JOGJA - Kisah mengenai weton Tulang Wangi kembali menjadi perbincangan setelah seorang perempuan menceritakan pengalaman mengerikan yang dialaminya usai menikah dengan pria yang diyakini memiliki weton tersebut. Berawal dari penolakan keluarga karena hitungan primbon Jawa, cerita itu berkembang menjadi rangkaian kejadian ganjil hingga akhirnya terungkap rahasia besar tentang masa lalu sang suami.
Cerita tersebut disampaikan oleh seorang perempuan yang dalam kisahnya menggunakan nama samaran Susi. Ia berasal dari keluarga Jawa yang masih memegang teguh tradisi dan perhitungan primbon dalam hampir seluruh aspek kehidupan.
Ayah Susi dikenal sangat mempercayai penanggalan Jawa. Hampir semua keputusan penting keluarga harus melewati perhitungan weton, mulai dari membuka usaha, bepergian, pindah rumah, hingga menentukan hari pernikahan.
Menurut penuturan Susi, sang ayah bahkan menutup toko batiknya setiap Selasa dan Rabu karena meyakini dua hari tersebut kurang baik berdasarkan hitungan kelahirannya.
Kepercayaan terhadap primbon juga diterapkan kepada seluruh anggota keluarga. Kakak Susi, misalnya, harus menentukan hari pindah rumah berdasarkan weton agar terhindar dari kesialan.
Begitu pula ketika Susi mulai menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Harso.
Weton Tulang Wangi Jadi Alasan Penolakan
Masalah mulai muncul ketika keluarga mengetahui Harso memiliki weton yang disebut sebagai Tulang Wangi.
Dalam kepercayaan Jawa yang diyakini ayah Susi, weton tersebut dianggap memiliki karakteristik berbeda dibanding weton lainnya.
Harso disebut lahir pada kombinasi hari dan pasaran tertentu yang masuk dalam kategori Tulang Wangi.
Dalam cerita dijelaskan bahwa kategori tersebut dapat berasal dari beberapa kombinasi, antara lain Senin Pon, Senin Kliwon, Senin Wage, Selasa Legi, Rabu Pahing, Rabu Kliwon, Kamis Wage, Minggu Pon, Minggu Kliwon, Sabtu Wage, hingga Sabtu Legi.
Menurut kepercayaan yang diyakini keluarga Susi, pemilik weton Tulang Wangi dipercaya lebih peka terhadap hal-hal gaib.
Mereka juga disebut memiliki aura yang lebih kuat, karisma tinggi, bahkan dianggap mudah menarik perhatian makhluk halus.
Meski demikian, kepercayaan tersebut tidak sepenuhnya diyakini Susi.
Ia mengaku selama ini hanya mengikuti semua aturan ayahnya sebagai bentuk bakti kepada orang tua, bukan karena benar-benar mempercayainya.
Hubungannya dengan Harso tetap berlanjut.
Selama enam bulan berpacaran, Susi mengaku tidak pernah mengalami kejadian aneh maupun kesialan sebagaimana yang dikhawatirkan keluarganya.
Harso sendiri dikenal sebagai sosok yang mapan.
Di usia 28 tahun, ia telah memiliki usaha, memimpin perusahaan, dan mempunyai rumah sendiri.
Meski berdarah campuran Jawa dan Tionghoa, keluarga Susi tidak mempermasalahkan latar belakang tersebut.
Yang menjadi keberatan hanyalah weton Tulang Wangi yang dimiliki Harso.
Karena tetap bersikeras mempertahankan hubungannya, Susi akhirnya berhasil meyakinkan ayahnya.
Meski dengan berat hati, keluarga akhirnya memberikan restu untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Lamaran Berjalan Lancar, Kejadian Aneh Mulai Bermunculan
Acara lamaran digelar secara sederhana di sebuah restoran.
Hanya keluarga inti kedua belah pihak yang hadir.
Tanggal pelaksanaan tetap dipilih berdasarkan hitungan primbon yang ditentukan ayah Susi.
Di tengah acara, Susi mulai melihat perubahan pada sikap Harso.
Ia tampak gelisah sejak awal acara berlangsung.
Susi menganggap hal itu wajar karena calon suaminya memang dikenal sangat introvert dan tidak nyaman berada di tengah keramaian.
Namun, kejadian ganjil mulai terjadi saat makan bersama.
Ketika garpunya terjatuh ke bawah meja, Susi spontan membungkuk untuk mengambilnya.
Saat itulah ia melihat sepasang kaki yang seolah sedang duduk tepat di samping Harso.
Awalnya ia mengira kaki tersebut milik ibu Harso.
Namun setelah kembali duduk, Susi menyadari kursi di sebelah Harso ternyata kosong.
Ia baru ingat ibu Harso sedang mengantar salah satu kerabat keluar restoran.
Ketika kembali melirik ke bawah meja, sosok kaki yang tadi dilihatnya sudah menghilang.
Peristiwa itu sempat membuatnya bingung.
Namun suasana lamaran yang masih berlangsung membuat pikirannya segera teralihkan.
Baca Juga: Weton Paling Beruntung 2026 Diprediksi Banjir Rezeki, Karier Melesat dan Peluang Usaha Terbuka Lebar
Setelah acara selesai, Susi menuju kamar kecil untuk mencuci tangan.
Di depan wastafel, ia kembali mengalami kejadian yang sulit dijelaskan.
Dari pantulan cermin, ia melihat seorang perempuan keluar dari salah satu bilik toilet.
Perempuan itu mengenakan gaun dan tudung berwarna merah menyerupai busana pengantin.
Sosok tersebut berjalan begitu saja meninggalkan toilet.
Karena restoran memiliki lebih dari satu lantai, Susi mengira sedang ada pesta pernikahan lain di tempat tersebut.
Ia pun tidak terlalu memikirkan kejadian itu.
Namun tanpa disadari, penampakan perempuan berbaju merah tersebut menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar menjelang hari pernikahannya.
Perdebatan Penentuan Hari Pernikahan
Setelah lamaran selesai, kedua keluarga mulai membahas hari pernikahan.
Seperti sebelumnya, ayah Susi kembali menggunakan hitungan primbon untuk menentukan tanggal terbaik.
Hasil perhitungan menyebut pasangan tersebut sebaiknya menikah pada hari Senin.
Keputusan itu langsung memunculkan perdebatan.
Baca Juga: Weton Paling Beruntung 2026 Diprediksi Banjir Rezeki, Karier Melesat dan Peluang Usaha Terbuka Lebar
Keluarga Harso menilai hari Senin kurang ideal karena merupakan hari kerja. Mereka khawatir banyak kerabat dan tamu tidak dapat menghadiri acara.
Susi juga menyampaikan keberatannya.
Ia berharap teman-teman serta rekan kerjanya bisa hadir pada hari bahagianya. Menurutnya, pelaksanaan resepsi di akhir pekan jauh lebih memungkinkan.
Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya kedua keluarga sepakat menggelar pernikahan pada hari Minggu.
Ayah Susi menerima keputusan tersebut meski masih menyimpan rasa keberatan.
Perdebatan tidak berhenti sampai di situ.
Menjelang hari pernikahan, Susi kembali diminta menjalani tradisi pingitan sebagaimana adat Jawa.
Namun ia menolak.
Menurutnya, masih banyak persiapan yang harus diselesaikan, mulai dari mengecek kebaya, katering, hingga suvenir.
Penolakan itu kembali memicu perbedaan pendapat dengan sang ayah, tetapi akhirnya Susi tetap menjalankan persiapannya seperti biasa.
Sosok Pengantin Merah Muncul Saat Fitting Kebaya
Ketika menjalani proses fitting kebaya, Susi kembali mengalami kejadian yang membuatnya tidak tenang.
Tempat penyewaan kebaya menggunakan bilik-bilik yang dipisahkan tirai.
Saat sedang berganti pakaian, ia melihat tangan berkulit sangat pucat dengan kuku bercat merah perlahan membuka tirai ruang gantinya.
Susi spontan menegur karena mengira ada pelanggan lain yang salah membuka bilik.
Sesaat kemudian tangan itu menghilang.
Ketika mengintip ke luar, tidak ada seorang pun selain pegawai butik.
Peristiwa berikutnya bahkan lebih mengejutkan.
Karena mendapat informasi bahwa bilik nomor tiga kosong, Susi langsung membuka tirai ruangan tersebut.
Namun di dalamnya sudah berdiri seorang perempuan mengenakan gaun pengantin merah lengkap dengan tudung.
Kulit perempuan itu tampak sangat pucat.
Susi segera meminta maaf karena mengira salah membuka ruang ganti.
Ia kemudian berpindah ke bilik lain.
Saat berganti pakaian, ia mendengar suara perempuan berbicara menggunakan bahasa Mandarin dari balik tirai sebelah.
Usai selesai berganti, Susi kembali melihat ke arah bilik nomor tiga.
Ruangan tersebut sudah kosong.
Ketika ia menanyakan kepada pegawai butik apakah mereka juga menyewakan pakaian pengantin adat Tionghoa, pegawai itu menjawab tidak.
Butik tersebut hanya menyediakan busana pengantin adat Jawa.
Jawaban itu membuat Susi semakin bingung.
Sebab perempuan berbaju merah yang dilihatnya terasa begitu nyata.
Hari Pernikahan Diwarnai Kejadian Tak Biasa
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Sejak pukul 05.00 pagi, Susi sudah berada di gedung pernikahan untuk menjalani proses rias sebelum akad nikah yang dijadwalkan berlangsung pukul 08.00.
Saat proses make-up dimulai, perias pengantin sempat menganggap Susi memiliki wajah seperti perempuan keturunan Tionghoa.
Ia menggunakan foundation yang jauh lebih terang daripada warna kulit asli Susi.
Susi pun merasa heran.
Ia menegaskan dirinya merupakan perempuan Jawa dengan kulit sawo matang.
Ucapan itu justru membuat sang perias terlihat kebingungan.
Ia kemudian bertanya apakah Susi sedang menjalani pantangan tertentu atau sempat melanggar aturan selama masa persiapan pernikahan.
Jawaban Susi tetap sama.
Ia tidak menjalani pingitan maupun pantangan apa pun.
Merasa ada kejanggalan, perias tersebut akhirnya memanggil ibunya yang juga berprofesi sebagai perias pengantin.
Proses rias sempat dihentikan sekitar setengah jam.
Setelah datang, sang ibu meminta seluruh make-up dibersihkan terlebih dahulu.
Susi diminta mencuci wajah sebelum proses rias dimulai kembali.
Sebelum kembali dirias, perempuan tersebut melakukan ritual pengasapan kepada Susi.
Ayah Susi yang berada di lokasi tidak memberikan keberatan sehingga Susi mengikuti seluruh proses tersebut.
Tak lama kemudian, anak sang perias tiba-tiba mengucapkan istigfar dengan nada terkejut.
Ia segera meminta maaf dan keluar ruangan.
Situasi itu membuat suasana menjadi semakin tegang.
Belakangan diketahui, sebelum proses pengasapan dilakukan, sang perias melihat wajah Susi seperti perempuan Tionghoa.
Namun setelah ritual selesai, wajah tersebut kembali berubah menjadi wajah asli Susi.
Perubahan itulah yang membuatnya terkejut.
Sang perias senior kemudian menyampaikan kepada orang tua Susi bahwa ia merasakan ada sosok yang mengikuti calon mempelai pria.
Menurutnya, keberadaan sosok tersebut ikut memengaruhi calon pengantin perempuan.
Ucapan itu membuat ayah Susi kembali ingin menunda pernikahan.
Ia menghubungkan kejadian tersebut dengan keyakinannya mengenai weton Tulang Wangi.
Namun Susi tetap menolak.
Baginya, hari pernikahan sudah tiba dan tidak ada alasan logis untuk membatalkan seluruh rangkaian acara.
Ibunya juga meminta sang ayah menghentikan perdebatan agar tidak mempermalukan keluarga di hari bahagia tersebut.
Akhirnya akad nikah maupun resepsi tetap berlangsung sesuai rencana.
Di tengah acara, Susi sempat menggunakan serbet makan untuk menghapus air mata karena tidak menemukan tisu.
Tindakan itu langsung ditegur sejumlah keluarga.
Menurut kepercayaan yang mereka yakini, pengantin tidak boleh mengusap air mata menggunakan serbet karena dipercaya membawa pertanda kurang baik bagi kehidupan rumah tangga.
Meski demikian, acara pernikahan tetap berlangsung lancar tanpa gangguan berarti.
Susi menganggap seluruh kejadian aneh yang dialaminya telah berakhir.
Namun ia belum mengetahui bahwa pengalaman paling mengerikan justru akan terjadi setelah dirinya resmi menjadi istri Harso, tepat ketika keduanya menjalani bulan madu.
Bulan Madu Berubah Menjadi Teror
Sehari setelah resepsi, Susi dan Harso memutuskan berbulan madu di kawasan pantai di Yogyakarta. Dalam perjalanan, keduanya sempat membahas kembali soal weton Tulang Wangi yang sejak awal menjadi penolakan keluarga.
Harso mengaku baru mengetahui istilah tersebut setelah menjalin hubungan dengan Susi. Ia bercerita bahwa sejak kecil pernah memiliki teman khayalan hingga usia sekitar sembilan tahun. Setelah beranjak besar, pengalaman itu menghilang, tetapi ia mengaku masih sesekali merasakan keberadaan sesuatu yang tidak kasatmata.
Menurut Harso, ia tidak pernah mendalami kemampuan tersebut dan memilih mengabaikannya. Ia hanya merasa lebih peka terhadap suasana tertentu tanpa benar-benar melihat sosok dengan jelas.
Bagi Susi, pengakuan itu tidak mengubah perasaannya. Ia menganggap kepekaan terhadap hal gaib bukan sesuatu yang bisa dipilih seseorang sejak lahir.
Sesampainya di hotel, Susi sempat menikmati pemandangan dari balkon kamar yang menghadap laut.
Namun, pandangannya mendadak tertuju ke area kolam renang.
Di sana ia kembali melihat perempuan dengan gaun pengantin merah yang sebelumnya muncul di restoran dan butik kebaya.
Sosok itu berdiri diam menghadap ke arahnya.
Merasa ketakutan, Susi langsung masuk ke kamar dan menceritakan apa yang baru dilihatnya kepada Harso.
Harso berusaha menenangkan istrinya.
Ia meminta Susi memperbanyak doa dan tidak larut dalam rasa takut.
Menurutnya, jika memang ada sesuatu yang mengikuti dirinya, mereka tidak boleh membiarkan rasa panik menguasai keadaan.
Rahasia Harso Akhirnya Terungkap
Malam harinya, setelah makan malam bersama, pasangan itu kembali ke kamar hotel.
Saat itulah kejadian yang paling mengerikan terjadi.
Susi mengaku kembali melihat sosok perempuan berbaju pengantin merah berdiri di depan tempat tidur.
Beberapa saat kemudian, sosok tersebut seolah bergerak mendekati Harso.
Dalam kondisi panik, Susi berteriak meminta tolong.
Harso juga mengaku tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
Keduanya terus berteriak hingga suara mereka terdengar oleh tamu lain.
Petugas hotel kemudian membuka kamar menggunakan kunci cadangan.
Saat masuk, petugas mendapati pasangan tersebut berada dalam kondisi panik dan membutuhkan pertolongan.
Manajemen hotel segera memanggil dokter.
Setelah mendapatkan penanganan medis, dokter menjelaskan kondisi yang dialami pasangan tersebut sebagai fenomena yang memiliki penjelasan secara medis akibat ketegangan otot.
Meski demikian, Susi meyakini kepanikan yang dialaminya dipicu oleh kemunculan sosok perempuan berbaju merah yang terus mengikuti mereka.
Dalam kondisi masih syok, Susi langsung menghubungi kedua orang tuanya.
Di sisi lain, ayah Susi ternyata sejak siang berusaha menghubunginya karena mendapat kedatangan tamu yang mengaku keluarga Harso.
Kedatangan tamu tersebut justru membuka fakta yang selama ini disembunyikan.
Pernikahan Arwah Jadi Awal Seluruh Kejadian
Keluarga tersebut dipimpin seorang pria bernama Koh Yun.
Ia mengaku sebagai mertua Harso.
Pengakuan itu tentu membuat keluarga Susi terkejut.
Koh Yun kemudian menjelaskan bahwa Harso bekerja di perusahaan kontraktornya.
Anak perempuan Koh Yun bernama Mei meninggal dunia akibat kecelakaan sebelum sempat menikah.
Semasa hidup, Mei disebut sangat ingin berkeluarga.
Untuk memenuhi kepercayaan keluarga mereka, Koh Yun kemudian menawarkan Harso menjalani pernikahan arwah dengan putrinya.
Sebagai imbalannya, Harso dijanjikan kepercayaan untuk mengelola salah satu cabang perusahaan.
Harso akhirnya menerima tawaran tersebut.
Prosesi itu dilakukan berdasarkan tradisi Tionghoa yang dikenal sebagai Minghun, yaitu pernikahan yang melibatkan seseorang yang telah meninggal dengan pasangan yang masih hidup atau sama-sama telah meninggal.
Dalam kepercayaan tersebut, arwah yang meninggal sebelum menikah diyakini perlu memiliki pendamping agar perjalanan hidupnya dianggap sempurna.
Menurut penjelasan Koh Yun, setelah menjalani prosesi itu Harso memiliki syarat yang harus dipatuhi.
Selama dirinya masih hidup, Harso tidak diperbolehkan menikah dengan perempuan lain.
Jika melanggar, tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap arwah Mei.
Harso ternyata merahasiakan seluruh peristiwa itu, termasuk kepada keluarganya sendiri.
Ia mengira pernikahan tersebut tidak akan pernah diketahui siapa pun.
Namun setelah menikah dengan Susi, sosok perempuan berbaju merah yang diyakini sebagai arwah Mei terus muncul.
Kemunculan itu disebut sebagai bentuk penolakan karena Harso telah melanggar syarat yang pernah disepakati.
Kisah Berakhir dengan Perpisahan
Mendengar pengakuan tersebut, Harso akhirnya membenarkan cerita yang disampaikan Koh Yun.
Ia mengakui pernah menjalani pernikahan arwah dan menyembunyikan fakta tersebut dari Susi.
Bagi keluarga Susi, seluruh kejadian ganjil yang muncul sejak lamaran hingga bulan madu akhirnya menemukan penjelasan menurut kepercayaan yang mereka yakini.
Sementara itu, Susi memilih melihat persoalan tersebut sebagai kenyataan yang harus dihadapi.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, keduanya sepakat mengakhiri rumah tangga yang baru seumur jagung tersebut.
Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, pengalaman yang mereka alami meninggalkan trauma mendalam.
Kisah ini juga memperlihatkan pertemuan dua sistem kepercayaan yang berbeda, yakni primbon Jawa dengan konsep pernikahan arwah dalam tradisi Tionghoa, yang menjadi inti cerita sebagaimana disampaikan narasumber.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Hirotada Radifan