JAKARTA - Bulan baik pindah rumah menurut Primbon Jawa kembali menjadi perbincangan masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur dalam menentukan waktu penting kehidupan. Dalam ajaran Primbon Jawa, waktu pindah rumah dipercaya dapat memengaruhi keberuntungan, rezeki, hingga keselamatan penghuni rumah di masa mendatang.
Tidak semua bulan dianggap membawa energi positif. Beberapa bulan dalam kalender Jawa diyakini memiliki watak yang kurang baik sehingga sebaiknya dihindari saat hendak menempati rumah baru. Sebaliknya, ada sejumlah bulan yang dipercaya membawa keberkahan, rezeki, serta hubungan sosial yang harmonis.
Pembahasan mengenai bulan baik pindah rumah menurut Primbon Jawa disampaikan dalam sebuah video yang mengulas watak 12 bulan Jawa, mulai Muharram hingga Dzulhijjah. Penjelasan tersebut menyoroti bulan-bulan yang dinilai baik maupun kurang baik berdasarkan perhitungan tradisional Jawa.
Baca Juga: Weton Rabu Pon Disebut Punya Energi Spiritual Tinggi, Ini Karakter dan Jodohnya
Bulan yang Kurang Baik untuk Pindah Rumah
Menurut Primbon Jawa, bulan Muharram atau Suro termasuk bulan yang kurang dianjurkan untuk pindah rumah. Wataknya disebut dapat memicu keributan, huru-hara, atau berbagai musibah yang tidak diinginkan.
Selain Muharram, bulan Rabiul Awal atau Mulud juga dianggap kurang baik. Dalam perhitungan tradisional, bulan ini dikaitkan dengan kesedihan karena adanya kemungkinan kehilangan anggota keluarga yang menimbulkan duka bagi penghuni rumah.
Bulan Jumadil Awal juga masuk kategori yang sebaiknya dihindari. Wataknya disebut sangat tidak baik dibandingkan bulan lainnya. Sementara itu, Jumadil Akhir dipercaya dapat menyebabkan penghuni rumah sering mengalami sakit-sakitan.
Baca Juga: Weton Rabu Pon: 4 Pantangan yang Disebut Bisa Menghambat Rezeki Menurut Primbon Jawa
Bulan Syawal juga dianggap kurang menguntungkan. Dalam hitungan Primbon Jawa, pindah rumah pada bulan ini dikaitkan dengan risiko terjadinya kebakaran atau musibah yang berkaitan dengan api.
Bulan yang Dianggap Membawa Keberuntungan
Di sisi lain, terdapat beberapa bulan yang dipercaya membawa keberuntungan bagi penghuni rumah. Bulan Safar menjadi salah satu yang direkomendasikan karena diyakini membuat penghuni rumah lebih disegani dan dihormati oleh banyak orang.
Bulan Rabiul Akhir juga dinilai baik karena dipercaya mendatangkan banyak orang yang menyayangi dan mendukung penghuni rumah. Hubungan sosial dengan tetangga maupun kerabat diyakini menjadi lebih harmonis.
Baca Juga: Weton Rabu Pon Usia 24-30 Tahun Disebut Puncak Rezeki, Ini Fase yang Perlu Diwaspadai
Bulan Rajab termasuk waktu yang dianggap membawa energi positif. Menurut Primbon Jawa, penghuni rumah yang pindah pada bulan ini akan memperoleh kasih sayang dari lingkungan sekitar.
Keberuntungan yang lebih besar dipercaya hadir pada bulan Sya'ban atau Ruwah. Bulan ini disebut mampu mendatangkan rezeki yang melimpah dan kelancaran dalam berbagai urusan kehidupan.
Tak hanya itu, bulan Ramadan juga dianggap sangat baik untuk pindah rumah. Dalam penjelasan Primbon Jawa, bulan ini dikaitkan dengan datangnya rezeki berlimpah serta keselamatan bagi penghuni rumah.
Baca Juga: Di Balik Kasus Chromebook Nadiem Makarim: Ada Deal Co-Investment 30% Google dan Peran Stafsus!
Sementara itu, bulan Dzulkaidah dipercaya membuat penghuni rumah lebih disayangi keluarga dan kerabat. Adapun bulan Dzulhijjah atau Besar diyakini membawa pertolongan dari sesama, baik tetangga, teman, maupun saudara.
Faktor Lain Selain Memilih Bulan
Meski demikian, pemilihan bulan bukan satu-satunya faktor yang diperhatikan dalam tradisi Primbon Jawa. Penentuan arah Nogo Dino serta berbagai persiapan khusus juga sering menjadi pertimbangan sebelum pindah rumah.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menggelar pengajian, selamatan, atau setidaknya doa bersama keluarga ketika menempati rumah baru. Tradisi tersebut dipercaya menjadi ikhtiar untuk memohon keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi seluruh penghuni rumah.
Hingga kini, kepercayaan mengenai bulan baik dan buruk untuk pindah rumah masih menjadi bagian dari budaya Jawa yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, terutama bagi masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Korupsi Pendidikan Terbesar! Kasus Chromebook Nadiem Makarim Sedot Uang Negara Rp1,98 Triliun
Course: Youtube @sabdaningratu6584
Editor : Erlin Nur Azizah