Nogo Dino dalam Tradisi Jawa, Ini Cara Menentukan Arah yang Dianggap Kurang Baik

Ayu Nur Laily • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:20 WIB

 

 

Nogo Dino merupakan tradisi perhitungan Jawa berdasarkan arah mata angin dan bulan Jawa. Simak pembagian posisi naga dan cara menghitungnya.
Nogo Dino merupakan tradisi perhitungan Jawa berdasarkan arah mata angin dan bulan Jawa. Simak pembagian posisi naga dan cara menghitungnya.

 

JAKARTA - Nogo Dino menjadi salah satu perhitungan tradisional Jawa yang masih dikenal masyarakat, terutama ketika seseorang hendak menentukan waktu untuk acara penting seperti lamaran atau pernikahan. Perhitungan ini berkaitan dengan posisi simbolis naga berdasarkan bulan dalam kalender Jawa dan arah mata angin.

Dalam tradisi tersebut, Nogo Dino dibagi berdasarkan empat arah utama, yakni timur, selatan, barat, dan utara. Setiap kelompok tiga bulan Jawa memiliki posisi naga yang berbeda. Karena itu, masyarakat yang masih menggunakan perhitungan ini biasanya memperhatikan arah perjalanan atau lokasi calon pengantin sebelum menentukan waktu pelaksanaan.

Pembahasan mengenai Nogo Dino tersebut kembali dijelaskan dalam sebuah video dari kanal YouTube Kandhakno Wong. Penjelasan ditujukan terutama bagi masyarakat yang baru mengenal perhitungan tradisional ini agar lebih mudah memahami cara menentukan posisi naga berdasarkan bulan Jawa.

Baca Juga: Weton Rabu Pon Disebut Punya Energi Spiritual Tinggi, Ini Karakter dan Jodohnya

Empat Arah dalam Perhitungan Nogo Dino

Dalam penjelasan tersebut, empat arah mata angin menjadi dasar utama. Arah timur dalam bahasa Jawa dikenal sebagai wetan, selatan sebagai kidul, barat sebagai kulon, dan utara sebagai lor.

Perputaran posisi Nogo Dino dimulai dari arah timur. Tiga bulan pertama kalender Jawa, yakni Suro, Sapar, dan Mulud, dikaitkan dengan posisi naga di timur.

Setelah tiga bulan tersebut, posisi naga berpindah ke arah selatan. Perubahan itu terjadi pada bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir.

Berikutnya, naga berada di arah barat pada bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso. Setelah itu, posisi naga berpindah lagi ke arah utara pada bulan Syawal, Apit, dan Besar.

Dengan demikian, satu tahun kalender Jawa dalam perhitungan tersebut dibagi menjadi empat bagian berdasarkan arah posisi naga.

Arah Perjalanan Menjadi Perhatian

Salah satu contoh yang diberikan berkaitan dengan seseorang yang hendak melamar calon pasangan. Misalnya, rumah pihak laki-laki berada di utara, sedangkan rumah pihak perempuan berada di selatan.

Jika pelaksanaan lamaran dilakukan ketika posisi Nogo Dino berada di selatan, perjalanan dari utara menuju selatan dianggap tidak sesuai dengan perhitungan tersebut. Dalam penjelasan video, masyarakat yang mengikuti tradisi ini disarankan memilih waktu lain ketika posisi naga sudah berpindah.

Hal serupa berlaku untuk perjalanan dari timur menuju barat. Ketika posisi Nogo Dino berada di barat, arah tersebut dianggap perlu diperhatikan oleh orang yang hendak melakukan perjalanan untuk keperluan tertentu.

Baca Juga: Modus Rekayasa Juknis di Kasus Chromebook Nadiem Makarim: Spesifikasi Dikunci demi Merek Tertentu!

Tidak Sekadar Menentukan Tanggal

Perhitungan Nogo Dino menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Jawa tidak hanya mempertimbangkan tanggal ketika menentukan waktu acara penting. Arah perjalanan juga menjadi bagian dari pertimbangan tradisional.

Meski demikian, Nogo Dino merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa. Penggunaannya sangat bergantung pada keyakinan masing-masing keluarga.

Bagi masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur, memahami pembagian posisi Nogo Dino dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal kembali warisan budaya Jawa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

JAKARTA - Nogo Dino menjadi salah satu perhitungan tradisional Jawa yang masih dikenal masyarakat, terutama ketika seseorang hendak menentukan waktu untuk acara penting seperti lamaran atau pernikahan. Perhitungan ini berkaitan dengan posisi simbolis naga berdasarkan bulan dalam kalender Jawa dan arah mata angin.

Dalam tradisi tersebut, Nogo Dino dibagi berdasarkan empat arah utama, yakni timur, selatan, barat, dan utara. Setiap kelompok tiga bulan Jawa memiliki posisi naga yang berbeda. Karena itu, masyarakat yang masih menggunakan perhitungan ini biasanya memperhatikan arah perjalanan atau lokasi calon pengantin sebelum menentukan waktu pelaksanaan.

Pembahasan mengenai Nogo Dino tersebut kembali dijelaskan dalam sebuah video dari kanal YouTube Kandhakno Wong. Penjelasan ditujukan terutama bagi masyarakat yang baru mengenal perhitungan tradisional ini agar lebih mudah memahami cara menentukan posisi naga berdasarkan bulan Jawa.

Empat Arah dalam Perhitungan Nogo Dino

Dalam penjelasan tersebut, empat arah mata angin menjadi dasar utama. Arah timur dalam bahasa Jawa dikenal sebagai wetan, selatan sebagai kidul, barat sebagai kulon, dan utara sebagai lor.

Perputaran posisi Nogo Dino dimulai dari arah timur. Tiga bulan pertama kalender Jawa, yakni Suro, Sapar, dan Mulud, dikaitkan dengan posisi naga di timur.

Setelah tiga bulan tersebut, posisi naga berpindah ke arah selatan. Perubahan itu terjadi pada bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir.

Berikutnya, naga berada di arah barat pada bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso. Setelah itu, posisi naga berpindah lagi ke arah utara pada bulan Syawal, Apit, dan Besar.

Dengan demikian, satu tahun kalender Jawa dalam perhitungan tersebut dibagi menjadi empat bagian berdasarkan arah posisi naga.

Baca Juga: Modus Rekayasa Juknis di Kasus Chromebook Nadiem Makarim: Spesifikasi Dikunci demi Merek Tertentu!

Arah Perjalanan Menjadi Perhatian

Salah satu contoh yang diberikan berkaitan dengan seseorang yang hendak melamar calon pasangan. Misalnya, rumah pihak laki-laki berada di utara, sedangkan rumah pihak perempuan berada di selatan.

Jika pelaksanaan lamaran dilakukan ketika posisi Nogo Dino berada di selatan, perjalanan dari utara menuju selatan dianggap tidak sesuai dengan perhitungan tersebut. Dalam penjelasan video, masyarakat yang mengikuti tradisi ini disarankan memilih waktu lain ketika posisi naga sudah berpindah.

Hal serupa berlaku untuk perjalanan dari timur menuju barat. Ketika posisi Nogo Dino berada di barat, arah tersebut dianggap perlu diperhatikan oleh orang yang hendak melakukan perjalanan untuk keperluan tertentu.

Tidak Sekadar Menentukan Tanggal

Perhitungan Nogo Dino menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Jawa tidak hanya mempertimbangkan tanggal ketika menentukan waktu acara penting. Arah perjalanan juga menjadi bagian dari pertimbangan tradisional.

Meski demikian, Nogo Dino merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa. Penggunaannya sangat bergantung pada keyakinan masing-masing keluarga.

Bagi masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur, memahami pembagian posisi Nogo Dino dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal kembali warisan budaya Jawa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

 

 

source:youtube @KANDHAKNOWONG

Editor : Ayu Nur Laily
arah mata angin Tradisi Jawa Primbon Jawa Nogo Dino kalender jawa