MALANG, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Gunung Kawi kembali menjadi sorotan setelah seorang kreator konten nekat menjelajahi kawasan hutan di sekitar lokasi pada malam hari. Aksi tersebut dilakukan untuk membuktikan berbagai mitos yang menyebut kawasan tersebut menjadi lokasi pesugihan Gunung Kawi.
Berbekal senter dan kamera, ia memulai perjalanan seorang diri menyusuri jalur menuju puncak Gunung Kawi. Penelusuran itu dilakukan setelah banyak warganet meminta agar eksplorasi dilakukan tanpa pendamping, terutama di area hutan yang disebut-sebut lebih angker dibanding kawasan keraton.
Selama perjalanan, kreator konten berusaha mencari tanda-tanda ritual seperti sesaji, dupa, maupun lokasi yang sering dikaitkan dengan praktik pesugihan. Namun, hasil yang ditemukannya justru berbeda dari berbagai cerita yang selama ini beredar.
Menyusuri Jalur Hutan Gunung Kawi Tengah Malam
Perjalanan dimulai dari jalur setapak yang dipenuhi batu dan tanjakan. Kondisi jalan cukup licin karena hujan mengguyur kawasan tersebut sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati.
Kabut tebal juga menyelimuti kawasan hutan sehingga jarak pandang menjadi sangat terbatas. Sepanjang perjalanan, tidak ditemukan penerangan sama sekali selain cahaya senter yang dibawanya.
Beberapa kali ia menemukan percabangan jalan yang membuatnya harus menentukan arah secara hati-hati agar tidak tersesat. Bahkan salah satu jalur yang dicoba ternyata buntu dan mengharuskannya kembali ke titik sebelumnya.
Mencari Lokasi yang Disebut Tempat Pesugihan
Salah satu tujuan utama eksplorasi malam itu adalah mencari lokasi yang menurut cerita masyarakat digunakan untuk ritual pesugihan.
Namun setelah berjalan cukup jauh menanjak, tidak ditemukan sesaji, dupa, maupun aktivitas ritual seperti yang dibayangkan banyak orang.
Yang terlihat justru hanya pepohonan, batu-batu licin, semak belukar, serta bekas penebangan pohon. Beberapa jalur bahkan sudah tertutup rumput karena jarang dilewati.
Ia mengaku belum mengetahui apakah lokasi ritual yang dimaksud berada lebih tinggi lagi atau memang sudah tidak digunakan seperti cerita yang berkembang selama ini.
Medan yang Berat Jadi Tantangan Terbesar
Alih-alih menemukan hal-hal mistis, tantangan terbesar justru berasal dari kondisi alam.
Jalur yang terus menanjak membuat tenaga cepat terkuras. Ditambah hujan yang membuat bebatuan menjadi licin, perjalanan dinilai jauh lebih berbahaya dibanding cerita-cerita horor yang sering dikaitkan dengan Gunung Kawi.
Kreator konten beberapa kali berhenti untuk beristirahat karena kelelahan. Ia juga memilih tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak demi menghindari risiko tersesat atau kehabisan tenaga saat turun.
Menurutnya, bahaya terbesar saat menjelajah malam hari adalah kemungkinan terpeleset ke jurang atau mengalami kecelakaan akibat kondisi jalan yang licin.
Tidak Menemukan Aktivitas Ritual
Selama eksplorasi berlangsung, tidak terlihat adanya aktivitas orang yang sedang menjalankan ritual maupun keberadaan sesaji di jalur pendakian.
Ia menyebut perlengkapan ritual seperti dupa dan sesaji justru lebih banyak ditemukan di kawasan Keraton Gunung Kawi yang telah dikunjunginya pada video sebelumnya.
Sementara di jalur hutan menuju puncak, suasana cenderung sepi tanpa aktivitas apa pun selain suara alam dan kabut yang menyelimuti kawasan pegunungan.
Imbauan Tidak Meniru Aksi Berbahaya
Kreator konten juga mengingatkan agar penonton tidak meniru aksinya menjelajah hutan seorang diri pada malam hari.
Menurutnya, kondisi jalur yang licin, minim penerangan, serta medan yang cukup berat membuat perjalanan memiliki risiko tinggi apabila dilakukan tanpa persiapan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan kawasan hutan dengan tidak membuang sampah sembarangan karena hal tersebut merupakan etika yang harus diterapkan di mana pun berada.
Menilai Mitos Pesugihan Perlu Disikapi Bijak
Di akhir video, kreator konten menyampaikan pandangannya mengenai mitos pesugihan yang selama ini melekat dengan Gunung Kawi.
Menurutnya, selama melakukan penelusuran tidak ditemukan bukti yang dapat menunjukkan adanya praktik pesugihan di jalur hutan yang ia lewati. Ia menilai keberhasilan seseorang tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan ritual tertentu.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menyikapi berbagai cerita yang berkembang secara bijak. Bagi yang ingin datang ke Gunung Kawi, ia menyarankan menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat menikmati alam, mempelajari sejarah, serta mengenal budaya lokal yang berkembang di sekitarnya, tanpa harus mempercayai seluruh mitos yang beredar.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari