JAKARTA - Hari baik membangun rumah menurut Primbon Jawa masih menjadi perhatian sebagian masyarakat yang hendak memulai pembangunan hunian. Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube Padepokan Tirto Roso, dijelaskan bahwa penentuan bulan, hari, hingga jam pembangunan dipercaya menjadi bagian dari tradisi leluhur yang bertujuan memohon keselamatan, ketenteraman, dan kelancaran selama proses membangun rumah.
Penjelasan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan mengenai rekomendasi waktu terbaik membangun rumah pada 2026. Narasumber menegaskan bahwa perhitungan tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa yang diwariskan para leluhur, bukan sebuah keharusan bagi semua orang.
Selain memilih bulan yang baik, masyarakat Jawa juga mengenal berbagai perhitungan hari, neptu, hingga waktu peletakan batu pertama yang diyakini memiliki makna tersendiri.
Bulan yang Dianggap Baik untuk Membangun Rumah
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu menggunakan perhitungan ketika akan mendirikan rumah.
Salah satu yang menjadi perhatian ialah pemilihan bulan.
Menurut narasumber, beberapa bulan yang sering dianggap baik untuk memulai pembangunan rumah antara lain bulan Syawal, setelah Mulud, Rajab, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir.
Namun, bulan yang disebut paling baik adalah Bulan Besar.
Baca Juga: Cara Menghitung Weton Jodoh Menurut Primbon Jawa, Kenali Arti Padu, Pegat, Pati hingga Ratu
Dalam penanggalan umum, Bulan Besar biasanya berada sekitar Juni atau Juli.
Menurut penjelasan tersebut, Bulan Besar dimaknai sebagai simbol kebesaran.
Karena itu, masyarakat Jawa berharap pembangunan rumah dapat membawa kemuliaan, keselamatan, serta rezeki yang besar bagi pemiliknya.
Sementara itu, bulan Mulud dan Ruwah disebut sebagai bulan yang umumnya jarang dipilih untuk memulai pembangunan rumah.
Hari Baik Tidak Hanya Berdasarkan Bulan
Setelah menentukan bulan, masyarakat Jawa juga memperhitungkan hari dan pasaran.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa salah satu pedoman yang umum digunakan adalah mencari neptu hari dan pasaran yang berjumlah 13.
Perhitungan tersebut kemudian dikaitkan dengan rumus Kertayasa, Candi, Rogoh, dan Sempoyong yang telah dikenal dalam Primbon Jawa.
Menurut narasumber, hasil yang jatuh pada Candi sudah termasuk kategori baik.
Namun, masih terdapat hasil yang dianggap lebih istimewa dibandingkan Candi.
Ada Dua Jenis Pepatungan dalam Primbon Jawa
Narasumber menjelaskan bahwa masyarakat Jawa mengenal dua jenis pepatungan atau perhitungan.
Perhitungan pertama adalah Kertayasa, Candi, Rogoh, dan Sempoyong.
Sementara pasangan perhitungan tersebut adalah Ringkel, Dedel, Nabi, dan Sleman.
Kedua rumus tersebut digunakan secara bersamaan untuk mencari hari yang benar-benar dianggap istimewa.
Menurut penjelasan itu, sebuah hari dinilai sangat baik apabila hasil perhitungan Kertayasa jatuh pada Candi, sedangkan pasangan Ringkel Dedel jatuh pada Nabi atau Sleman.
Kondisi tersebut disebut sebagai hasil yang sangat langka.
Selasa Legi Disebut Hari yang Istimewa
Dalam penjelasan itu disebutkan bahwa hari yang memenuhi kedua syarat tersebut adalah Selasa Legi.
Hari tersebut memiliki jumlah neptu delapan.
Menurut narasumber, Selasa Legi menjadi satu-satunya hari yang mempertemukan hasil Kertayasa pada Candi serta Ringkel Dedel pada Nabi atau Sleman.
Karena itu, hari tersebut disebut sebagai waktu yang sangat istimewa apabila digunakan untuk membangun rumah.
Apalagi jika pelaksanaannya bertepatan dengan Bulan Besar.
Baca Juga: Cara Menghitung Weton Menurut Primbon Jawa, Rumus Neptu untuk Melihat Karakter, Rezeki hingga Jodoh
Narasumber menyebut perpaduan tersebut menjadi salah satu perhitungan terbaik dalam tradisi Primbon Jawa.
Meski demikian, ia mengakui bahwa waktu tersebut hanya muncul sekali dalam satu tahun sehingga tidak selalu mudah dimanfaatkan.
Karena itu, banyak masyarakat tetap memilih hari yang menghasilkan Candi selama bulan yang dipilih juga dianggap baik.
Wuku Juga Menjadi Pertimbangan
Selain bulan, hari, dan pasaran, masyarakat Jawa juga memperhatikan wuku.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa terdapat beberapa wuku yang dipercaya baik untuk memulai pembangunan rumah.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah Wuku Padi.
Menurut narasumber, wuku yang baik menjadi pelengkap dalam menentukan waktu pembangunan rumah.
Namun, penjelasan mengenai wuku tidak dibahas secara rinci dalam percakapan tersebut.
Menentukan Jam yang Tepat
Tidak hanya hari, jam pelaksanaan juga dipercaya memiliki arti penting.
Narasumber menjelaskan bahwa masyarakat Jawa dahulu mencari jam sangat sebelum memulai pekerjaan.
Jam tersebut dihitung menggunakan urutan Urip, Lara, Pati yang diulang terus-menerus.
Jam yang dipilih adalah saat hasil perhitungan jatuh pada Urip.
Menurut penjelasan tersebut, pekerjaan sebaiknya dimulai sebelum melewati waktu yang telah dihitung.
Apabila rumah yang dibangun berbahan kayu, proses mendirikan rangka utama diupayakan dilakukan pada jam tersebut.
Sementara untuk rumah tembok, kerangka bangunan juga dianjurkan mulai didirikan pada waktu yang sama.
Peletakan Batu Pertama Harus Dilakukan Pemilik Rumah
Hal lain yang mendapat perhatian adalah peletakan batu pertama.
Narasumber menegaskan bahwa peletakan batu pertama menjadi penanda dimulainya pembangunan rumah.
Karena itu, prosesi tersebut sebaiknya dilakukan langsung oleh orang yang memiliki hajat membangun rumah.
Pemilik rumah tidak harus ikut bekerja sebagai tukang.
Namun, ia dianjurkan meletakkan batu pertama sebagai simbol bahwa pembangunan rumah dimulai oleh pemiliknya sendiri.
Prosesi tersebut disebut sebagai bagian dari tradisi yang telah dilakukan masyarakat Jawa sejak lama.
Baca Juga: Arah Rezeki Menurut Nogo Dino, Ini Panduan Primbon Jawa agar Terhindar dari Kesialan Setiap Hari
Berbeda dengan Membeli Rumah Jadi
Dalam perbincangan itu juga dijelaskan perbedaan antara membangun rumah dan membeli rumah yang sudah jadi.
Menurut narasumber, apabila membeli rumah, pemilik baru tidak mengetahui proses pembangunan maupun waktu rumah tersebut didirikan.
Karena itu, yang dianjurkan adalah memilih hari baik ketika akan menempati atau melakukan boyongan ke rumah tersebut.
Sementara apabila melakukan renovasi besar hingga mengganti bagian utama bangunan, perhitungan hari baik dianjurkan kembali seperti saat membangun rumah baru.
Baca Juga: Ramalan Primbon Jawa 2026: Weton Kliwon Diprediksi Banjir Rezeki dan Capai Puncak Kemakmuran
Namun, apabila renovasi hanya bersifat ringan, seperti mengganti beberapa genteng atau memperbaiki sebagian kecil bangunan, maka perhitungan tersebut dinilai tidak perlu dilakukan.
Tradisi yang Dilestarikan Secara Turun-Temurun
Di akhir penjelasannya, narasumber menegaskan bahwa seluruh pembahasan tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa yang diwariskan para leluhur.
Ia menegaskan tidak mengajak, memaksa, maupun mewajibkan masyarakat mengikuti perhitungan tersebut.
Baca Juga: Arah Rezeki Menurut Nogo Dino, Ini Panduan Primbon Jawa agar Terhindar dari Kesialan Setiap Hari
Menurutnya, tujuan pembahasan hanyalah mengungkap kembali tradisi yang masih dijalankan sebagian masyarakat hingga kini.
Pada akhirnya, seluruh hari dan bulan pada dasarnya dianggap baik.
Namun, masyarakat Jawa sejak dahulu mengenal berbagai pepatungan mengenai hari, bulan, tanggal, dan tahun yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari pelestarian budaya.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Padepokan Tirto Roso