KOTA, Radar Trenggalek – Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 (FJTT 2026) kembali digelar tahun ini. Memasuki penyelenggaraan ke-30, festival tersebut membawa catatan penting. FJTT 2026 resmi masuk dalam kalender nasional Karisma Event Nusantara (KEN), program Kementerian Pariwisata.
Masuknya FJTT 2026 dalam KEN menjadi pembeda dibanding penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Event budaya yang digelar pada 20-26 September itu kini mendapatkan dukungan dan pengawalan lebih luas.
Mulai Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, hingga Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Timur.
FJTT diajukan sebagai salah satu event KEN sejak tahun lalu. Proses pengajuan dilakukan bersama komunitas budaya dengan mengusung konsep festival jaranan sebagai ruang pelestarian sekaligus promosi kesenian tradisional.
“Tahun ini, FJTT 2026 menjadi satu dari 113 event yang terpilih masuk KEN. Jumlah tersebut merupakan hasil kurasi dari sekitar 3.000 event yang diajukan dari berbagai daerah di Indonesia,” terang Plt Disparbud Trenggalek, Tony Widianto, Jumat (18/9).
Baca Juga: Jaranan Harus Terus Hidup
Dia mengaku eksposurnya tentu tahun ini berbeda karena dikawal oleh Kementerian Pariwisata. Media yang terlibat juga ada media nasional.
FJTT 2026 tidak hanya menampilkan Turonggo Yakso yang menjadi kesenian khas Trenggalek. Embel-embel “Terbuka” dalam festival tersebut memberikan ruang bagi berbagai bentuk kesenian jaranan dari daerah lain.
Hal itu terlihat dari keikutsertaan sejumlah grup dari luar Trenggalek. Di antaranya berasal dari Surabaya, Batu, Malang, Blitar, Kediri, Ponorogo, hingga Tulungagung.
Selain Turonggo Yakso, peserta juga membawa karakteristik kesenian masing-masing, seperti Jaranan Sengterewe, Jaranan Dor, Jaranan Breng, dan berbagai bentuk jaranan lainnya.
“Terbuka di sini memang untuk beberapa kategori jaranan. Tidak hanya Turonggo Yakso sebagai kesenian khas Trenggalek, tetapi juga jaranan non-Turonggo Yakso,” jelasnya.
Pada FJTT 2026 terdapat empat kategori perlombaan. Yakni, Turonggo Yakso Bocah yang diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar dengan 17 peserta. Kemudian, kategori Turonggo Yakso Remaja untuk siswa SMP yang juga diikuti 17 grup.
Sementara untuk kategori SMA dan umum terdapat dua kelas. Yakni, Turonggo Yakso Umum dengan sembilan peserta serta Non-Turonggo Yakso SMA/Umum yang diikuti 15 peserta.
Sebagian besar peserta kategori bocah dan remaja berasal dari Trenggalek. Peserta kategori umum melibatkan sanggar maupun grup jaranan dari luar daerah.
Selain kompetisi, FJTT 2026 juga dirangkai dengan pameran jaranan. Pameran tersebut tidak sekadar menampilkan benda atau atribut kesenian, tetapi juga menyajikan informasi mengenai karakteristik, sejarah, hingga perkembangan budaya jaranan.
Kegiatan pendukung juga diisi sarasehan dan sosialisasi. Rangkaian tersebut diharapkan menjadi sarana literasi dan edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal warisan budaya Trenggalek dan wilayah Mataraman.
Baca Juga: Naylatul Lestari Lewat Tari, Temukan Ruang Ekspresi Bisa Percaya Diri
“Harapannya, siswa-siswa sekolah juga bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenali warisan budaya Kabupaten Trenggalek dan wilayah Mataraman pada umumnya,” ujarnya.
Seluruh pertunjukan FJTT 2026 dijadwalkan berlangsung pada malam hari. Kegiatan dimulai sekitar pukul 19.00 atau setelah salat Isya hingga sekitar pukul 22.00 dan maksimal pukul 23.00.
Berbeda dengan konsep penyelenggaraan sebelumnya, tahun ini pengunjung juga akan dikenakan sistem ticketing pada area tertentu. Tiket tersebut merupakan inisiatif komunitas dan event organizer yang membantu penyelenggaraan FJTT 2026.
Penerapan ticketing tersebut dilakukan untuk mendukung penyelenggaraan event yang lebih tertib, memberikan kenyamanan kepada pengunjung, sekaligus membantu panitia mencatat statistik jumlah dan karakteristik kunjungan.
Untuk kelas reguler, masyarakat tetap dapat menyaksikan festival secara gratis. Sementara tiket berbayar tersedia untuk area VIP dan VVIP.
Tiket VIP dibanderol Rp 25 ribu, sedangkan VVIP Rp 55 ribu. Pembelian tiket dapat dilakukan secara daring maupun langsung di lokasi.
Penambahan peserta menjadi salah satu catatan dalam penyelenggaraan tahun ini. Kategori bocah dan remaja mengalami peningkatan sekitar tiga hingga empat grup dibanding tahun sebelumnya. Sementara peserta non-Turonggo Yakso juga bertambah sekitar dua grup.
Peserta dari luar daerah mendaftar secara mandiri. Publikasi melalui jejaring komunitas serta media sosial khusus FJTT 2026 menjadi salah satu sarana untuk menjangkau pelaku jaranan di berbagai daerah.
Ke depan, FJTT 2026 diharapkan tetap menjadi wadah berekspresi bagi pelaku jaranan sekaligus ruang untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kesenian tradisional.
“Dengan bertambahnya peserta, berarti animo terhadap jaranan semakin bertambah. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa mewadahi lebih banyak peserta dengan format yang lebih bagus, durasi lebih lama, dan dukungan pembiayaan yang lebih baik,” pungkasnya. (mal/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK