JAKARTA- Nogo Dino merupakan salah satu istilah yang dikenal dalam pembahasan primbon dan tradisi masyarakat Jawa. Perhitungan tersebut berkaitan dengan waktu serta arah yang dipercaya memiliki posisi tertentu.
Dalam konsep Nogo Dino, Nogo atau naga digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan posisi berdasarkan periode tertentu. Posisi tersebut kemudian dihubungkan dengan empat arah utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara.
Bagi sebagian masyarakat yang masih mempertahankan tradisi, Nogo Dino dapat digunakan sebagai pertimbangan sebelum melakukan perjalanan maupun kegiatan tertentu. Salah satunya adalah memperhatikan arah yang dipercaya menjadi posisi Nogo.
Baca Juga: Weton Rabu Pon Disebut Punya Energi Spiritual Tinggi, Ini Karakter dan Jodohnya
Naga sebagai Simbol Tradisi
Naga dikenal dalam berbagai cerita dan simbol kebudayaan di Nusantara. Dalam masyarakat Jawa, gambaran naga juga dapat ditemukan dalam berbagai tradisi.
Pada Nogo Dino, naga tidak harus dipahami secara harfiah sebagai makhluk yang benar-benar berada di suatu tempat.
Naga digunakan sebagai simbol dalam sebuah perhitungan tradisional. Posisi simbol tersebut kemudian dikaitkan dengan waktu dan arah.
Dengan konsep tersebut, masyarakat dapat menentukan arah mana yang perlu diperhatikan ketika hendak melakukan perjalanan.
Empat Arah Menjadi Dasar PerhitunganTimur, selatan, barat, dan utara merupakan empat arah utama dalam pembahasan Nogo Dino.Posisi Nogo dipercaya berubah mengikuti waktu atau periode tertentu. Karena itu, arah yang perlu diperhatikan juga dapat berubah.
Seseorang yang hendak bepergian kemudian dapat membandingkan arah tujuan dengan posisi Nogo berdasarkan perhitungan yang digunakan. Dalam kepercayaan tradisional, arah yang menjadi posisi Nogo dianggap sebagai arah yang perlu dihindari dalam kegiatan tertentu. Apa yang Dimaksud Pantangan Arah?Pantangan arah dalam konteks Nogo Dino merupakan bagian dari kepercayaan tradisional.
Sebagian masyarakat menganggap perjalanan menuju arah tertentu perlu ditunda apabila arah tersebut dianggap berhadapan dengan posisi Nogo. Namun, penerapannya tidak selalu sama. Ada keluarga yang masih memegang aturan tersebut dengan kuat, sementara keluarga lain hanya mengenalnya sebagai tradisi.
Baca Juga: Di Balik Kasus Chromebook Nadiem Makarim: Ada Deal Co-Investment 30% Google dan Peran Stafsus!
Karena itu, istilah pantangan sebaiknya dipahami dalam konteks kepercayaan, bukan sebagai larangan yang berlaku bagi seluruh masyarakat.
Perbedaan Pakem di Masyarakat
Masyarakat Jawa memiliki tradisi yang sangat beragam. Perbedaan wilayah dan keluarga membuat pengetahuan mengenai primbon juga dapat memiliki variasi.Cara menentukan posisi Nogo, waktu yang digunakan, hingga penerapan dalam perjalanan dapat berbeda sesuai sumber yang menjadi acuan.Hal tersebut penting diperhatikan agar pembaca tidak menganggap setiap perhitungan Nogo Dino harus menghasilkan aturan yang sama Jika seseorang ingin mengikuti tradisi tersebut, sumber atau pakem keluarga sebaiknya menjadi rujukan utama.Nogo Dino di Era Modern
Kemajuan teknologi membuat masyarakat kini memiliki banyak cara untuk mempersiapkan perjalanan. Informasi mengenai cuaca, kondisi jalan, transportasi, dan lokasi dapat diperoleh dengan mudah.
Meski demikian, tradisi seperti Nogo Dino masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Bagi sebagian orang, tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap pengetahuan leluhur. Sementara bagi yang lain, Nogo Dino menjadi bagian dari budaya yang menarik untuk dipelajari.
Tradisi dan kehidupan modern dapat berjalan berdampingan selama masyarakat tetap mampu menempatkan kepercayaan budaya dengan bijak.
source: youtube @KANDHAKNOWONG
Editor : Ayu Nur Laily