Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal Usul Trenggalek dari Legenda Menak Sopal, Bermula dari Putri Majapahit hingga Lahir Nama Daerah

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Kamis, 16 Juli 2026 | 21:00 WIB
Asal usul Trenggalek dikisahkan melalui legenda Menak Sopal, Raden Ayu Saraswati, Bendungan Bagong, hingga lahirnya nama Trenggalek. (Youtube. com)
Asal usul Trenggalek dikisahkan melalui legenda Menak Sopal, Raden Ayu Saraswati, Bendungan Bagong, hingga lahirnya nama Trenggalek. (Youtube. com)

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Asal usul Trenggalek menjadi salah satu cerita rakyat yang masih dikenal masyarakat hingga kini. Legenda tersebut berkisah tentang Menak Sopal, seorang pemuda sakti yang berjasa membangun bendungan demi mengatasi kekeringan, sekaligus menjadi bagian dari kisah lahirnya nama Trenggalek.

Cerita bermula pada masa wilayah Sendang Kamulyan masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Saat itu, putri tunggal raja, Raden Ayu Saraswati, menderita penyakit aneh yang membuat tubuhnya mengeluarkan bau amis menyengat.

Berbagai tabib dari berbagai penjuru negeri telah dipanggil untuk mengobati sang putri. Namun, seluruh usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Demi menjaga kehormatan kerajaan sekaligus mencari jalan penyembuhan, sang raja akhirnya menerima usulan patih untuk menitipkan Raden Ayu Saraswati di Padepokan Sinawang yang berada di wilayah barat kerajaan.

Baca Juga: 5 Pantai Trenggalek Terbaik untuk Liburan, dari Pantai Mutiara hingga Pantai Pelang yang Masih Alami

Raden Ayu Saraswati Diobati di Padepokan Sinawang

Ki Ageng Sinawang selaku pemimpin padepokan menerima kedatangan Patih Majapahit dan Raden Ayu Saraswati dengan penuh hormat. Meski demikian, para murid padepokan kesulitan menahan bau amis yang keluar dari tubuh sang putri.

Selama tinggal di padepokan, Raden Ayu Saraswati menjalani pengobatan dengan berendam di Sungai Bagong. Hari demi hari berlalu, tetapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Bahkan bau amis yang muncul dari tubuhnya semakin menyengat hingga membuatnya hampir kehilangan harapan.

Memasuki hari ke-40 berendam, datang seorang pemuda tampan yang menghampiri sang putri. Pemuda tersebut bertanya mengenai sumber bau amis yang memenuhi kawasan sungai.

Setelah mengetahui penyebabnya, pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam air Sungai Bagong. Air sungai mendadak bergejolak layaknya mendidih, tetapi tetap terasa sejuk.

Baca Juga: 12 Tempat Wisata Trenggalek yang Wajib Dikunjungi, Tak Hanya Pantai tetapi Juga Goa hingga Air Terjun

Tak lama kemudian, gejolak air mereda. Pada saat itulah bau amis yang selama ini melekat pada tubuh Raden Ayu Saraswati mendadak menghilang.

Singkat cerita, pemuda tersebut kemudian menikahi Raden Ayu Saraswati. Sang Raja Majapahit turut hadir memberikan restu dan mengizinkan putrinya menetap di Padepokan Sinawang.

Menak Sopal Lahir dengan Tanda Istimewa

Beberapa waktu setelah menikah, Raden Ayu Saraswati mengandung. Selama masa kehamilan, sang suami memilih bertapa agar anak yang akan lahir menjadi pribadi yang berguna bagi banyak orang.

Sebelum berangkat bertapa, ia berpesan agar istrinya tidak mengambil jemuran sebelum senja dan tidak memasuki tempat pertapaannya.

Baca Juga: Piala Suratin di Trenggalek Tak Maksimal, Administrasi Jlimet Jadi Penyebab

Pada awalnya, Raden Ayu Saraswati mematuhi pesan tersebut. Namun menjelang persalinan, ia mulai melanggarnya. Ia mengambil jemuran sebelum senja dan akhirnya nekat mendatangi tempat pertapaan suaminya.

Di tempat itu, ia terkejut melihat seekor buaya putih. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal.

Sejak bayi, Menak Sopal menunjukkan keistimewaan. Setiap malam tubuhnya memancarkan cahaya menyerupai kunang-kunang, yang diyakini menjadi pertanda bahwa kelak ia akan tumbuh menjadi sosok luar biasa.

Ketika beranjak dewasa, Menak Sopal menguasai berbagai ilmu yang diajarkan Ki Ageng Sinawang. Ia juga mewarisi ilmu Malih Rupa dari ayahnya yang mampu mengubah dirinya menjadi seekor harimau.

Baca Juga: MI Plus Walisongo Trenggalek Sukses Gelar Coding Adventure 2026, Kembangkan lewat Ekstrakurikuler, Kini Siswa Mampu Ciptakan Game Interaktif

Bendungan Bagong Dibangun Demi Warga

Menak Sopal dikenal sebagai pemuda yang gemar menolong sesama. Suatu ketika, warga sekitar Padepokan Sinawang mengalami kesulitan memperoleh air sehingga sawah dan ladang mereka terancam kekeringan.

Setelah menyelidiki kondisi Sungai Bagong selama beberapa hari, Menak Sopal memutuskan membangun bendungan. Ia mengajak para pemuda desa dan murid-murid padepokan bergotong royong menyelesaikan pembangunan tersebut.

Bendungan akhirnya selesai dibangun. Namun setiap malam bendungan itu selalu roboh secara misterius.

Kejadian tersebut terus berulang meski warga berkali-kali memperbaikinya. Menggunakan kemampuan batinnya, Menak Sopal akhirnya mengetahui bahwa bendungan dirusak seekor buaya putih raksasa yang menghancurkannya menggunakan ekor.

Baca Juga: Suzuki Karimun Wagon R GLD Lago 2014 Bekas Masih Diburu, Simak Spesifikasi, Harga dan Pajaknya JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Suzuki Karimun Wagon R GLD Lago 2014 mas

Buaya putih itu meminta kepala gajah putih sebagai syarat agar tidak lagi merusak bendungan.

Pengorbanan Gajah Putih dan Lahirnya Bendungan

Atas saran seorang pemuda desa, Menak Sopal mendatangi Mbok Rondo Krandon yang memelihara seekor gajah putih. Setelah memperoleh izin meminjamnya, Menak Sopal membawa gajah tersebut menuju lokasi bendungan.

Di tempat itu, gajah putih disembelih dan kepalanya dilemparkan ke Sungai Bagong sebagai persembahan kepada buaya putih.

Sesudahnya, bendungan dibangun kembali oleh warga. Kali ini bendungan berdiri kokoh dan tidak pernah roboh lagi sehingga mampu menampung air Sungai Bagong untuk mengairi sawah serta ladang masyarakat.

Namun persoalan belum berakhir. Mbok Rondo Krandon kemudian menunggu kepulangan gajah putihnya. Setelah mengetahui hewan tersebut telah disembelih, ia marah dan mengajak penduduk menyerang Padepokan Sinawang.

Baca Juga: MTsN 2 Trenggalek Resmi Sandang Predikat Madrasah Pramuka Pertama di Jawa Timur

Menak Sopal memilih menghindari pertikaian. Saat dikejar warga, ia melarikan diri hingga akhirnya terjun ke Sungai Bagong.

Di dalam sungai, Menak Sopal justru diselamatkan oleh buaya putih yang membawanya ke tempat aman bernama Sumur Gumuling.

Menjadi Asal Mula Nama Trenggalek

Sementara itu, Mbok Rondo Krandon mendatangi Padepokan Sinawang untuk meminta penjelasan. Ki Ageng Sinawang menerangkan bahwa pengorbanan gajah putih dilakukan demi menghentikan gangguan buaya putih sehingga bendungan dapat berdiri dan kebutuhan air masyarakat terpenuhi.

Setelah mengetahui alasan tersebut, kemarahan Mbok Rondo Krandon akhirnya mereda.

Baca Juga: Bukannya Membimbing, Askab PSSI Trenggalek Justru Ambil Alih Akun SSB

Dalam kisah tersebut disebutkan, Ki Ageng Sinawang kemudian mengucapkan kalimat "teranging penggalih" sebagai bentuk penghormatan atas kebesaran hati Mbok Rondo Krandon yang akhirnya memahami pengorbanan Menak Sopal.

Seiring berjalannya waktu, penyebutan "teranging penggalih" mengalami perubahan pengucapan hingga kemudian dikenal sebagai Trenggalek. Legenda inilah yang dipercaya menjadi salah satu cerita mengenai asal usul nama daerah tersebut.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : gromore studio series
Raden Ayu Saraswati Legenda Menak Sopal bendungan bagong Asal Usul Trenggalek Padepokan Sinawang