TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Telinga berdenging kerap dikaitkan dengan berbagai mitos di masyarakat, mulai dari tanda amal ibadah tidak diterima hingga dianggap sebagai panggilan Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah kajian bahwa anggapan tersebut tidak memiliki dasar dan meminta masyarakat tidak menghubungkan kondisi medis dengan keyakinan yang tidak benar.
Menurut penjelasan dalam kajian tersebut, telinga berdenging lebih tepat dipahami sebagai gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi telinga. Karena itu, seseorang yang mengalami keluhan tersebut dianjurkan memeriksakan diri kepada tenaga medis agar penyebabnya diketahui secara jelas.
Ustaz tersebut juga menepis anggapan bahwa telinga berdenging menjadi tanda seseorang sedang dipanggil Nabi Muhammad SAW. Ia menegaskan bahwa ajakan Nabi untuk beribadah sudah disampaikan melalui hadis dan ajaran Islam, bukan melalui tanda-tanda seperti telinga berdenging.
Baca Juga: Ruang Publik Ramah Anak Masih Terbatas Ada Ruang Terbuka yang Aman dan Nyaman
Analisis Tema dan Mitos Telinga Berdenging
Fenomena mengaitkan telinga berdenging dengan hal-hal gaib masih sering dijumpai di tengah masyarakat. Dalam pertanyaan yang diajukan kepada ustaz, disebutkan adanya keyakinan bahwa telinga berdenging menandakan amal ibadah tidak diterima Allah SWT.
Selain itu, ada pula kepercayaan yang menyebut telinga berdenging merupakan pertanda seseorang sedang dipanggil oleh Nabi Muhammad SAW.
Menanggapi hal tersebut, ustaz menjelaskan bahwa keduanya tidak memiliki hubungan. Ia meminta masyarakat tidak mempercayai kabar semacam itu tanpa dasar yang jelas.
Menurutnya, apabila telinga berdenging, langkah yang seharusnya dilakukan adalah mencari penyebab dari sisi kesehatan.
Telinga Berdenging Disebut Berkaitan dengan Kondisi Medis
Dalam penjelasannya, ustaz mengatakan telinga berdenging kemungkinan muncul karena adanya gangguan atau tekanan pada telinga.
Karena itu, ia menyarankan agar orang yang mengalami kondisi tersebut berkonsultasi dengan dokter.
Menurutnya, tenaga medis lebih berwenang menjelaskan penyebab telinga berdenging dibanding menghubungkannya dengan berbagai mitos.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua kondisi yang dialami tubuh harus dikaitkan dengan pertanda tertentu.
Bantahan terhadap Anggapan Dipanggil Nabi
Ustaz tersebut secara tegas membantah anggapan bahwa telinga berdenging merupakan panggilan Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, Nabi telah mengajak umat Islam untuk melaksanakan salat, beribadah, dan berbuat baik melalui hadis-hadis yang diwariskan.
Karena itu, umat Islam tidak perlu menunggu munculnya telinga berdenging untuk mulai menjalankan ibadah.
Ia bahkan menyampaikan bahwa apabila seseorang hanya mau beribadah ketika telinganya berdenging, maka pemahaman tersebut keliru.
Ajakan Nabi, katanya, selalu hadir melalui ilmu dan ajaran agama, bukan melalui fenomena fisik yang belum tentu memiliki kaitan dengan urusan spiritual.
Baca Juga: Pelecehan Verbal Tak Lagi Dianggap Sepele Siulan dan Candaan Seksual Bisa Dipidana
Tidak Perlu Mengaitkan Semua Peristiwa dengan Hal Gaib
Selain membahas telinga berdenging, ustaz juga menyinggung berbagai kepercayaan lain yang berkembang di masyarakat.
Ia mencontohkan anggapan bahwa telinga berdenging menandakan ada orang meninggal dunia.
Menurutnya, keyakinan seperti itu tidak memiliki dasar sehingga tidak perlu dipercaya.
Ia juga menyebut bahwa masyarakat sering kali menerima berbagai cerita turun-temurun tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.
Karena itulah, ia mengajak umat Islam agar lebih berhati-hati dalam menerima informasi yang berkaitan dengan agama.
Menyinggung Mitos Kedutan Mata
Dalam kajian tersebut, pembahasan kemudian berkembang pada mitos lain yang masih dipercaya sebagian masyarakat, yakni kedutan mata.
Ustaz mencontohkan adanya kepercayaan bahwa kedutan pada mata kiri menandakan kehilangan uang, sedangkan kedutan mata kanan dianggap pertanda memperoleh rezeki.
Menurutnya, anggapan tersebut juga tidak memiliki dasar.
Ia menjelaskan bahwa kedutan merupakan hal yang wajar terjadi karena manusia memiliki otot, urat, dan saraf pada tubuhnya.
Dengan demikian, munculnya kedutan tidak otomatis berkaitan dengan kejadian tertentu yang akan dialami seseorang.
Kedutan Disebut sebagai Proses Alami Tubuh
Dalam penjelasannya, ustaz menggunakan contoh sederhana untuk menggambarkan bahwa kedutan merupakan reaksi alami tubuh.
Ia mengatakan manusia memiliki jaringan otot, kulit, dan urat sehingga gerakan kecil seperti kedutan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak langsung menghubungkan kedutan dengan ramalan atau pertanda.
Menurutnya, apabila muncul keluhan yang terus berulang atau mengganggu aktivitas, langkah yang lebih tepat adalah mencari penjelasan dari sisi kesehatan.
Baca Juga: Seleksi Ketat Personel Paskriba, Penyakit Bawaan Jadi Sorotan
Mengajak Umat Meninggalkan Keyakinan yang Tidak Berdasar
Di akhir penjelasannya, ustaz mengajak masyarakat meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak memiliki landasan.
Ia menilai masih banyak kepercayaan yang berkembang hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut.
Menurutnya, kebiasaan mempercayai mitos seperti telinga berdenging atau kedutan mata dapat membuat seseorang menjauh dari pemahaman agama yang benar.
Karena itu, ia mengimbau agar umat Islam lebih mengutamakan ilmu yang bersumber dari ajaran Nabi Muhammad SAW.
Mengutamakan Ilmu dan Hadis
Ustaz menegaskan bahwa umat Islam seharusnya berpegang pada ilmu dan hadis yang jelas.
Ia mengatakan ajaran Nabi sudah memberikan tuntunan mengenai ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, seseorang tidak perlu mencari-cari pertanda dari fenomena tubuh yang sebenarnya dapat dijelaskan secara rasional maupun medis.
Menurutnya, pemahaman agama harus dibangun di atas ilmu, bukan sekadar mengikuti cerita yang belum jelas asal-usulnya.
Pesan Penutup Kajian
Sebagai penutup, ustaz menyampaikan doa agar Allah SWT memberikan bimbingan dan petunjuk kepada seluruh umat.
Ia juga berharap masyarakat dijauhkan dari berbagai keyakinan yang tidak benar serta diberikan pemahaman agama yang lebih baik.
Selain itu, ia mengajak umat Islam untuk terus mempelajari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir tayangan, pembawa acara juga mengajak penonton untuk memperbanyak membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW setelah menyaksikan video tersebut.
Baca Juga: Kaji Ulang Syarat Pendidikan Calon Kades
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest