JAKARTA - Kalender Aboge menjadi salah satu sistem penanggalan Jawa yang masih dipelajari hingga kini. Melalui sebuah video edukasi dari kanal CSTV Wonosalam, dijelaskan bahwa kalender Aboge dapat dihafal seumur hidup hanya dengan mengingat sekitar 20 kata atau singkatan yang menjadi rumus dasar penentuan hari dan tanggal dalam siklus delapan tahun kalender Jawa.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa kalender Aboge memiliki siklus delapan tahun yang dimulai dari Tahun Alif hingga Tahun Jimakir. Setelah memasuki tahun kedelapan, perhitungan kembali ke Tahun Alif sehingga pola hari dan tanggal kembali berulang.
Karena pola itu terus berulang, penghafalan rumus cukup dilakukan sekali. Selanjutnya, rumus tersebut dapat digunakan untuk menentukan hari dan tanggal dalam kalender Jawa tanpa harus selalu membuka kalender cetak.
Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah Menurut Primbon Jawa, Begini Hitungan Neptu dan Naga Bulan
Kalender Aboge Memiliki Siklus Delapan Tahun
Pada awal video dijelaskan bahwa kalender Aboge bekerja berdasarkan delapan tahun atau satu windu.
Urutan tahunnya terdiri atas Alif, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.
Setelah Tahun Jimakir berakhir, siklus kembali lagi ke Tahun Alif. Menurut penjelasan narator, pada saat itulah hari dan tanggal akan kembali memiliki susunan yang sama seperti awal siklus.
Karena pola tersebut terus berulang, metode menghafal kalender menjadi lebih sederhana.
Narator menyampaikan bahwa video sengaja menggunakan bahasa Jawa karena seluruh singkatan dan rumus yang dipakai berasal dari istilah Jawa sehingga dinilai lebih mudah dipahami dibandingkan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Delapan Singkatan Dasar Kalender Aboge
Langkah pertama yang dijelaskan adalah menghafalkan delapan singkatan yang menjadi patokan tanggal 1 Suro pada setiap tahun.
Delapan singkatan tersebut adalah:
- Aboge
- Hekatpon
- Jematpon
- Jasing
- Daltugi
- Bemisgi
- Wenenwon
- Jematge
Masing-masing singkatan mewakili hari dan pasaran tanggal 1 Suro pada setiap tahun dalam kalender Aboge.
Pada Tahun Alif, tanggal 1 Suro jatuh pada Rebo Wage sehingga dikenal dengan singkatan Aboge.
Tahun berikutnya, yaitu Ehe, memiliki patokan tanggal 1 Suro pada Ahad Pon yang disingkat Hekatpon.
Selanjutnya, Tahun Jimawal memiliki tanggal 1 Suro pada Jumat Pon atau Jematpon.
Pada Tahun Je, tanggal 1 Suro jatuh pada Selasa Pahing yang disingkat Jasing.
Tahun Dal memiliki patokan Sabtu Legi sehingga diringkas menjadi Daltugi.
Kemudian Tahun Be menggunakan Kamis Legi yang dikenal dengan singkatan Bemisgi.
Untuk Tahun Wawu, tanggal 1 Suro jatuh pada Senin Kliwon sehingga muncul singkatan Wenenwon.
Sementara Tahun Jimakir memiliki tanggal 1 Suro pada Jumat Wage yang disingkat Jematge.
Baca Juga: Nogo Dino Menurut Primbon Jawa, Ini Arah Baik dan Arah Pantangan Mencari Rezeki Setiap Hari
Narator menegaskan bahwa susunan tersebut merupakan pakem kalender Aboge dan tidak berubah.
Rumus Menentukan Tanggal Awal Setiap Bulan
Setelah mengetahui hari pertama bulan Suro, langkah berikutnya adalah menentukan tanggal 1 pada seluruh bulan dalam kalender Jawa.
Untuk itu diperkenalkan rumus lain berupa singkatan berbahasa Jawa yang harus dihafalkan.
Rangkaian singkatan tersebut digunakan sebagai petunjuk jumlah perpindahan hari dan pasaran dari satu bulan ke bulan berikutnya.
Narator menjelaskan bahwa rumus tersebut dapat disimpan melalui tangkapan layar atau dicatat agar lebih mudah dipelajari.
Sebagai contoh digunakan Tahun Alif.
Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Bepergian Menurut Primbon Jawa, Kenali Tibo Ratu hingga Tibo Gajah
Tanggal 1 Suro pada Tahun Alif sudah diketahui jatuh pada Rebo Wage.
Dari patokan tersebut, rumus berikutnya digunakan untuk menghitung hari pertama bulan Safar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, hingga Besar.
Perhitungan dilakukan dengan menambahkan jumlah hari dan pasaran sesuai kode singkatan yang telah dihafalkan.
Contoh Perhitungan Kalender Jawa
Dalam video diperlihatkan contoh penghitungan tanpa melihat kalender.
Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah Menurut Primbon Jawa, Begini Hitungan Neptu dan Naga Bulan
Berdasarkan rumus tersebut, narator memperoleh hasil bahwa tanggal 1 Safar Tahun Alif jatuh pada Jumat Wage.
Selanjutnya, tanggal 1 Mulud dihitung jatuh pada Sabtu Pon.
Tanggal 1 Bakda Mulud diperoleh Senin Pon.
Kemudian tanggal 1 Jumadil Awal jatuh pada Selasa Pahing.
Tanggal 1 Jumadil Akhir dihitung Kamis Pahing.
Selanjutnya, tanggal 1 Rajab jatuh pada Jumat Legi.
Tanggal 1 Ruwah diperoleh Minggu Legi.
Untuk bulan Pasa atau Ramadan, hasil perhitungan menunjukkan Senin Kliwon.
Kemudian tanggal 1 Sawal jatuh pada Rebo Kliwon.
Sementara Dulkangidah diperoleh Kamis Wage.
Adapun tanggal 1 Besar jatuh pada Sabtu Wage.
Setelah seluruh hasil diperoleh, narator mencocokkannya dengan kalender Jawa dan menyatakan seluruh perhitungan sesuai.
Cara Menggunakan Rumus pada Tahun Lain
Metode yang sama juga diterapkan pada tahun-tahun lainnya.
Sebagai contoh digunakan Tahun Wawu.
Karena singkatan Tahun Wawu adalah Wenenwon, maka tanggal 1 Suro langsung diketahui jatuh pada Senin Kliwon.
Baca Juga: Hari Baik Boyongan Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitung agar Pindah Rumah Lebih Selamat
Selanjutnya, rumus perpindahan bulan kembali digunakan untuk menentukan awal bulan Safar hingga Besar tanpa membuka kalender.
Melalui contoh tersebut diperoleh hasil bahwa tanggal 1 Safar Tahun Wawu jatuh pada Rebo Kliwon.
Sementara tanggal 1 Besar dihitung berada pada Kamis Kliwon.
Narator kemudian mencocokkan hasil hitungannya dengan kalender dan menyatakan hasilnya sama.
Menurut penjelasan dalam video, pola perhitungan tersebut berlaku untuk seluruh tahun dalam siklus delapan tahunan kalender Aboge.
Kalender Aboge Dinilai Lebih Mudah Dihafal
Video tersebut menekankan bahwa inti pembelajaran kalender Aboge terletak pada kemampuan menghafal singkatan-singkatan dasar.
Apabila delapan singkatan tahun dan rumus perpindahan bulan telah diingat, seseorang dapat menentukan hari pertama setiap bulan tanpa harus melihat kalender.
Baca Juga: Hari Baik Boyongan Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitung agar Pindah Rumah Lebih Selamat
Narator juga menyampaikan bahwa penggunaan bahasa Jawa dipertahankan karena seluruh istilah dalam rumus berasal dari bahasa tersebut.
Di akhir video, ia berharap penjelasan yang diberikan dapat membantu masyarakat memahami cara membaca kalender Aboge dengan lebih mudah.
Video kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada penonton yang telah mengikuti penjelasan hingga selesai serta harapan agar materi tersebut memberikan manfaat bagi siapa saja yang ingin mempelajari kalender Jawa.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : CSTV Wonosalam