TRENGGALEK NJENGGALEK - Naga dina dan patine dina menjadi bagian dari tradisi perhitungan weton Jawa yang masih dikenal masyarakat hingga sekarang. Keduanya dipercaya memiliki makna berbeda dalam menentukan arah yang dianggap membawa keberuntungan atau sebaiknya dihindari saat menjalankan aktivitas penting. Mulai dari berdagang, menggelar pernikahan, hingga pindah rumah, perhitungan ini menjadi salah satu pedoman tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Lantas, bagaimana cara menghitung naga dina dan patine dina berdasarkan hari serta pasaran Jawa?
Pembahasan mengenai tradisi tersebut disampaikan melalui kanal YouTube Balek Kambang TV. Dalam penjelasannya, masyarakat yang masih menggunakan perhitungan weton dianjurkan memahami nilai neptu hari dan pasaran terlebih dahulu sebelum menentukan posisi naga dina maupun patine dina.
Mengenal Naga Dina dalam Perhitungan Weton Jawa
Dalam tradisi Jawa, naga dina dijelaskan sebagai kekuatan atau posisi hari yang dipercaya memiliki pengaruh terhadap aktivitas seseorang. Arah tempat naga dina berada dianggap sebagai posisi yang membawa kekuatan atau kejayaan berdasarkan perhitungan tertentu.
Untuk mengetahuinya, seseorang perlu menjumlahkan nilai neptu hari kelahiran dengan nilai neptu pasaran. Hasil penjumlahan tersebut kemudian dihitung berdasarkan empat arah mata angin, yakni timur, selatan, barat, dan utara.
Perhitungan dimulai dari timur atau wetan dalam bahasa Jawa. Arah tersebut juga dimaknai sebagai wiwitan, yang berarti permulaan.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Jadi Sorotan Dunia Balap, Ini Perjalanan dan Prestasinya di Moto3 2026
Nilai neptu hari dalam perhitungan tersebut adalah Minggu lima, Senin empat, Selasa tiga, Rabu tujuh, Kamis delapan, Jumat enam, dan Sabtu sembilan.
Sementara itu, nilai neptu pasaran terdiri atas Legi lima, Pahing sembilan, Pon tujuh, Wage empat, dan Kliwon delapan.
Kedua nilai tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan angka yang menjadi dasar penentuan posisi naga dina.
Contoh Menghitung Naga Dina Sabtu Legi
Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan weton Sabtu Legi memiliki nilai neptu 14. Angka tersebut diperoleh dari neptu Sabtu sembilan ditambah neptu Legi lima.
Selanjutnya, angka 14 dihitung dengan urutan arah mata angin yang dimulai dari timur, selatan, barat, dan utara secara berulang.
Berdasarkan contoh dalam video, perhitungan tersebut menghasilkan posisi naga dina di selatan. Dengan demikian, arah selatan dipercaya menjadi posisi kekuatan hari bagi weton Sabtu Legi.
Perhitungan seperti ini merupakan bagian dari kepercayaan tradisional masyarakat Jawa. Hasilnya dapat berbeda bergantung pada weton yang digunakan sebagai dasar penghitungan.
Patine Dina dan Arah yang Dipercaya Perlu Dihindari
Selain naga dina, terdapat istilah patine dina yang juga dikenal dalam tradisi perhitungan Jawa. Jika naga dina dikaitkan dengan kekuatan hari, patine dina dimaknai sebagai posisi yang sebaiknya dihindari ketika seseorang hendak melaksanakan kegiatan besar.
Dalam penjelasan Balek Kambang TV, patine dina dikaitkan dengan istilah kematian hari atau kuburan hari. Karena itu, masyarakat yang mempercayai perhitungan tersebut biasanya berusaha menghindari arah patine dina ketika menggelar hajatan, pindah rumah, atau memulai kegiatan mencari rezeki.
Cara menghitungnya dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, tentukan jumlah neptu hari dan pasaran. Kedua, gunakan hasil penjumlahan itu untuk menghitung posisi hari dalam urutan tujuh hari. Ketiga, hitung posisi pasaran dengan urutan Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Pada contoh Sabtu Legi, perhitungan patine dina menghasilkan Sabtu Kliwon. Neptu Sabtu Kliwon adalah 17, yakni sembilan ditambah delapan.
Angka tersebut kemudian dihitung kembali menggunakan urutan arah timur, selatan, barat, dan utara. Hasilnya, posisi patine dina untuk contoh Sabtu Legi berada di timur.
Tradisi yang Perlu Dipahami secara Bijak
Pemahaman mengenai naga dina dan patine dina memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa mempertahankan tradisi perhitungan hari dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang masih dipelajari oleh sebagian masyarakat, terutama mereka yang menjalankan tradisi weton.
Meski demikian, kepercayaan mengenai arah keberuntungan dan pantangan hari merupakan bagian dari tradisi budaya, bukan metode ilmiah yang terbukti menentukan keberhasilan seseorang.
Baca Juga: Honda CR-V Turbo Bekas Makin Menggoda, Harga Rp300 Jutaan Bisa Dapat SUV Mewah!
Karena itu, masyarakat dapat mempelajarinya sebagai pengetahuan budaya sekaligus tetap mempertimbangkan faktor nyata ketika mengambil keputusan, seperti kesiapan finansial, keselamatan, kondisi lingkungan, dan perencanaan kegiatan.
Sumber : pinterest