Cara Melebur Hari Buruk untuk Bepergian Jauh Menurut Primbon Jawa, Simak Ritual Sesuai Hari Naas

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 18:55 WIB
Cara melebur hari buruk untuk bepergian jauh menurut Primbon Jawa dijelaskan Dewi Sundari melalui ritual pangleburan sesuai hari naas. (Youtube. com)
Cara melebur hari buruk untuk bepergian jauh menurut Primbon Jawa dijelaskan Dewi Sundari melalui ritual pangleburan sesuai hari naas. (Youtube. com)

JAKARTA - Cara melebur hari buruk untuk bepergian jauh menurut Primbon Jawa menjadi salah satu pengetahuan tradisional yang masih dikenal sebagian masyarakat. Dalam penjelasan Praktisi Kejawen Dewi Sundari, terdapat tata cara yang diyakini sebagai ikhtiar ketika seseorang harus melakukan perjalanan jauh pada hari yang dianggap sebagai hari naas atau hari apes.

Melalui tayangan di kanal YouTube Dewi Sundari Praktisi Kejawen, dijelaskan bahwa hari naas merupakan waktu ketika kondisi spiritual seseorang dipercaya berada pada titik paling rendah. Karena itu, sebagian masyarakat menganggap hari tersebut kurang baik untuk melakukan perjalanan jauh.

Namun, tidak semua orang dapat memilih waktu keberangkatan sesuai keinginan. Jadwal pekerjaan, urusan keluarga, maupun kebutuhan lainnya sering kali membuat seseorang tetap harus bepergian meski bertepatan dengan hari naas.

Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Membuka Usaha Menurut Primbon Jawa, Begini Rumus Weton dan Arti Sisa Pancas

Untuk kondisi tersebut, Primbon Jawa mengenal cara yang disebut sebagai pangleburan, yakni tata cara melebur hawa buruk sebelum melakukan perjalanan.

Hari Naas Disebut Membuat Seseorang Lebih Rentan

Dalam penjelasannya, Dewi Sundari mengawali pembahasan dengan mengingatkan kembali mengenai pengertian hari naas atau yang juga dikenal sebagai tinawas, hari apes, maupun hari sial.

Menurutnya, hari naas adalah waktu ketika spiritualitas seseorang dipercaya sedang berada pada kondisi paling rendah.

Baca Juga: Weton Pon Disebut Rawan Menikah dengan Tipe Pasangan Ini, Primbon Jawa Ungkap Penyebab dan Cara Menyiasatinya

Pada saat seperti itu, seseorang disebut lebih rentan terhadap berbagai pengaruh negatif, termasuk serangan ilmu hitam.

Karena itulah, pada hari naas masyarakat lazim dianjurkan memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Tuhan, berdoa, hingga menjalani laku prihatin.

Meski demikian, ia juga mengakui bahwa seseorang tidak selalu memiliki kebebasan menentukan jadwal perjalanan.

Ada kalanya perjalanan jauh harus dilakukan karena tuntutan pekerjaan atau kebutuhan lain sehingga tidak memungkinkan memilih hari yang berbeda.

Baca Juga: Keistimewaan Weton Jumat Wage Menurut Primbon Jawa, Dari Watak, Jodoh, Rezeki hingga Karier

Pangleburan Hari Buruk Tercantum dalam Primbon

Menurut Dewi Sundari, tata cara melebur hari buruk tersebut tercantum dalam kitab Primbon Betaljemur Adammakna.

Ia menyebut pembahasan itu berada pada nomor 138 dengan judul Pangleburan Ing Dina Ala, yang berarti cara melebur hari yang dianggap kurang baik.

Ritual tersebut ditujukan bagi orang yang harus melakukan perjalanan jauh.

Yang dimaksud perjalanan jauh dalam penjelasan tersebut bukan aktivitas harian atau perjalanan rutin, melainkan perjalanan yang dilakukan di luar kebiasaan sehari-hari.

Baca Juga: Mengenal Nogo Dino dalam Primbon Jawa, Cara Menghitung hingga Makna Arah Rumah Menurut Weton

Harapannya, orang yang tetap harus berangkat pada hari naas memperoleh keselamatan, kelancaran, serta dapat mencapai tujuan perjalanan.

Tata Cara Melebur Hari Naas Berdasarkan Hari

Dewi Sundari kemudian menjelaskan tata cara pangleburan sesuai hari naas yang dimiliki seseorang.

Apabila hari naas jatuh pada Minggu, seseorang dianjurkan meraba betis sebanyak dua kali sebelum berangkat.

Setelah itu, tahan napas selama tiga langkah pertama ketika keluar dari rumah.

Baca Juga: Keistimewaan Weton Jumat Wage Menurut Primbon Jawa, Dari Watak, Jodoh, Rezeki hingga Karier

Bila hari naas jatuh pada Senin, tata caranya adalah meraba kemaluan sebanyak dua kali.

Sesudahnya, napas ditahan selama dua langkah pertama.

Untuk hari naas Selasa, seseorang diminta meraba telapak kaki satu kali.

Telapak kaki yang diraba dapat menggunakan kaki kanan maupun kiri.

Setelah itu, napas ditahan selama dua langkah.

Baca Juga: Keistimewaan Weton Jumat Wage Menurut Primbon Jawa, Dari Watak, Jodoh, Rezeki hingga Karier

Apabila hari naas jatuh pada Rabu, bagian tubuh yang disentuh adalah bahu.

Bahu kanan maupun kiri boleh digunakan.

Sentuhan dilakukan sebanyak dua kali, kemudian dilanjutkan dengan menahan napas selama tiga langkah pertama.

Ritual Berlanjut Hingga Hari Sabtu

Dalam penjelasan selanjutnya, Dewi Sundari menerangkan tata cara bagi mereka yang memiliki hari naas pada Kamis.

Baca Juga: Ramalan Weton Jumat Wage Tahun 2026 Menurut Primbon Jawa, Rezeki, Asmara, dan Perjalanan Hidup Jadi Sorotan

Sebelum bepergian, seseorang dianjurkan meraba hidung sebanyak empat kali.

Setelah itu, napas kembali ditahan sesuai tata cara yang dijelaskan.

Sementara bagi pemilik hari naas Jumat, ritual dilakukan dengan meraba ubun-ubun sebanyak tiga kali.

Sesudahnya, napas ditahan selama tiga langkah pertama setelah keluar rumah.

Adapun apabila hari naas jatuh pada Sabtu, bagian tubuh yang disentuh adalah dada.

Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Pindahan Menurut Primbon Jawa, Ini Daftar Hari yang Dianggap Paling Baik

Dada diraba sebanyak empat kali, kemudian dilanjutkan dengan menahan napas sepanjang tiga langkah pertama.

Menurut Dewi Sundari, tata cara tersebut dilakukan sebelum memulai perjalanan jauh.

Tujuan Pangleburan Menurut Primbon Jawa

Dewi Sundari menjelaskan bahwa ritual tersebut dimaksudkan sebagai upaya melebur hawa buruk ketika seseorang tidak memiliki pilihan selain tetap bepergian pada hari naas.

Harapannya, orang yang melakukan perjalanan memperoleh keselamatan selama di perjalanan.

Baca Juga: Weton Pon Disebut Rawan Menikah dengan Tipe Pasangan Ini, Primbon Jawa Ungkap Penyebab dan Cara Menyiasatinya

Selain itu, perjalanan juga diharapkan berlangsung lancar, selamat sampai tujuan, serta niat yang menjadi tujuan keberangkatan dapat tercapai.

Ia menegaskan bahwa pembahasan tersebut merupakan salah satu pengetahuan yang bersumber dari kitab Primbon Jawa dan disampaikan sebagai tambahan wawasan bagi masyarakat yang ingin mempelajari tradisi Kejawen.

Disebut Sebagai Tambahan Wawasan Tradisi Kejawen

Menutup penjelasannya, Dewi Sundari berharap uraian mengenai cara melebur hari buruk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga: Ramalan Primbon Jawa 2026: Weton Kliwon Diprediksi Banjir Rezeki dan Capai Puncak Kemakmuran

Ia menyampaikan bahwa pengetahuan tersebut merupakan bagian dari warisan tradisi yang terdapat dalam Primbon Jawa.

Dengan memahami tata cara tersebut, masyarakat yang tertarik mempelajari budaya Kejawen diharapkan memperoleh tambahan wawasan mengenai tradisi yang berkaitan dengan perjalanan jauh dan hari naas.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Dewi Sundari Praktisi Kejawen
hari naas Dewi Sundari cara melebur hari buruk bepergian jauh Primbon Jawa