JAKARTA - Cara menghitung weton menurut Primbon Jawa kembali menjadi perhatian setelah dibahas dalam sebuah kelas metafisika yang mengulas dasar-dasar perhitungan weton. Pembahasan tersebut menjelaskan bahwa weton tidak hanya digunakan untuk membaca karakter seseorang, tetapi juga dipercaya berkaitan dengan rezeki, jodoh, kesehatan, hingga berbagai aspek kehidupan berdasarkan perhitungan hari dan pasaran kelahiran.
Dalam penjelasan tersebut, weton digambarkan sebagai sistem perhitungan yang memiliki rumus tersendiri. Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat yang hanya mengenal weton sebagai penanda hari lahir, sistem ini disebut memiliki metode matematis yang mengombinasikan nilai hari dan pasaran Jawa.
Narasumber menjelaskan bahwa pembahasan kali ini difokuskan pada dasar-dasar perhitungan weton sebelum masuk ke pembahasan lanjutan mengenai kecocokan pasangan dan peruntungan hidup. Karena itu, peserta diajak memahami asal-usul angka yang digunakan dalam perhitungan tersebut.
Menurut penjelasan dalam kelas tersebut, perhitungan weton tidak berdiri sendiri. Sistem itu disusun berdasarkan berbagai acuan dalam serat-serat Jawa dan digunakan secara turun-temurun sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa.
Weton Disebut Memiliki Rumus Perhitungan
Pembahasan dimulai dengan penjelasan bahwa setiap weton merupakan gabungan dua unsur utama, yaitu hari dalam sepekan dan pasaran Jawa.
Hari yang digunakan mengikuti tujuh hari dalam kalender Masehi, yakni Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.
Sementara itu, pasaran Jawa terdiri atas lima siklus, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage.
Setiap hari maupun pasaran memiliki nilai bilangan tertentu atau yang biasa disebut neptu. Nilai tersebut nantinya dijumlahkan sehingga menghasilkan nilai weton seseorang.
Narasumber menyebutkan bahwa angka-angka tersebut bukan ditentukan secara sembarangan.
Menurut penjelasannya, sistem itu berasal dari berbagai serat Jawa serta perhitungan yang dikaitkan dengan peredaran bumi, bulan, matahari, arah mata angin, hingga konsep kosmologi dalam tradisi Jawa.
Meski demikian, penjelasan mengenai asal-usul angka tersebut tidak dibahas secara rinci karena membutuhkan pembahasan tersendiri.
Perhitungan Berbasis Hari dan Pasaran
Dalam kelas tersebut dijelaskan bahwa dasar utama menghitung weton adalah menggabungkan nilai hari dengan nilai pasaran.
Nilai tersebut kemudian disusun dalam bentuk matriks sehingga seluruh kombinasi hari dan pasaran dapat diketahui hasil penjumlahannya.
Metode itu disebut memudahkan proses identifikasi berbagai kombinasi weton yang nantinya digunakan dalam pembacaan karakter maupun peruntungan.
Selain menjelaskan rumus dasar, narasumber juga memperlihatkan bagaimana setiap kombinasi menghasilkan nilai yang berbeda.
Dari seluruh kombinasi yang ada, disebutkan bahwa nilai tertinggi berada pada Sabtu Pahing dengan total 18.
Sementara nilai terendah berada pada Selasa Wage yang menghasilkan angka 7.
Perbedaan nilai tersebut menjadi dasar bagi proses analisis pada tahap berikutnya.
Namun, narasumber menegaskan bahwa angka weton bukanlah penentu mutlak kehidupan seseorang.
Perhitungan tersebut hanya dijadikan sebagai salah satu pedoman atau rambu-rambu untuk mengenali kecenderungan karakter dan perjalanan hidup.
Digunakan untuk Membaca Berbagai Aspek Kehidupan
Menurut pemaparan dalam kelas metafisika tersebut, fungsi weton tidak hanya sebatas mengenali sifat seseorang.
Sistem perhitungan itu juga disebut digunakan untuk membaca peruntungan rezeki, kecenderungan kesehatan, perjalanan karier, hingga kecocokan jodoh.
Bahkan, dalam tradisi Jawa, weton juga disebut pernah dimanfaatkan sebagai acuan dalam menentukan waktu bertani, pelayaran, arah rumah tinggal, hingga lokasi usaha.
Karena cakupannya cukup luas, narasumber mengingatkan agar peserta memahami lebih dulu dasar-dasar penghitungannya.
Tahapan tersebut dinilai penting sebelum mempelajari interpretasi hasil perhitungan.
Menurut narasumber, seseorang sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan angka weton.
Sebab, hasil akhirnya tetap memerlukan proses interpretasi berdasarkan tabel maupun ketentuan yang telah digunakan dalam Primbon Jawa.
Perubahan Hari dalam Kalender Jawa
Hal lain yang mendapat perhatian adalah perbedaan sistem pergantian hari antara kalender Masehi dengan kalender Jawa.
Dalam kalender Masehi, pergantian hari dimulai pukul 00.00 hingga 23.59.
Sementara dalam kalender Jawa dan kalender Hijriah, pergantian hari disebut dimulai setelah sore atau setelah waktu Asar menjelang malam.
Karena itu, waktu kelahiran menjadi salah satu unsur penting dalam menentukan weton seseorang.
Narasumber mencontohkan bahwa seseorang yang lahir setelah pergantian hari menurut kalender Jawa bisa memiliki weton berbeda dibandingkan apabila hanya mengacu pada kalender Masehi.
Apabila jam kelahiran tidak diketahui secara pasti, narasumber menyarankan agar menghitung dua kemungkinan weton, kemudian mengambil nilai yang paling mendekati sebagai bahan pembelajaran.
Meski demikian, ia kembali mengingatkan bahwa hasil perhitungan tersebut tidak boleh dipahami sebagai kepastian mutlak.
Menurutnya, probabilitas hasil perhitungan memang tinggi, tetapi tetap ada ruang bagi kehendak Tuhan yang menentukan perjalanan hidup setiap manusia.
Cara Mengolah Nilai Weton Menjadi Dasar Pembacaan Karakter
Setelah nilai hari dan pasaran dijumlahkan, proses berikutnya adalah mengolah angka tersebut menggunakan rumus tertentu. Dalam penjelasan narasumber, hasil penjumlahan weton tidak langsung dimaknai sebagai karakter atau nasib seseorang.
Nilai tersebut terlebih dahulu dibagi menggunakan angka tertentu. Salah satu metode yang dijelaskan adalah pembagian dengan angka lima. Yang digunakan bukan hasil pembagiannya, melainkan sisa hasil bagi.
Sisa pembagian inilah yang kemudian dicocokkan dengan kategori tertentu dalam Primbon Jawa. Setiap kategori dipercaya memiliki kecenderungan watak, cara memperoleh rezeki, hingga tantangan hidup yang berbeda.
Narasumber menjelaskan bahwa sistem tersebut sudah memiliki ketetapan tersendiri dan digunakan sebagai acuan dalam membaca hasil perhitungan weton.
Meski demikian, ia menekankan bahwa hasil tersebut tidak bersifat mutlak. Perhitungan hanya menunjukkan kecenderungan yang masih dapat berubah sesuai perjalanan hidup dan usaha masing-masing individu.
Lima Kategori Hasil Perhitungan Weton
Dalam pembahasan tersebut dijelaskan terdapat lima kategori utama yang menjadi hasil dari pembagian angka weton.
Kategori pertama adalah Sri.
Menurut narasumber, orang yang masuk kategori Sri umumnya memiliki karakter yang mudah disukai banyak orang. Mereka dinilai mampu membangun hubungan sosial yang luas dan memiliki daya tarik dalam berkomunikasi.
Karena itu, rezeki kelompok ini disebut lebih banyak datang melalui relasi, jaringan pertemanan, maupun kepercayaan dari orang lain.
Namun, ada tantangan yang harus dihadapi. Orang dengan kategori Sri disebut perlu memiliki pendirian yang kuat agar tidak mudah berubah sikap atau kehilangan kepercayaan dari lingkungan.
Apabila mampu menjaga tanggung jawab dan amanah, peluang rezeki mereka disebut akan semakin terbuka.
Kategori berikutnya adalah Rezeki.
Narasumber menjelaskan bahwa kelompok ini dipercaya memiliki jalan rezeki yang relatif lancar.
Kesempatan memperoleh penghasilan dapat datang dari berbagai arah. Bahkan, dalam penjelasannya disebutkan bahwa rezeki bisa datang tanpa selalu harus dicari secara berlebihan.
Baca Juga: Weton Paling Beruntung 2026 Diprediksi Banjir Rezeki, Karier Melesat dan Peluang Usaha Terbuka Lebar
Meski demikian, kelompok ini diingatkan agar tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain.
Menurut narasumber, membandingkan diri dengan orang lain justru menjadi salah satu hambatan terbesar bagi mereka dalam menjaga kelancaran rezeki.
Kategori Gedhong Dikaitkan dengan Bakat Kepemimpinan
Kategori ketiga adalah Gedhong.
Dalam penjelasan tersebut, orang yang masuk kelompok Gedhong dipercaya telah memiliki potensi atau bakat besar sejak lahir.
Potensi tersebut tidak selalu berkaitan dengan kekayaan materi.
Menurut narasumber, seseorang dapat memiliki bakat menjadi pemimpin, mampu mengayomi orang lain, atau mempunyai kapasitas yang lebih besar dibandingkan kebanyakan orang.
Karena memiliki potensi tersebut, kelompok Gedhong diingatkan agar tetap rendah hati.
Sikap rendah hati dinilai menjadi kunci agar kemampuan yang dimiliki tidak berubah menjadi kesombongan.
Selain itu, mereka juga disebut memiliki kemampuan memegang amanah sehingga sering memperoleh kepercayaan dari lingkungan.
Loro Dianggap Sebagai Jalan Menuju Kedewasaan
Kategori berikutnya adalah Loro.
Dalam penjelasan narasumber, istilah Loro tidak selalu dimaknai sebagai penyakit fisik.
Maknanya jauh lebih luas karena dapat berkaitan dengan pengalaman hidup yang menyakitkan.
Seseorang bisa mengalami kegagalan usaha, putus hubungan, pengkhianatan, tekanan batin, hingga berbagai cobaan lain sebelum mencapai keberhasilan.
Menurut narasumber, kelompok ini justru memiliki peluang memperoleh hasil yang lebih besar setelah berhasil melewati berbagai ujian tersebut.
Karena itu, mereka dianjurkan memperbanyak tirakat, doa, serta berbagai laku spiritual agar mampu menghadapi setiap tantangan.
Narasumber juga mengingatkan agar orang yang memperoleh kategori Loro tidak merasa kecil hati.
Sebab, seluruh cobaan tersebut dipandang sebagai bagian dari proses pembentukan diri menuju kehidupan yang lebih baik.
Pati Tidak Selalu Bermakna Kematian
Kategori terakhir adalah Pati.
Narasumber menegaskan bahwa istilah tersebut tidak selalu berkaitan dengan kematian secara fisik.
Dalam penjelasannya, Pati lebih banyak dimaknai sebagai berakhirnya suatu fase kehidupan.
Misalnya usaha yang bangkrut, hubungan yang berakhir, kehilangan pekerjaan, atau berbagai kondisi yang memaksa seseorang memulai kehidupan baru.
Karena itu, kategori ini dipahami sebagai bentuk ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran.
Menurut narasumber, terdapat berbagai solusi yang diyakini dapat dilakukan, salah satunya melalui tradisi ruwatan sesuai ketentuan dalam Primbon Jawa.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa seluruh metode tersebut hanyalah bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa.
Hasil perhitungan weton tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan hidup.
Sebaliknya, perhitungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai sarana untuk mengenali karakter diri sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi dalam kehidupan.
Perhitungan Weton Juga Digunakan untuk Menilai Kecocokan Pasangan
Selain digunakan untuk membaca karakter individu, narasumber menjelaskan bahwa weton juga dimanfaatkan untuk menghitung kecocokan pasangan.
Metode penghitungannya berbeda dengan pembacaan karakter. Jika karakter menggunakan pembagian tertentu terhadap nilai weton seseorang, maka perhitungan pasangan dilakukan dengan menjumlahkan nilai weton kedua calon pasangan.
Hasil penjumlahan tersebut kemudian dibagi menggunakan rumus lain yang menjadi acuan dalam Primbon Jawa.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa hasil pembagian akan mengarah pada sejumlah kategori hubungan, seperti Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, dan Pesthi.
Namun, pembahasan mengenai makna masing-masing kategori belum dijelaskan secara rinci karena akan menjadi materi pada pertemuan berikutnya.
Narasumber hanya memberikan gambaran bahwa metode tersebut dipakai sebagai salah satu acuan untuk melihat dinamika hubungan rumah tangga berdasarkan tradisi Primbon Jawa.
Jam Kelahiran Dinilai Memengaruhi Penentuan Weton
Salah satu hal yang mendapat perhatian dalam kelas tersebut adalah pentingnya mengetahui jam kelahiran.
Menurut narasumber, pergantian hari dalam kalender Jawa berbeda dengan kalender Masehi.
Apabila kalender Masehi menghitung pergantian hari mulai pukul 00.00, kalender Jawa mengikuti pergantian hari setelah sore atau menjelang malam.
Perbedaan tersebut membuat seseorang yang lahir pada waktu tertentu berpotensi memiliki weton berbeda apabila hanya mengacu pada kalender Masehi.
Karena itu, jam kelahiran dianggap penting agar hasil perhitungan menjadi lebih tepat.
Apabila waktu lahir tidak diketahui, narasumber menyarankan untuk menghitung dua kemungkinan weton yang berdekatan.
Selanjutnya, kedua hasil tersebut dapat dijadikan bahan pembelajaran tanpa harus dianggap sebagai kepastian mutlak.
Weton Disebut Sebagai Pedoman, Bukan Penentu Nasib
Sepanjang pembahasan, narasumber beberapa kali mengingatkan agar masyarakat tidak memahami hasil hitungan weton sebagai penentu kehidupan seseorang.
Ia menyebut seluruh rumus dalam Primbon Jawa hanya menggambarkan kecenderungan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diwariskan melalui berbagai serat Jawa.
Menurutnya, hasil perhitungan memiliki nilai probabilitas yang tinggi, tetapi bukan kepastian.
Karena itu, manusia tetap harus berusaha, berdoa, dan menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Narasumber bahkan menegaskan bahwa kehendak Tuhan tetap menjadi penentu utama atas seluruh perjalanan hidup manusia.
Perhitungan weton hanya berfungsi sebagai rambu-rambu agar seseorang lebih mengenal karakter, memahami kelebihan dan kekurangannya, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan.
Peserta Diajak Menghitung Weton Secara Mandiri
Pada akhir kelas, peserta diberikan tugas untuk mulai menghitung weton masing-masing berdasarkan tanggal lahir.
Bagi yang sudah memiliki pasangan atau sedang menjalin hubungan, narasumber juga meminta agar menghitung weton pasangan sebagai persiapan materi pembahasan selanjutnya.
Pembahasan lanjutan direncanakan akan mengulas kecocokan pasangan, perjalanan asmara, hingga berbagai perhitungan lain dalam Primbon Jawa.
Narasumber berharap peserta dapat memahami dasar-dasar perhitungan lebih dahulu sebelum mempelajari interpretasi yang lebih kompleks.
Ia juga mengingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan ketika memperoleh hasil yang dianggap kurang baik.
Menurutnya, setiap kondisi selalu memiliki jalan keluar dan solusi yang dapat ditempuh sesuai ajaran serta tradisi yang berkembang.
Di akhir pembahasan, narasumber kembali menegaskan bahwa hitungan weton bukanlah akhir dari segalanya.
Doa, ikhtiar, serta restu orang tua disebut tetap menjadi faktor yang paling menentukan dalam kehidupan seseorang.
Dengan demikian, perhitungan weton diposisikan sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang dapat dipelajari untuk memahami diri sendiri, tanpa mengesampingkan keyakinan bahwa hasil akhir kehidupan tetap berada di tangan Tuhan Yang Maha Esa.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : KTJ