JAKARTA - Bagi masyarakat Jawa tradisional, setiap keputusan besar dalam hidup tidak pernah diambil secara terburu-buru atau sembarangan. Mulai dari merencanakan pernikahan, membuka tempat usaha, merantau, hingga mendirikan bangunan, selalu diawali dengan perhitungan cermat yang diwariskan oleh para leluhur. Salah satu ajaran penting yang menjadi pedoman utama dalam ikhtiar keselamatan tersebut adalah ilmu Lungguhing Dino lan Pasaran.
Secara harfiah, lungguh berarti tempat duduk atau kedudukan. Konsep Lungguhing Dino lan Pasaran mengajarkan bahwa setiap hari (dina) dan pasaran memiliki titik kedudukan energi atau arah mata angin tertentu di alam semesta. Memahami tatanan ini diyakini membantu manusia menyelaraskan langkahnya dengan arah energi positif yang sedang aktif, sehingga seluruh niat dan hajatan dapat berjalan dengan lancar, rahayu, serta terhindar dari marabahaya.
Dalam tradisi lisan Jawa kuno, perhitungan ini bukan sekadar mistisisme tanpa dasar, melainkan bentuk ikhtiar batiniah dan spiritual. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa manusia harus pandai membaca tanda-tanda alam dan tidak membelakangi atau memaksakan diri melawan arah kedudukan hari. Pengenalan terhadap Lungguhing Dino lan Pasaran menjadi sarana penting untuk memelihara keseimbangan antara perjalanan hidup manusia dengan ritme kosmos.
Arah Kedudukan Hari (Saptawara) dan Pasaran (Pancawara)
Dalam ilmu petungan Jawa, kedudukan hari dan pasaran terbagi ke dalam empat penjuru mata angin utama serta sudut-sudutnya. Setiap kombinasi hari dan pasaran memiliki titik pusat energi yang berbeda-beda:
Kedudukan Hari (Saptawara):
-
Minggu (Akad): Berkedudukan di arah Timur Laut (Lor Wetan).
-
Senin: Berkedudukan di arah Barat Laut (Lor Kulon).
-
Selasa: Berkedudukan di arah Utara (Lor).
-
Rabu: Berkedudukan di arah Barat (Kulon).
-
Kamis: Berkedudukan di arah Tenggara (Kidul Wetan).
-
Jumat: Berkedudukan di arah Barat Daya (Kidul Kulon).
-
Sabtu: Berkedudukan di arah Selatan (Kidul).
Kedudukan Pasaran (Pancawara):
-
Legi: Berkedudukan di arah Timur (Wetan) dengan simbol cahaya putih.
-
Pahing: Berkedudukan di arah Selatan (Kidul) dengan simbol cahaya merah.
-
Pon: Berkedudukan di arah Barat (Kulon) dengan simbol cahaya kuning.
-
Wage: Berkedudukan di arah Utara (Lor) dengan simbol cahaya hitam.
-
Kliwon: Berkedudukan di titik Pusat/Tengah (Pancer).Baca Juga: Kasus Nadiem Makarim Terbaru: Hakim Banding Setujui 5 Saksi Kunci Bongkar Rekayasa Putusan PN!
Nilai Neptu dan Perhitungan Weton Kelahiran
Selain menentukan posisi atau arah kedudukan, kombinasi hari dan pasaran juga menghasilkan nilai angka yang dikenal sebagai Neptu. Angka neptu inilah yang menjadi dasar utama dalam menghitung Weton atau hari lahir seseorang guna membaca watak, jodoh, hingga rezeki.
| Hari (Saptawara) | Nilai Neptu | Pasaran (Pancawara) | Nilai Neptu |
| Minggu (Akad) | 5 | Legi | 5 |
| Senin | 4 | Pahing | 9 |
| Selasa | 3 | Pon | 7 |
| Rabu | 7 | Wage | 4 |
| Kamis | 8 | Kliwon | 8 |
| Jumat | 6 | - | - |
| Sabtu | 9 | - | - |
Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada hari Senin Kliwon memiliki nilai neptu total sebesar 12 (Senin = 4, Kliwon = 8). Perhitungan neptu ini dipergunakan oleh para sepuh untuk memberikan nasihat agar seseorang tidak menerjang pantangan yang dapat merugikan dirinya sendiri.
Penerapan Tata Cara Berhadapan dan Etika Perjalanan
Dalam penerapannya sehari-hari, konsep ini memberikan pedoman posisi fisik ketika seseorang hendak bernegosiasi, berembuk, atau melangsungkan hajatan penting. Para tetua mengajarkan prinsip bahwa manusia tidak boleh "mengungkuri" atau membelakangi arah kedudukan hari yang sedang berlangsung.
Misalnya, pada hari Jumat di mana kedudukan hari berada di arah Barat Daya, seseorang disarankan untuk mengambil posisi duduk di sebelah Timur dan menghadap ke arah Barat. Berhadapan langsung dengan arah kedudukan hari dianggap melambangkan sikap menghormati alam, menjaga fokus, dan mempermudah tercapainya kesepakatan yang saling menguntungkan.
Meskipun sistem perhitungan ini cukup rumit—karena harus memadukan hari, pasaran, wuku, hingga bulan—masyarakat Jawa memandangnya sebagai perpustakaan pribadi dan warisan kearifan lokal. Di era modern saat ini, menjaga tradisi petungan tersebut tetap dihayati sebagai bentuk mawas diri, ikhtiar spiritual, serta penghormatan terhadap ajaran lisan para sepuh demi mewujudkan kehidupan yang selamat, tentram, dan rahayu.
Baca Juga: Jokowi Bawa Ijazah ke Persidangan, dari SD hingga S1: Siap Tunjukkan di Depan Hakim
course: Youtube @PadepokantirtoRoso
Editor : Erlin Nur Azizah