JAKARTA - Dalam tradisi perhitungan weton masyarakat Jawa, memilih hari dan arah ketika hendak melaksanakan hajat besar tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Setiap hari dan pasaran dipercaya memiliki pusat kekuatan (jayane dina) sekaligus titik kelemahan atau arah kematian (patine dina) yang perlu diperhitungkan secara cermat.
Memahami cara menghitung Naga Dina dan Patine Dina menjadi kunci penting agar setiap langkah kehidupan—mulai dari berdagang, memboyong pengantin, hingga pindah rumah—dapat berjalan lancar dan terhindar dari marabahaya.
Konsep Naga Dina merujuk pada titik kedudukan atau pusat kekuatan hari (lungguhe dina). Arah yang ditempati oleh Naga Dina merupakan arah kejayaan yang membawa keberkahan dan kelancaran rezeki. Sebaliknya, Patine Dina dianggap sebagai arah "kuburan" atau jati ngarang yang harus dihindari. Melangkah ke arah Patine Dina saat menggelar acara besar dipercaya dapat memicu kerugian, kehampaan, maupun rintangan berat.
Baca Juga: Ijazah Jokowi Disorot Lagi, 20 Dokumen UGM Diminta dan Putusan PTUN Jadi Sorotan
Oleh karena itu, menguasai cara menghitung Naga Dina dan Patine Dina merupakan bentuk kehati-hatian (pituduh) agar manusia selalu bergerak selaras dengan energi alam semesta. Perhitungan ini diawali dengan mengetahui nilai angka neptu dari hari (Saptawara) dan pasaran (Pancawara).
Rumus Menghitung Neptu Hari dan Pasaran
Langkah dasar dalam cara menghitung Naga Dina dan Patine Dina adalah menjumlahkan neptu hari dan neptu pasaran. Berikut adalah daftar patokan nilai neptu Jawa:
-
Neptu Hari: Minggu (5), Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9).
-
Neptu Pasaran: Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8).
Sebagai gambaran kasus, kita ambil contoh kombinasi hari Sabtu Legi. Nilai neptu Sabtu Legi adalah 14 (Sabtu = 9, Legi = 5).
Baca Juga: Nadiem Makarim Ungkap Fakta Baru di Pledoi: Pemilihan Chrome OS Justru Hemat Negara Rp3,9 Triliun!
Menentukan Arah Kejayaan (Naga Dina)
Untuk menemukan titik kejayaan atau posisi Naga Dina, hitungan angka neptu diurutkan melingkar searah jarum jam mulai dari arah Timur (wetan/kawitan) sebagai titik awal. Urutan arahnya adalah: Timur -> Selatan -> Barat -> Utara.
Pada contoh Sabtu Legi (neptu 14), penjelajahan hitungan dilakukan sebanyak 14 kali mulai dari Timur:
-
Timur, 2. Selatan, 3. Barat, 4. Utara
-
Timur, 6. Selatan, 7. Barat, 8. Utara
-
Timur, 10. Selatan, 11. Barat, 12. Utara
-
Timur, 14. Selatan.
Hitungan ke-14 jatuh di Selatan. Artinya, pusat kekuatan (jayane dina) pada hari Sabtu Legi berada di arah Selatan.
Baca Juga: Nadiem Makarim Ungkap Fakta Baru di Pledoi: Pemilihan Chrome OS Justru Hemat Negara Rp3,9 Triliun!
Menentukan Arah Pantangan (Patine Dina)
Guna mencari arah Patine Dina, langkah pertama adalah menghitung mundur kombinasi hari dan pasaran pematuknya sebanyak nilai neptu.
-
Hitung urutan 14 hari mulai dari Sabtu $\rightarrow$ jatuh pada hari Sabtu.
-
Hitung urutan 14 pasaran mulai dari Legi $\rightarrow$ jatuh pada pasaran Kliwon.
Dari langkah tersebut, didapatkan pasangannya yaitu Sabtu Kliwon. Selanjutnya, hitung total neptu Sabtu Kliwon (Sabtu 9 + Kliwon 8 = 17). Angka 17 ini kemudian dihitung kembali mulai dari arah Timur:
-
Hitungan ke-17 dari Timur $\rightarrow$ jatuh tepat di arah Timur.
Dengan demikian, Patine Dina untuk hari Sabtu Legi berada di arah Timur. Jika seseorang bermaksud membuka usaha atau berdagang pada hari Sabtu Legi menuju ke arah Timur, dikhawatirkan usahanya akan hampa tanpa hasil karena menuju ke arah "kuburan" hari.
Pemahaman mengenai arah kejayaan dan pantangan ini merupakan sarana ikhtiar agar manusia modern senantiasa berhati-hati, menghargai waktu, dan menjaga keselarasan batin dalam setiap urusan kehidupan.
Baca Juga: Dr Tifa Mundur dari Polemik Ijazah Jokowi, Besok Hadapi Praperadilan: Ini Status Hukumnya
course: Youtube @mbahyadichannel4123
Editor : Erlin Nur Azizah