TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Asal usul nama Trenggalek menjadi salah satu legenda yang masih hidup di tengah masyarakat Jawa Timur. Dalam kisah yang berkembang secara turun-temurun, nama Trenggalek dipercaya berasal dari cahaya kebijaksanaan seorang pertapa bernama Ki Ageng Galek yang tinggal di sebuah lembah di wilayah selatan Jawa Timur.
Legenda tersebut menceritakan bahwa wilayah yang kini menjadi Kabupaten Trenggalek dahulu berupa lembah sunyi yang dikelilingi pegunungan, hutan lebat, dan sungai-sungai jernih. Masyarakat hidup berdampingan dengan alam serta meyakini kawasan itu dijaga oleh Danyang Kaligayam, roh penjaga sungai yang dipercaya memberikan hujan kepada mereka yang tulus berdoa.
Di tengah kehidupan masyarakat itu, muncul sosok Ki Ageng Galek yang dikenal sebagai pertapa berhati bersih dan penuh kebijaksanaan. Dari padepokannya yang berada di kaki gunung, setiap malam tampak cahaya lembut memancar ke langit hingga menjadi asal mula lahirnya nama Trenggalek.
Legenda Ki Ageng Galek Jadi Asal Nama Trenggalek
Dalam transkrip disebutkan masyarakat kala itu menyebut cahaya yang memancar dari padepokan Ki Ageng Galek sebagai "Terang Ingalek", yakni tempat bersinarnya cahaya hati.
Seiring berjalannya waktu, penyebutan tersebut berubah menjadi Trenggalek. Nama itu kemudian dipercaya sebagai simbol cahaya batin, ketulusan, dan kebijaksanaan yang diwariskan oleh sang pertapa kepada masyarakat.
Legenda lain dalam transkrip juga mengisahkan asal usul nama Trenggalek dari peristiwa ketika wilayah tersebut dilanda kegelapan akibat gangguan makhluk halus dari hutan sekitar.
Ki Ageng Galek kemudian menyalakan obor besar di tengah desa. Cahaya obor itu dipercaya mampu menerangi kampung sekaligus mengusir kegelapan yang selama ini menghantui warga.
Baca Juga: Piala Suratin di Trenggalek Tak Maksimal, Administrasi Jlimet Jadi Penyebab
Sejak saat itu masyarakat menyebut kawasan tersebut sebagai "Terang e Galek" atau cahaya milik Galek. Penyebutan itu kemudian mengalami perubahan hingga menjadi Trenggalek seperti yang dikenal sekarang.
Dalam pandangan masyarakat Jawa yang dikisahkan dalam video, cahaya bukan hanya berarti sinar yang menerangi mata, tetapi juga melambangkan kejernihan hati, ilmu, dan kebijaksanaan.
Alam Trenggalek Dipercaya Sarat Nilai Spiritual
Selain membahas asal nama daerah, transkrip juga menggambarkan kondisi geografis Trenggalek yang berada di bagian selatan Provinsi Jawa Timur.
Wilayah ini diapit perbukitan hijau, pegunungan, serta Samudra Hindia di sisi selatan. Sementara kawasan utara dan barat dipenuhi hutan yang diyakini masyarakat kuno sebagai tempat bersemayam roh leluhur.
Baca Juga: Classmeet SMKN 2 Trenggalek Tak Sekadar Hiburan, Jadi Ajang Lahirkan Talenta Esport Berprestasi
Dalam cerita tersebut, Gunung Wilis menjadi salah satu lokasi yang disakralkan. Gunung itu dipercaya sebagai tempat para pertapa mencari ketenangan jiwa.
Kabut yang kerap muncul di lereng Gunung Wilis disebut masyarakat sebagai napas para dewa. Konon, siapa pun yang mampu bermeditasi di tengah kabut dipercaya akan memperoleh pencerahan dan kekuatan batin.
Transkrip juga menyebut Sungai Ngasinan dipercaya membawa tuah. Sebagian masyarakat melakukan ritual sederhana menjelang bulan Suro dengan mandi atau berwudu di sungai tersebut sebagai simbol membersihkan diri dari energi buruk serta memohon rezeki.
Perjalanan Sejarah dari Kerajaan hingga Kemerdekaan
Sejarah Trenggalek dalam transkrip juga dikaitkan dengan masa kerajaan di Pulau Jawa.
Baca Juga: Piala Suratin di Trenggalek Tak Maksimal, Administrasi Jlimet Jadi Penyebab
Wilayah ini disebut pernah berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram Kuno, Kediri, hingga Majapahit. Letaknya yang berada di jalur pegunungan selatan menjadikan Trenggalek berkembang sebagai daerah pertanian, perdagangan hasil bumi, sekaligus tempat peristirahatan para bangsawan.
Pada masa Kediri, masyarakat dikenal hidup dari hasil padi, rempah-rempah, dan hasil hutan. Sementara pada era Majapahit, Trenggalek berperan menjaga stabilitas wilayah selatan kerajaan.
Beberapa tempat juga diyakini menjadi lokasi semedi para bangsawan maupun pertapa. Salah satunya adalah petilasan Ki Ageng Galek yang hingga kini disebut masih dihormati masyarakat.
Memasuki masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang, masyarakat Trenggalek menghadapi berbagai tekanan. Hasil bumi diambil untuk kepentingan penjajah dan banyak pemuda dipaksa menjadi romusha pada masa Jepang.
Baca Juga: 126 Desa di Trenggalek Catat Nol Perkawinan Anak, Capaian Didukung Sinergi Lintas Sektor
Meski demikian, masyarakat tetap mempertahankan semangat perjuangan melalui kebersamaan, doa, dan keyakinan spiritual hingga Indonesia meraih kemerdekaan.
Hari Jadi Trenggalek dan Warisan Budaya
Dalam transkrip disebutkan Kabupaten Trenggalek didirikan pada 31 Agustus 1595 yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kabupaten.
Tanggal tersebut dikaitkan dengan masa pemerintahan Adipati Menak Sopal yang disebut sebagai pemimpin bijaksana dan berperan membangun struktur pemerintahan daerah.
Setelah Indonesia merdeka, Trenggalek berkembang menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur dengan pusat pemerintahan berada di Kota Trenggalek.
Selain sejarahnya, daerah ini juga dikenal memiliki budaya yang masih dilestarikan masyarakat, seperti Larung Sembonyo di Pantai Prigi, Reog Kendang, tradisi sambatan, sedekah desa, tahlilan, hingga pertunjukan wayang kulit.
Generasi muda disebut turut menjaga warisan budaya melalui berbagai kegiatan seni, pementasan daerah, dan pawai budaya agar nilai-nilai leluhur tetap dikenal.
Di akhir kisah, transkrip menegaskan bahwa Trenggalek bukan sekadar nama sebuah kabupaten, melainkan simbol kebersamaan, spiritualitas, keteguhan, dan kecintaan masyarakat terhadap tanah leluhur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Kisah Nusantara