing-masing. Jika jumlahnya sudah terlalu banyak, foto-foto lama akan dipindahkan ke tempat penyimpanan khusus.
Tak hanya masyarakat umum, menurut juru kunci, terdapat pula foto pejabat, pengusaha, hingga tamu dari berbagai daerah yang pernah berkunjung ke lokasi tersebut.
Kawasan Gunung Kawi Juga Memiliki Nilai Sejarah
Selain dikenal karena mitos spiritualnya, kawasan Gunung Kawi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya.
Di lokasi tersebut terdapat situs Keraton Gunung Kawi, makam tokoh yang dihormati masyarakat setempat, area pertapaan, pura, vihara, serta musala yang sedang dibangun.
Keberadaan berbagai tempat ibadah tersebut menunjukkan kawasan ini juga menjadi simbol keberagaman karena digunakan oleh pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda.
Kreator konten pun memilih tidak memasuki beberapa area ibadah secara penuh sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan yang dianut masing-masing umat.
Disarankan Datang untuk Belajar Budaya
Pada akhir video, kreator menyampaikan pandangannya bahwa Gunung Kawi lebih tepat dikunjungi untuk mempelajari sejarah, budaya, dan tradisi masyarakat setempat dibanding hanya terpaku pada mitos pesugihan yang selama ini berkembang.
Ia juga menyebut banyak warga Malang sendiri yang tidak mempercayai anggapan bahwa kekayaan seseorang berasal dari ritual di Gunung Kawi. Menurutnya, setiap orang bebas meyakini ajaran agamanya masing-masing, sementara keberadaan kawasan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya yang masih lestari hingga sekarang.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari