TRENGGALEK - Hari baik menikah menurut Primbon Jawa masih menjadi informasi yang banyak dicari masyarakat, terutama pasangan yang ingin menentukan tanggal akad berdasarkan perhitungan weton. Salah satu kombinasi weton yang kerap ditanyakan adalah Rabu Pahing dan Senin Pon, yang memiliki hitungan tersendiri dalam tradisi Jawa.
Menentukan hari pernikahan berdasarkan Primbon Jawa hingga kini masih menjadi bagian dari tradisi yang dijaga banyak keluarga. Selain mempertimbangkan kesiapan kedua mempelai, sebagian masyarakat juga memperhitungkan weton kelahiran, penanggalan Jawa, hingga hari yang dianggap membawa keberuntungan bagi kehidupan rumah tangga.
Dalam salah satu pembahasan mengenai Primbon Jawa, dijelaskan cara menentukan hari baik menikah untuk pasangan dengan weton Rabu Pahing dan Senin Pon. Prosesnya dilakukan melalui perhitungan neptu kedua calon mempelai sebelum dicocokkan dengan kalender Jawa.
Weton Menjadi Dasar Menentukan Hari Pernikahan
Menurut penjelasan tersebut, langkah pertama adalah mengetahui weton masing-masing calon pengantin. Nilai neptu dari weton pria dan wanita kemudian dijumlahkan sebagai dasar menentukan hari yang sesuai untuk melangsungkan akad nikah.
Setelah memperoleh jumlah neptu, dilakukan pencocokan menggunakan metode hitungan Primbon Jawa yang umum dipakai di sejumlah daerah. Dari hasil tersebut akan diperoleh beberapa pilihan hari yang dianggap baik untuk menggelar pernikahan.
Meski metode perhitungan dapat berbeda di setiap wilayah, prinsip utamanya tetap sama, yakni mencari hari yang dinilai selaras dengan weton kedua mempelai agar kehidupan rumah tangga diharapkan berjalan harmonis.
Hasil Perhitungan untuk Weton Rabu Pahing dan Senin Pon
Dalam contoh yang dibahas, pasangan dengan weton Rabu Pahing dan Senin Pon memperoleh beberapa alternatif hari yang dinilai baik berdasarkan metode perhitungan tersebut.
Narasumber menjelaskan bahwa terdapat tanggal yang memenuhi hasil hitungan dan dapat dijadikan referensi ketika pasangan hendak menentukan waktu akad nikah. Namun, tanggal tersebut bukan merupakan ketentuan mutlak karena tetap harus disesuaikan dengan siklus kalender Jawa pada tahun pelaksanaan pernikahan.
Artinya, ketika pasangan akan menikah pada tahun yang berbeda, proses pencocokan terhadap bulan Jawa, wuku, hingga hari yang perlu dihindari tetap harus dilakukan kembali agar hasilnya sesuai dengan kalender yang sedang berlaku.
Tidak Hanya Weton, Wuku dan Penanggalan Juga Diperhatikan
Primbon Jawa tidak hanya memperhitungkan weton kelahiran. Penentuan hari baik menikah juga mempertimbangkan unsur lain seperti wuku, bulan Jawa, serta hari-hari yang dalam penanggalan tradisional dianggap kurang baik untuk mengadakan hajatan.
Karena itu, meskipun hasil hitungan weton menunjukkan kecocokan terhadap suatu hari tertentu, tanggal tersebut masih perlu dicek kembali agar tidak bertepatan dengan hari pantangan menurut kalender Jawa.
Pendekatan seperti ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Jawa yang ingin tetap menjaga tradisi leluhur dalam menentukan waktu penyelenggaraan pernikahan.
Baca Juga: Rahasia Watak dan Rezeki Kamis Kliwon Menurut Primbon Jawa: Memiliki Daya Tahan Batin dan Pantangan
Metode Primbon Bisa Berbeda di Setiap Daerah
Narasumber juga menegaskan bahwa rumus perhitungan hari baik menikah tidak selalu sama di setiap daerah. Perbedaan biasanya berasal dari pakem yang diwariskan para sesepuh atau tokoh adat setempat.
Meski demikian, tujuan seluruh metode tersebut tetap serupa, yakni membantu pasangan memilih waktu yang dianggap paling baik untuk memulai kehidupan rumah tangga menurut tradisi Jawa.
Oleh sebab itu, pasangan yang ingin menggunakan perhitungan Primbon Jawa disarankan tetap berkonsultasi dengan keluarga atau sesepuh yang memahami adat di daerah masing-masing. Dengan begitu, penentuan hari pernikahan tidak hanya sesuai hasil hitungan weton, tetapi juga selaras dengan tradisi yang masih dijalankan dalam lingkungan keluarga.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Eyang Kondo Buwono