JAKARTA - Nama-nama hari yang kita gunakan sehari-hari dalam kalender Masehi—seperti Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu—sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa kebudayaan Jawa memiliki tatanan dan filosofi penamaan hari yang tak kalah kaya serta sarana penanda sejarah penanggalan nusantara. Mengungkap sejarah dan asal-usul nama hari Jawa menjadi topik menarik untuk memahami bagaimana peradaban lokal merekam waktu secara terstruktur.
Penggunaan kalender dan nama hari dalam penanggalan Jawa memiliki akar tradisi yang kuat, memadukan unsur budaya lokal, pengaruh Hindu-Buddha, hingga penyesuaian budaya Islam pada masa kerajaan. Dalam tradisi lisan dan manuskrip kuno, penamaan hari Jawa tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga membawa simbolis makna kehidupan, watak manusia, hingga pedoman dalam beraktivitas. Memahami asal-usul nama hari Jawa memberikan wawasan mendalam tentang kecerdasan leluhur dalam menyelaraskan kehidupan sehari-hari dengan kosmologi alam.
Keberadaan sistem penanggalan ini juga sangat erat kaitannya dengan istilah-istilah klasik seperti Raditya, Anggara, Kliwon, hingga penggunaan sebutan unik seperti Respati untuk menggambarkan hari-hari tertentu. Pengetahuan mengenai asal-usul nama hari Jawa menjadi penting agar warisan sejarah dan bahasa kuno ini tidak tergerus oleh era modernisasi yang serba cepat.
Baca Juga: Jokowi Bawa Ijazah ke Persidangan, dari SD hingga S1: Siap Tunjukkan di Depan Hakim
Dalam penanggalan Jawa kuno, penamaan tujuh hari dalam seminggu (Saptawara) banyak diserap dari bahasa Sansekerta yang diperkenalkan pada masa pengaruh kerajaan Hindu-Buddha di nusantara. Istilah-istilah tersebut mencerminkan benda-benda langit atau dewa-dewa penjelmaan alam.
-
Raditya (Minggu) melambangkan matahari sebagai sumber kehidupan utama.
-
Soma (Senin) melambangkan bulan yang memberikan kelembutan dan ketenangan.
-
Anggara (Selasa) merepresentasikan planet Mars yang melambangkan keberanian dan ketegasan.
-
Buda (Rabu) mengacu pada planet Merkurius sebagai simbol kecerdasan.
-
Respati (Kamis) melambangkan planet Yupiter yang identik dengan kebijaksanaan dan keagungan.
-
Sukra (Jumat) melambangkan planet Venus sebagai simbol keindahan.
-
Tumpak atau Saniscara (Sabtu) merepresentasikan planet Saturnus.
Sebutan Respati dan Anggara kerap muncul dalam tradisi sastra maupun seni tutur masyarakat Jawa untuk menyebut Kamis dan Selasa, yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat tradisional maupun praktisi kebudayaan.
Baca Juga: Dr. Tifa Mundur dari Polemik Ijazah Jokowi, Tapi Tetap Siap Jadi Saksi di Pengadilan
Kombinasi Saptawara dan Pancawara (Pasaran)
Salah satu keunikan utama penanggalan Jawa yang membedakannya dari sistem kalender lain adalah penggabungan siklus tujuh hari (Saptawara) dengan siklus lima hari pasaran (Pancawara). Siklus lima hari pasaran tersebut meliputi Legi, Pahang, Pon, Wage, dan Kliwon.
Penyatuan dua siklus ini menghasilkan perhitungan 35 hari yang dikenal sebagai Weton. Konsep Weton inilah yang kemudian digunakan oleh masyarakat Jawa untuk menentukan hari baik, memperhitungkan jodoh, merencanakan acara penting, hingga membaca watak dasar seseorang. Leluhur Jawa percaya bahwa setiap kombinasi hari dan pasaran membawa energi serta makna spiritual yang berbeda-beda bagi kehidupan manusia.
Baca Juga: Dr. Tifa Mundur dari Polemik Ijazah Jokowi, Ungkap Alasan dan Langkah Selanjutnya
Akulturasi Kebudayaan dan Adaptasi Kalender Hijriah
Seiring masuk dan berkembangnya pengaruh Islam di pulau Jawa, sistem penanggalan mengalami akulturasi yang sangat signifikan, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram. Pada tahun 1633 Masehi, Sultan Agung menetapkan penggabungan antara sistem kalender Saka yang berbasis matahari dengan kalender Hijriah yang berbasis bulan.
Langkah strategis ini menciptakan sistem Kalender Jawa Islam. Dalam penyesuaian tersebut, nama-nama hari Sansekerta secara bertahap dipadankan dengan penyerapan bahasa Arab: Akad (Ahad), Senen (Isnain), Seloso (Tsulasa), Rebu (Arbi'a), Kemis (Khamis), Jumat (Jumu'ah), dan Setu (Sabtu). Meskipun penyerapan bahasa Arab mendominasi sebutan harian masyarakat luas, nama-nama hari klasik seperti Respati dan Anggara serta sistem lima hari pasaran tetap hidup berdampingan sebagai warisan identitas budaya lokal.
Melalui perjalanan sejarah yang panjang, tatanan hari Jawa membuktikan betapa dinamisnya kebudayaan nusantara dalam menerima pengaruh luar tanpa kehilangan akar tradisinya sendiri.
Baca Juga: Jokowi Siap Hadiri Sidang, Bawa Ijazah SD hingga S1 untuk Diperlihatkan di Pengadilan
course: Youtube @EyangKondoBuwono
Editor : Erlin Nur Azizah