JAKARTA - Kalender Jawa masih digunakan sebagian masyarakat untuk menentukan weton, menghitung neptu, memilih hari baik, hingga mencocokkan jodoh. Di balik penggunaannya yang bertahan selama berabad-abad, muncul pertanyaan apakah sistem penanggalan ini memiliki dasar ilmiah atau hanya menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan secara turun-temurun.
Pertanyaan tersebut dibahas dalam video yang diunggah kanal Suaka Cerita. Video itu mengulas sejarah kalender Jawa, cara menghitung weton dan neptu, hingga meninjau sistem tersebut dari sudut pandang astronomi, matematika, psikologi, dan ilmu sosial.
Kalender Jawa disebut masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama di Pulau Jawa. Selain digunakan untuk menentukan hari baik dan hari buruk, sistem ini juga dipakai dalam penentuan jadwal pasar tradisional di sejumlah daerah.
Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah Menurut Primbon Jawa, Begini Hitungan Neptu dan Naga Bulan
Kalender Jawa Berasal dari Mataram Islam
Dalam penjelasan video disebutkan bahwa kalender Jawa menjadi sistem penanggalan utama di wilayah Mataram Islam dan tetap bertahan hingga sekarang, khususnya dalam tradisi masyarakat Jawa.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pergeseran tanggal 1 Suro dari tahun ke tahun.
Tanggal 1 Suro tahun 1958 Jawa bertepatan dengan 19 Juli 2024 Masehi. Sementara itu, 1 Suro tahun 1959 Jawa jatuh pada 7 Juli 2025 Masehi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kalender Jawa tidak mengikuti sistem kalender Masehi secara tetap. Pergeseran tanggal terjadi sesuai sistem perhitungan yang digunakan dalam kalender Jawa.
Keunikan Kalender Jawa Ada pada Sistem Pasaran
Salah satu ciri khas kalender Jawa adalah keberadaan sistem pasaran.
Jika kalender Masehi mengenal tujuh hari dalam satu pekan, kalender Jawa memiliki lima hari pasaran yang terdiri atas Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Kelima pasaran tersebut berjalan bersamaan dengan siklus tujuh hari dalam kalender Masehi.
Akibatnya, setiap tanggal memiliki kombinasi antara hari Masehi dan hari pasaran Jawa.
Sebagai contoh, seseorang dapat lahir pada Selasa Kliwon, Jumat Legi, Senin Pon, atau kombinasi lainnya.
Video menjelaskan bahwa kombinasi hari dan pasaran tersebut akan kembali terulang setiap 35 hari.
Baca Juga: Cara Mencari Hari Baik Pernikahan Menurut Primbon Jawa, Begini Rumus dan Contoh Menghitungnya
Siklus itu diperoleh dari hasil perkalian tujuh hari Masehi dengan lima hari pasaran.
Karena itulah, weton seseorang akan kembali muncul setiap 35 hari sekali.
Cara Menghitung Weton dan Neptu
Video juga menjelaskan contoh sederhana cara menentukan weton dan neptu berdasarkan tanggal lahir.
Sebagai contoh digunakan tanggal 21 Maret 2000.
Langkah pertama adalah menentukan hari dalam kalender Masehi.
Baca Juga: Hari Baik Pindah Rumah Menurut Jawa, Begini Hitungan Petung Nogo Dino Berdasarkan Arah dan Bulan
Tanggal tersebut diketahui jatuh pada hari Selasa.
Langkah berikutnya adalah menentukan hari pasaran Jawa.
Menurut penjelasan dalam video, 21 Maret 2000 bertepatan dengan pasaran Legi.
Setelah hari dan pasaran diketahui, proses berikutnya adalah menghitung neptu.
Dalam sistem neptu, setiap hari dan pasaran memiliki nilai masing-masing.
Hari Selasa memiliki nilai 3, sedangkan Legi memiliki nilai 5.
Baca Juga: Cara Mencari Hari Baik Pernikahan Menurut Primbon Jawa, Begini Rumus dan Contoh Menghitungnya
Jika kedua nilai dijumlahkan, hasilnya adalah 8.
Dengan demikian, seseorang yang lahir pada 21 Maret 2000 memiliki weton Selasa Legi dengan neptu 8.
Dalam tradisi primbon Jawa, nilai neptu tersebut digunakan sebagai dasar untuk melihat karakter seseorang, kecocokan pasangan, hingga keberuntungan dalam kehidupan.
Ditinjau dari Perspektif Ilmu Pengetahuan
Setelah menjelaskan sistem perhitungan kalender Jawa, video kemudian membahas apakah sistem tersebut memiliki dasar ilmiah.
Baca Juga: Hari Baik Pindah Rumah Menurut Jawa, Begini Hitungan Petung Nogo Dino Berdasarkan Arah dan Bulan
Menurut penjelasan yang disampaikan, beberapa unsur kalender Jawa memang dapat diterangkan melalui ilmu astronomi dan matematika.
Kalender Jawa menggunakan sistem berbasis lunar atau peredaran bulan yang memiliki kemiripan dengan kalender Hijriah.
Perhitungan tersebut mengikuti fase-fase bulan yang dapat dihitung secara akurat dalam ilmu astronomi.
Sistem serupa juga digunakan dalam berbagai kalender lain, termasuk kalender Islam dan kalender Cina, untuk menentukan awal bulan berdasarkan pergerakan bulan terhadap bumi.
Selain itu, sistem pasaran dalam kalender Jawa dinilai memiliki pola matematika yang teratur.
Gabungan siklus tujuh hari Masehi dengan lima hari pasaran menghasilkan pola berulang setiap 35 hari.
Menurut penjelasan video, pola tersebut dapat dijelaskan melalui konsep matematika modular karena memiliki keteraturan yang dapat diprediksi.
Weton dan Neptu Belum Memiliki Bukti Ilmiah
Meski demikian, video juga menegaskan bahwa tidak seluruh aspek kalender Jawa dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan modern.
Kepercayaan mengenai weton yang memengaruhi karakter, rezeki, hingga kecocokan jodoh disebut lebih berada dalam ranah budaya dan tradisi.
Dari sudut pandang psikologi dan ilmu sosial, disebutkan belum terdapat penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa tanggal lahir seseorang secara langsung menentukan kepribadian maupun keberuntungan hidupnya.
Baca Juga: Hari Baik Boyongan Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitung agar Pindah Rumah Lebih Selamat
Karakter seseorang dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan, dan pengalaman hidup dibandingkan kombinasi hari dan pasaran kelahiran.
Karena itu, berbagai perhitungan mengenai kecocokan pasangan maupun hari baik masih dipandang sebagai bagian dari kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Warisan Budaya yang Tetap Bertahan
Walaupun tidak semua unsur kalender Jawa dapat dibuktikan secara ilmiah, video tersebut menilai sistem penanggalan ini tetap memiliki nilai penting.
Kalender Jawa telah digunakan selama ratusan tahun sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jawa.
Fungsinya tidak hanya sebagai alat penunjuk waktu, tetapi juga mencerminkan cara berpikir dan filosofi hidup masyarakat pada masanya.
Melalui kalender tersebut, masyarakat mengenal sistem waktu yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya, adat, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Di akhir video, narator kembali mengajak masyarakat melihat kalender Jawa dari dua sudut pandang.
Di satu sisi terdapat unsur yang dapat dijelaskan melalui astronomi dan matematika, seperti sistem lunar dan pola siklus pasaran.
Di sisi lain terdapat unsur kepercayaan, seperti perhitungan weton, penentuan hari baik, hingga kecocokan jodoh yang belum memiliki pembuktian ilmiah.
Video kemudian menutup pembahasannya dengan mengajak masyarakat memberikan pandangan masing-masing mengenai apakah kalender Jawa lebih tepat dipahami sebagai sistem yang memiliki dasar ilmiah atau sebagai warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat hingga sekarang.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Suaka Cerita