JAKARTA - Di tengah gempuran modernisasi dan pergeseran nilai budaya, eksistensi tradisi hitungan Jawa atau petung Kejawen kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat modern. Kendati tidak sedikit pihak yang menilai perhitungan weton dan jodoh sudah tidak relevan lagi, para tokoh dan sesepuh adat Jawa terus berkomitmen merawat warisan leluhur tersebut agar tidak punah ditelan zaman.
Fenomena lunturnya pemahaman masyarakat terhadap tradisi petung Jawa menjadi perhatian serius bagi praktisi budaya. Banyak generasi muda yang kini enggan menggunakan perhitungan Jawa saat hendak menggelar hajatan besar, seperti menentukan hari pernikahan, kecocokan pasangan, hingga membuka usaha. Hal ini memicu keprihatinan dari para pengemban adat Kejawen yang menilai bahwa tatanan tersebut bukanlah sekadar mitos, melainkan sistem nilai dan norma spiritual yang sarat akan kearifan lokal.
Menurut sesepuh adat Jawa, perhitungan Kejawen memiliki filosofi yang mendalam dan tidak boleh diabaikan begitu saja oleh mereka yang tinggal di tanah Jawa. Setiap langkah dalam hidup manusia, mulai dari menjodohkan anak hingga membaca potensi pergerakan energi musiman, memiliki tatanan atau uger-uger tersendiri. Mengabaikan petung sama halnya dengan menghilangkan tatanan hidup yang telah disusun rapi oleh para leluhur untuk menjaga keselamatan serta keharmonisan alam.
Baca Juga: Sidang Korupsi Nadiem Makarim Selesai, Majelis Hakim Jadwalkan Pembacaan Putusan 30 Juni!
Kendati demikian, para praktisi Kejawen menegaskan bahwa tradisi hitungan Jawa tidak bersifat memaksakan kehendak. Jika ada pihak yang memilih untuk tidak mempercayai atau mempergunakannya, hal tersebut dikembalikan pada keyakinan masing-masing.Namun bagi masyarakat yang merasa lahir dan hidup di tanah Jawa, menghormati dan nguri-uri (melestarikan) kebudayaan Jawa adalah sebuah kewajiban moral untuk menjunjung tinggi derajat para leluhur.
Langkah konkret pelestarian budaya ini juga diwujudkan melalui pembentukan wadah edukasi bagi generasi muda. Melalui kegiatan seni tradisi seperti macapatan dan diskusi kebudayaan, anak-anak muda diajak untuk mengenal kembali falsafah Jawa.Salah satu bentuk kearifan lokal yang diajarkan adalah Kidung Rumeksa ing Wengi, sebuah doa dan tembang spiritual yang diyakini mengandung daya perlindungan dari berbagai marabahaya, penyakit, serta niat jahat.
Baca Juga: Dokter Tifa Tegaskan Tak Lari dari Polemik Ijazah Jokowi, Praperadilan Jadi Sorotan
Upaya menjaga eksistensi Kejawen kini semakin mendapatkan angin segar seiring adanya payung hukum bagi organisasi penghayat kepercayaan. Dengan naungan lembaga seperti Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), para penggiat budaya kini dapat secara terbuka melestarikan tradisi Jawa tanpa harus merasa ragu atau terpinggirkan.
Generasi muda diharapkan tidak alergi terhadap tradisi lokal dan mau mempelajari filosofi di balik hitungan Jawa. Menjaga petung dan ajaran Kejawen bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan sebuah ikhtiar untuk merawat identitas serta akar kebudayaan di tengah arus globalisasi yang makin deras.
Baca Juga: Jalani Operasi ke-5 Saat Ditahan, Nadiem Makarim Terharu Diizinkan Rawat Jalan Bersama Anak!
course: Youtube @gadingjowo
Editor : Erlin Nur Azizah