Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Trenggalek dari Zaman Prasejarah hingga Jadi Kabupaten, Menak Sopal Jadi Tokoh Penting

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Kamis, 16 Juli 2026 | 21:10 WIB
Sejarah Trenggalek dimulai sejak zaman prasejarah, masa Majapahit, legenda Menak Sopal, hingga resmi menjadi kabupaten di Indonesia. (Youtube. com)
Sejarah Trenggalek dimulai sejak zaman prasejarah, masa Majapahit, legenda Menak Sopal, hingga resmi menjadi kabupaten di Indonesia. (Youtube. com)

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Sejarah Trenggalek menyimpan perjalanan panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah hingga berkembang menjadi sebuah kabupaten di Jawa Timur. Berdasarkan kisah dalam transkrip video, wilayah ini telah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam, mengalami pengaruh kerajaan-kerajaan besar, masa penjajahan, hingga akhirnya menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perjalanan panjang tersebut tidak hanya ditandai oleh berbagai peninggalan arkeologi, tetapi juga legenda Menak Sopal yang diyakini menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan wilayah Trenggalek. Kisah pembangunan Bendungan Bagong menjadi bagian yang paling melekat dalam sejarah masyarakat setempat.

Seiring perkembangan zaman, Trenggalek mengalami perubahan dari kawasan hunian manusia purba menjadi wilayah yang dipengaruhi budaya Hindu-Buddha, Islam, kolonialisme Belanda dan Jepang, hingga memasuki era kemerdekaan dan pembangunan modern.

Baca Juga: 12 Tempat Wisata Trenggalek yang Wajib Dikunjungi, Tak Hanya Pantai tetapi Juga Goa hingga Air Terjun

Jejak Manusia Prasejarah dan Kebudayaan Megalitikum

Transkrip menyebut wilayah Trenggalek telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Bukti arkeologis berupa kapak genggam, serpih batu, hingga fosil ditemukan di kawasan Watulimo dan Dongko.

Masyarakat pada masa itu hidup secara nomaden dengan berburu serta mengumpulkan makanan. Mereka kemudian mulai mengenal bercocok tanam sederhana berkat kondisi geografis Trenggalek yang memiliki sungai, lembah subur, dan kawasan pegunungan.

Memasuki masa megalitikum, masyarakat mulai membangun kehidupan yang lebih menetap. Di wilayah Kampak dan Munjungan ditemukan dolmen, menhir, meja batu, serta batu kubur yang menunjukkan berkembangnya sistem kepercayaan dan ritual leluhur.

Baca Juga: MTsN 2 Trenggalek Resmi Sandang Predikat Madrasah Pramuka Pertama di Jawa Timur

Peninggalan tersebut juga menjadi bukti bahwa masyarakat Trenggalek telah memiliki struktur sosial yang lebih terorganisasi jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

Pengaruh Hindu-Buddha hingga Masa Majapahit

Perkembangan berikutnya terjadi ketika wilayah Trenggalek mendapat pengaruh kerajaan Hindu-Buddha seperti Kanjuruhan dan Kediri.

Pengaruh tersebut terlihat dari ditemukannya arca, relief, dan berbagai peninggalan yang menggambarkan kisah Ramayana maupun Mahabharata. Agama Hindu-Buddha turut membawa perubahan dalam sistem pemerintahan, kehidupan sosial, seni, sastra, serta penggunaan aksara Sanskerta.

Pada abad ke-13 hingga ke-15, Trenggalek menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Dalam transkrip disebutkan wilayah ini memiliki posisi strategis sebagai pemasok hasil pertanian dan kayu yang dibutuhkan kerajaan.

Baca Juga: Dari Pantai Cengkrong, DLH Kampanyekan Pengelolaan Sampah Mandiri Bersamaan Launching Trenggalek Asri, Tekankan Kelola Sampah Dimulai dari Diri

Pemerintahan lokal mulai dijalankan secara lebih terorganisasi melalui para adipati. Tradisi kerajaan juga memengaruhi sistem hukum, administrasi, hingga perkembangan seni dan arsitektur.

Legenda Menak Sopal dan Bendungan Bagong

Bagian penting dalam sejarah Trenggalek adalah legenda Menak Sopal.

Tokoh ini digambarkan sebagai bangsawan yang memiliki keberanian dan ilmu kanuragan tinggi. Ia dipercaya menjadi sosok yang membuka kawasan Trenggalek dengan membangun Bendungan Bagong untuk mengendalikan aliran Sungai Kalingasinan.

Menurut cerita dalam transkrip, pembangunan bendungan tersebut bukan pekerjaan mudah. Menak Sopal menghadapi berbagai tantangan yang bahkan melibatkan kekuatan gaib dan ilmu supranatural.

Baca Juga: Antrean Kendaraan Mengular di Pesisir Selatan, Inilah Destinasi Wisata Pantai Selatan Trenggalek yang Paling Favorit untuk Liburan Akhir Pekan 2026

Keberhasilan pembangunan Bendungan Bagong memungkinkan masyarakat memperoleh pasokan air untuk pertanian. Bendungan tersebut kemudian menjadi simbol awal berkembangnya permukiman sekaligus peradaban di Trenggalek.

Legenda Menak Sopal juga disebut masih dihormati masyarakat hingga sekarang sebagai lambang kepemimpinan, keberanian, dan pengabdian kepada rakyat.

Menjadi Kadipaten hingga Datangnya Islam

Pada akhir abad ke-16, Trenggalek disebut resmi menjadi sebuah kadipaten di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram Islam.

Dalam transkrip dijelaskan Menak Sopal atau keturunannya diyakini menjadi adipati pertama yang memimpin wilayah tersebut. Trenggalek kemudian berkembang sebagai pusat pemerintahan sekaligus penyebaran agama Islam.

Baca Juga: Dari Pantai Cengkrong, DLH Kampanyekan Pengelolaan Sampah Mandiri Bersamaan Launching Trenggalek Asri, Tekankan Kelola Sampah Dimulai dari Diri

Pesantren mulai berdiri sebagai pusat pendidikan agama. Penyebaran Islam berlangsung secara damai dengan tetap mempertahankan tradisi lokal yang telah berkembang sebelumnya.

Peran adipati tidak hanya mengatur pemerintahan, tetapi juga menjadi pelindung kehidupan keagamaan dan budaya masyarakat.

Masa Kolonial hingga Perjuangan Kemerdekaan

Sejarah Trenggalek kemudian memasuki masa kolonial ketika VOC datang karena tertarik pada kekayaan alam, terutama kayu jati dan hasil pertanian.

Pemerintah kolonial menerapkan sistem monopoli perdagangan, tanam paksa, serta membangun berbagai infrastruktur seperti jalan, kantor pemerintahan, dan fasilitas pengawasan.

Baca Juga: Program Pemkab Trenggalek Desa Nol Perkawinan Anak Diganjar PPA Award Bupati Terima PPA Award, Program Diakui Pemprov Jatim

Meski berada di bawah tekanan kolonial, masyarakat Trenggalek disebut tetap melakukan berbagai bentuk perlawanan yang dipimpin tokoh adat maupun ulama.

Saat pendudukan Jepang pada 1942, masyarakat menghadapi kerja paksa Romusha yang menimbulkan penderitaan. Namun, masa tersebut juga memunculkan semangat nasionalisme yang semakin kuat menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Setelah 17 Agustus 1945, masyarakat Trenggalek ikut mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Baca Juga: Bukannya Membimbing, Askab PSSI Trenggalek Justru Ambil Alih Akun SSB

Resmi Menjadi Kabupaten dan Terus Berkembang

Transkrip menjelaskan bahwa pada 1950 Trenggalek resmi ditetapkan sebagai kabupaten dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia.

Status tersebut menjadi dasar pembentukan pemerintahan daerah sekaligus mempercepat pembangunan di bidang pertanian, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Pada masa Orde Baru, pembangunan jalan lintas selatan serta modernisasi pertanian menjadi fokus pemerintah. Setelah era Reformasi 1998, pelaksanaan otonomi daerah memberikan kewenangan lebih besar kepada pemerintah kabupaten untuk mengembangkan potensi lokal.

Baca Juga: Suzuki Karimun Wagon R GLD Lago 2014 Bekas Masih Diburu, Simak Spesifikasi, Harga dan Pajaknya JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Suzuki Karimun Wagon R GLD Lago 2014 mas

Kini Trenggalek dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan wisata alam dan budaya. Pantai Prigi, Pantai Pelang, tradisi Larung Sembonyo, serta kesenian Turonggo Yakso menjadi bagian dari identitas daerah yang terus dilestarikan.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga disebut terus mengembangkan sektor pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, serta pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa sejarah Trenggalek tidak hanya dibangun oleh peristiwa politik, tetapi juga oleh budaya, legenda, serta semangat masyarakat dalam menjaga identitas daerahnya.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Sang Legenda
sejarah Trenggalek dari zaman prasejarah hingga menjadi kabupaten sejarah trenggalek Menak sopal bendungan bagong Asal Usul Trenggalek